Suara ketiga itu menghantui Reksa selama berhari-hari. Tapi ia memaksa dirinya menyimpannya, menggantungnya seperti pertanyaan yang belum waktunya dijawab, karena ada hal yang lebih mendesak: membuktikan bahwa serah-terima dalam rekaman itu bukan kejadian tunggal, melainkan pola yang masih berdetak sampai hari ini.
"Rekaman Dimas itu lama," kata Sari, menatap kalender murahan yang mereka tempel di dinding kos. "Pengacara akan bilang itu masa lalu, sudah lewat, sudah berubah. Kita butuh sesuatu yang hidup. Sekarang. Kalau pola 'tas uang akhir bulan' itu masih jalan, kita harus tangkap satu yang sedang berlangsung. Foto. Video. Bukti bahwa ini bukan cerita lama, tapi kejahatan yang masih bernapas tiap bulan."
Reksa mengangguk. Akhir bulan tinggal lima hari lagi.
Tapi ia juga ingat kesalahan bab pelabuhan dulu, malam ia hampir mati di antara peti kemas. Mereka tahu ia di sana. Ponselnya yang menyala. Cahaya yang terlihat. Pola pengamatan yang bisa diraba. Mereka selalu mengawasi, dan setiap pengintaian yang ceroboh adalah undangan ke kuburan.
"Kali ini beda," kata Reksa. "Kali ini kita nggak mengintai dengan badan kita di sana. Terlalu bahaya. Kita sudah jadi buron, wajah kita ada di mana-mana. Kalau kita yang berdiri di balik kontainer, kita selesai."
"Lalu bagaimana?"
Reksa membuka catatannya. Selama berhari-hari, dengan jalur Pram dan kesabaran anak pedagang, ia sudah memetakan pola lama serah-terima: bukan di gudang pelabuhan langsung, terlalu mencolok, melainkan di sebuah titik transit, sebuah ruko sepi di pinggir kawasan, yang dipakai sebagai tempat tas uang berpindah tangan dari kurir Toni ke perantara Bhakim. Selalu di hari kerja terakhir bulan. Selalu menjelang subuh, saat jalan paling sepi dan pergantian shift jaga paling lengah.
"Kita nggak butuh berada di sana," kata Reksa. "Kita butuh mata yang sudah di sana sepanjang waktu, yang nggak akan dicurigai."
Ia menjelaskan rencananya, dan Sari mendengarkan dengan mata yang perlahan menyala oleh sesuatu yang sudah lama tidak ada di wajahnya: harapan yang dingin dan terukur. Di seberang ruko transit itu ada warung kopi tua yang buka dua puluh empat jam, tempat sopir-sopir truk dan kuli malam beristirahat. Pemiliknya, lewat jalur orang tua dermaga, ternyata punya alasan sendiri untuk membenci jaringan ini: salah satu nama di karton empat belas itu adalah keponakannya, buruh yang hilang tujuh tahun lalu.
Tidak ada kamera tersembunyi canggih, tidak ada peralatan mata-mata mahal yang tidak mereka punya. Hanya sebuah ponsel murah, dipasang di balik etalase warung yang menghadap ke seberang jalan, ditopang tumpukan bungkus rokok, lensa mengarah ke pintu ruko, merekam diam-diam sepanjang malam akhir bulan. Pemilik warung yang menyalakannya, atas permintaan yang disampaikan lewat perantara yang ia percaya. Reksa dan Sari tidak akan pernah menampakkan diri di sana sama sekali.
"Kalau ini berhasil," kata Sari pelan saat malam akhir bulan tiba, dan mereka duduk berjauhan dari lokasi, di kos, menunggu, "kita punya pola yang hidup. Rekaman lama Dimas plus video baru. Itu menunjukkan ini bukan satu kejadian, tapi sistem yang masih jalan, persis di bawah hidung kota."
Malam itu adalah malam paling panjang. Reksa tidak bisa tidur. Ia membayangkan kurir Toni datang, tas di tangan; perantara Bhakim menunggu; pertukaran cepat di pintu ruko sepi; lalu masing-masing menghilang ke dalam gelap, tanpa tahu bahwa di seberang jalan, di balik tumpukan bungkus rokok di warung kopi tua, sebuah ponsel murah merekam segalanya.
Subuh, ponsel di kos bergetar. Pesan dari perantara, hanya tiga kata yang sudah disepakati sebagai kode: "Barang dagangan datang."
Berhasil. Pertukaran terjadi. Terekam.
Reksa memejamkan mata, melepas napas yang terasa ia tahan sepanjang malam. Mereka harus menunggu sampai aman untuk mengambil rekaman itu, lewat rantai perantara yang berbelit, agar tidak ada yang bisa menelusuri balik ke mereka. Tapi untuk pertama kalinya, mereka melakukan pengamatan tanpa mempertaruhkan nyawa sendiri. Mereka belajar dari kesalahan pelabuhan. Mereka menyerang dengan kepala, bukan dengan keberanian bodoh.
"Kita berubah," kata Sari, yang juga tidak tidur, suaranya pelan di sudut gelap kamar. "Sebulan lalu kita lari ketakutan di antara kontainer. Sekarang kita yang menaruh jebakan, dan mereka nggak sadar."
Reksa menatap langit-langit kos yang berbercak, sama seperti langit-langit kontrakan pertamanya dulu, di hari-hari awal ketika ia masih bripda lugu yang baru menembak orang di hari pertamanya. Begitu banyak yang berubah. Begitu banyak yang mati. Tapi untuk pertama kalinya, benang-benang yang dulu berserak mulai mengencang di tangannya, mengarah pada satu simpul yang, kalau ia tarik dengan benar, akan menjerat mereka semua.
Hampir semua. Karena masih ada satu suara, suara ketiga di rekaman Dimas, yang belum punya wajah.