Tiga hari setelah penembakan, Reksa duduk di ruang pemeriksaan internal, menjawab pertanyaan demi pertanyaan dengan suara datar. Pembelaan diri, kesimpulannya. Bersih. Tapi ada sesuatu yang ganjil. Berkas korban diproses terlalu cepat. Nama lelaki itu, menurut dokumen, adalah Hendarta, pengangguran, tanpa keluarga yang melapor. Mayatnya dikremasi dalam dua hari atas "permintaan keluarga yang tidak ada".
Reksa tidak bisa berhenti memikirkan bungkus plastik berisi serbuk putih itu. Dalam laporan resmi, barang bukti narkoba sama sekali tidak disebut. Seolah-olah tidak pernah ada.
"Kamu yakin lihat ada paket di saku korban?" tanya Bripka Sari, satu-satunya orang di kantor yang mau duduk semeja dengannya saat makan siang. Perempuan berusia akhir tiga puluhan itu sudah dua belas tahun jadi polisi, dan matanya punya kelelahan orang yang sudah terlalu sering kecewa.
"Aku yakin," kata Reksa. "Aku menekannya, tangannya menyentuh saku itu. Serbuk putih, dibungkus plastik klip. Dan dia bilang sesuatu sebelum mati."
Sari mengaduk kopinya, tidak buru-buru. "Bilang apa?"
Reksa ragu sejenak. Lalu memutuskan. Jika ia tidak bisa percaya pada siapa pun, ia tidak akan pernah maju. "Dia bilang, mereka ada di dalam. Di kantor kita sendiri."
Sari berhenti mengaduk. Untuk sepersekian detik, ada sesuatu di matanya, sebuah pengakuan diam-diam, lalu hilang. "Hati-hati dengan kata-kata begitu, Reksa. Di sini, kalimat seperti itu bisa membuatmu dipindahtugaskan ke pos perbatasan dalam semalam. Atau lebih buruk."
Tapi Reksa tidak bisa diam. Malam itu, di rumah kontrakannya yang sempit, ia membuka catatan kecilnya. Hendarta. Tato jangkar. Serbuk putih. Kawasan Pasar Lama. Ia mulai mencari sendiri, di luar jam dinas, menyusuri kawasan tempat ia menembak.
Pasar Lama di siang hari adalah tempat lain dari malamnya. Pedagang sayur, tukang servis jam, warung kopi yang ramai sopir angkot. Reksa berbaur, berpakaian preman, membeli rokok di sebuah kios kecil sambil mengobrol santai dengan pemiliknya, seorang lelaki tua bernama Pak Wira.
"Anak muda yang ketembak minggu lalu itu," kata Reksa pelan, "katanya dia jualan."
Pak Wira melirik kiri kanan, lalu menurunkan suaranya. "Jualan, iya. Tapi bukan dia bosnya. Dia cuma kaki tangan. Anak-anak sini banyak yang ditarik kerja sama orang itu. Dikasih uang, disuruh edarkan barang. Yang nolak, hilang."
"Orang itu siapa?"
Pak Wira menggeleng cepat. "Jangan sebut namanya keras-keras di sini. Toni. Orang panggil dia Toni. Tapi kamu nggak akan bisa sentuh dia, nak. Dia punya pelindung. Pelindung berseragam."
Kata itu lagi. Berseragam.
Reksa pulang dengan kepala penuh. Ia membuka kembali laporan-laporan lama yang bisa ia akses dari sistem internal. Selama tiga tahun terakhir, kawasan Pasar Lama dan sekitarnya dipenuhi peredaran narkoba, tapi tingkat penangkapannya nyaris nol. Sesekali ada penangkapan, tapi selalu pengedar kecil, selalu orang yang gampang diganti. Tidak pernah ke atas. Tidak pernah ke Toni.
Yang lebih aneh, beberapa kali operasi narkoba yang sudah direncanakan tiba-tiba dibatalkan di menit terakhir. Atau, ketika tim datang ke lokasi, tempat itu sudah kosong, seolah seseorang memberi tahu lebih dulu.
Reksa menulis satu kata besar-besar di catatannya, lalu menggarisbawahinya dua kali.
Bocoran.
Ada yang membocorkan operasi dari dalam. Dan jika Hendarta benar, orang itu duduk di kantor yang sama dengannya, mungkin memakai seragam yang sama, mungkin tersenyum padanya di lorong setiap pagi.
Reksa menatap langit-langit kontrakannya yang berbercak. Untuk sesaat, ia teringat Pram, suaranya di hari kelulusan: simpan nomor ini, suatu hari kamu mungkin butuh satu orang di luar yang nggak bisa mereka jangkau. Dulu kalimat itu terdengar seperti melodrama. Sekarang tidak lagi. Ia tahu ia harus berhati-hati. Tapi ia juga tahu, sekali ia mulai menarik benang ini, ia tidak akan bisa berhenti. Sesuatu dalam dirinya, sesuatu yang diwariskan ayahnya, menolak untuk memejamkan mata.
Esoknya, ia mulai menyusun daftar. Diam-diam. Nama-nama operasi yang gagal. Tanggal. Siapa yang tahu rencana itu. Lingkaran kecil di kertas, makin lama makin mengarah ke satu ruangan di lantai dua kantornya.