Rumah perempuan tua itu berdiri di ujung kampung nelayan, papan-papannya kelabu dimakan garam, atap sengnya berkarat seperti seluruh kawasan ini. Namanya Bu Inah. Ia membesarkan Dimas sejak bayi, setelah ibu Dimas, tetangganya, meninggal melahirkan dan ayahnya tenggelam di laut. Bu Inah satu-satunya keluarga yang pernah Dimas punya, dan kini, dengan Dimas mati, satu-satunya yang masih mengenang lelaki muda itu sebagai sesuatu selain pengedar.
Mereka tidak datang sebagai polisi. Orang tua bertangan buntung dari warung dermaga, setelah berhari-hari didekati Sari dengan kesabaran yang nyaris menyiksa, akhirnya bersedia menjadi jembatan. Bukan karena percaya pada Reksa atau Sari. Tapi karena, katanya, "Dimas itu anak baik yang kejebak hal buruk. Kalau ada yang bisa bikin orang-orang yang membunuhnya kena batunya, biar saja saya bantu sedikit, sebelum saya mati."
Reksa menunggu di kejauhan, di balik perahu terbalik di pantai, sementara Sari dan orang tua itu masuk ke rumah Bu Inah. Aturan tetap sama: wajah Reksa tidak boleh terlihat di kawasan ini. Ia mengawasi jalan setapak, laut yang kelabu, langit yang mendung, jantungnya berdebar oleh kemungkinan dan ketakutan yang sama besar.
Setengah jam. Lalu satu jam. Reksa mulai gelisah. Lalu Sari muncul dari pintu, berjalan tenang agar tidak menarik perhatian, tapi Reksa bisa membaca dari langkahnya, dari cara bahunya tegang, bahwa sesuatu telah terjadi.
"Dia menyimpan sesuatu," kata Sari pelan saat mereka sudah jauh dari kampung, di dalam mobil. Tangannya gemetar memegang sebuah benda kecil yang dibungkus kain. "Dimas memberinya ini, dua hari sebelum dia mati. Dia bilang ke Bu Inah, 'Simpan, jangan dibuka, jangan dikasih ke siapa pun, kecuali ada yang datang dan bilang nama Mak benar dari mulut saya.' Dimas kasih kode. Nama panggilan kecil yang cuma dia dan Bu Inah tahu. Orang tua dermaga itu tahu kodenya. Itu yang bikin Bu Inah percaya."
Reksa membuka bungkusan kain itu dengan tangan yang nyaris tak bisa diam. Di dalamnya, sebuah perekam suara digital kecil, model lama, jenis yang biasa dipakai wartawan murahan atau mahasiswa. Layarnya tergores. Dan di sampingnya, terlipat, secarik kertas dengan tulisan tangan yang berantakan, tulisan Dimas: deretan angka. Nomor rekening.
"Ini dia," bisik Reksa. "Ini yang dia mati untuk menyimpannya."
Tapi ia tidak berani menyalakannya di sana, di dalam mobil, di tengah kota yang penuh telinga. Mereka kembali ke kos baru, sebuah kamar kontrakan lain yang lebih kumuh, yang mereka pindahi setelah gang Mawar terbongkar. Di sana, dengan pintu terkunci dan koran menutup jendela, di bawah lampu redup, Reksa meletakkan perekam itu di lantai di antara mereka berdua.
Untuk sesaat, tidak ada yang menyentuhnya. Benda kecil itu terasa seperti berisi sesuatu yang lebih berat dari ukurannya. Nyawa Dimas ada di sana. Mungkin nyawa mereka juga, tergantung apa yang terekam.
"Kalau ini rusak," kata Sari pelan, "kalau baterainya mati, kalau filenya korup. Setelah semua ini."
"Cuma satu cara untuk tahu," kata Reksa.
Ia menekan tombol.
Suara mendesis. Statis. Lalu, samar, suara langkah kaki di lantai yang keras, suara pintu, dan suara-suara orang. Reksa menahan napas, mendekatkan telinga. Rekamannya buruk, jauh, jelas diambil diam-diam dari saku atau tas. Tapi ada suara. Ada percakapan. Dan di antara desis dan gema, Reksa mendengar kalimat tentang jumlah, tentang "yang biasa", tentang "bulan ini lebih besar karena ada kiriman tambahan".
Lalu, satu suara, lebih jelas dari yang lain, suara yang menghitung, suara yang memerintah dengan tenang penuh kuasa. Suara yang Reksa kenal. Suara yang pernah menawarinya amplop tebal di ruangan dingin di lantai dua, suara yang pernah menelepon di malam hujan untuk meyakinkannya bahwa Sari pengkhianat.
Bhakim.
Reksa dan Sari saling pandang dalam cahaya redup, dan tidak ada yang berkata-kata. Rekaman itu terus berputar. Mata rantai antara seragam dan bandar, yang selama ini hanya kesimpulan, hanya bukti tidak langsung yang bisa dibantah pengacara, kini menjadi suara. Suara mereka sendiri. Suara yang, kata Pram, tidak bisa dibantah.
Tapi saat Reksa hendak mematikan perekam, lega bercampur kemenangan, rekaman itu belum selesai. Ada bagian lain, di ujung, yang membuat tangannya membeku di atas tombol. Sebuah suara ketiga. Bukan Bhakim. Bukan Toni. Suara yang tidak ia kenal sama sekali, lebih halus, lebih berhati-hati, suara orang yang terbiasa tidak meninggalkan jejak. Suara yang, dari cara dua suara lain merendah saat ia bicara, jelas berdiri lebih tinggi dari keduanya.
Reksa menatap Sari. "Itu suara siapa?" tanyanya pelan.
Sari menggeleng, wajahnya pucat. "Aku nggak tahu," bisiknya. "Aku belum pernah dengar suara itu seumur hidupku."
Dan di kamar kumuh itu, di bawah lampu redup, dengan rekaman seorang mati berputar di lantai, Reksa menyadari satu hal yang dingin: jaring ini lebih tinggi dari yang ia kira. Bahkan lebih tinggi dari Bhakim.