Reksa tidak pernah memberi tahu siapa pun, bahkan Sari, di mana ia menyimpan salinan asli yang sesungguhnya. Loker stasiun nomor 114 itu hanya umpan, sejak awal. Dokumen setengah jadi, samaran yang meyakinkan dari kejauhan, sengaja ia tanam agar pengkhianat, siapa pun dia, menuntun musuh ke kotak kosong. Dan itu berhasil. Bhakim membongkar 114, mengira menggenggam segalanya, dan yang ia genggam hanyalah sampah.
Tempat yang sebenarnya jauh lebih sederhana, dan justru karena itu lebih aman.
Ayah Reksa, semasa hidup, punya satu kebiasaan yang dulu ia anggap kuno: ia tidak pernah menyimpan semua uangnya di satu tempat. Sebagian di laci, sebagian dijahit di balik kasur, sebagian dititipkan ke saudara yang ia percaya, sebagian di tempat yang bahkan ibu Reksa tidak tahu. "Orang yang menaruh semua di satu tempat," kata ayahnya dulu, "adalah orang yang siap kehilangan semuanya sekaligus." Saat itu Reksa kecil menganggapnya paranoia orang miskin. Sekarang, kebiasaan itu mungkin yang menyelamatkan nyawanya.
Salinan asli itu ia simpan di tempat yang tidak terhubung dengan dirinya sama sekali. Bukan di kosnya. Bukan atas namanya. Bukan di Garumi pusat. Ia menumpangkannya pada satu titik mati di kota, sebuah tempat penitipan barang milik seorang yang sudah lama tidak ia hubungi, atas nama yang bukan namanya, dibayar tunai untuk setahun di muka pada hari ia membuatnya. Tidak ada CCTV yang merekamnya. Tidak ada nama yang bisa dilacak. Tidak ada jejak digital.
"Aku harus mengeceknya," kata Reksa pagi itu pada Sari. "Memastikan masih utuh."
Sari menatapnya, dan untuk sesaat, Reksa melihat luka lama di matanya. Karena ia tahu, dan Sari tahu, bahwa ada sesuatu yang Reksa simpan dari Sari sejak awal. Loker 114 yang Sari usulkan dulu, yang Sari kira berisi bukti asli, ternyata umpan. Reksa tidak pernah sepenuhnya membongkar itu pada Sari, bahkan sampai sekarang.
"Aku tahu kamu nggak akan ngajak aku ke mana kamu menyimpannya," kata Sari pelan. Bukan tuduhan. Hanya kelelahan. "Dan kamu benar nggak ngajak aku. Kalau aku jadi kamu, aku juga nggak akan percaya aku."
Reksa diam. Ada kejujuran dalam kalimat Sari yang menyakitkan justru karena benar. Di pelabuhan dulu, Sari sudah mengaku setengah hati: ditekan Bhakim sejak Lendra mati, keluarga diancam, dipaksa menjadi umpan. Tapi ia bersumpah peringatan terakhirnya tulus. Reksa memilih percaya separuh. Cukup untuk bertahan hidup bersama. Tidak cukup untuk membuka semua kartu.
"Bukan soal percaya atau nggak percaya kamu lagi, Sari," kata Reksa akhirnya, memilih kata-katanya hati-hati. "Ini soal melindungi kamu. Kalau kamu nggak tahu di mana bukti itu, kamu nggak bisa dipaksa memberitahukannya. Sama seperti aku nggak mau tahu hal-hal yang bisa membuatmu dipaksa membahayakanku. Kita lindungi satu sama lain dengan tidak tahu segalanya tentang satu sama lain. Itu cara kita bertahan."
Sari memandangnya lama, lalu, perlahan, mengangguk. "Itu yang Lendra nggak pernah ajarkan padaku," katanya lirih. "Dia percaya penuh. Pada semua orang. Termasuk pada sistem. Termasuk pada aku." Suaranya nyaris pecah di kata terakhir. "Dan lihat di mana dia sekarang."
Reksa pergi sendiri pagi itu, dengan rute berbelit yang ia rancang semalaman: turun dari angkot, berjalan kaki, masuk pasar dari satu pintu keluar dari pintu lain, naik angkot lain ke arah berlawanan, semua untuk memastikan tidak ada yang mengikuti. Anak pedagang yang tahu setiap jalan tikus. Butuh dua jam untuk perjalanan yang seharusnya dua puluh menit.
Tempat penitipan itu pengap dan tua, di lantai dua sebuah bekas gudang yang kini disewakan kotak-kotak besinya. Penjaganya seorang kakek setengah tuli yang tidak peduli pada wajah siapa pun, hanya pada uang sewa yang lunas. Reksa membuka kotak besinya dengan jantung berdebar, takut menemukannya kosong, takut musuh entah bagaimana sudah selangkah di depan lagi seperti selalu.
Tapi kotak itu utuh. Map cokelat di dalamnya tidak tersentuh, persis seperti ia tinggalkan: aliran uang lengkap, dokumen yayasan, nomor seri amplop suap Goldra yang ia catat sendiri, foto-foto pelabuhan, kronologi operasi yang bocor. Dan yang paling penting, satu lembar yang tidak pernah ada salinannya di mana pun: catatan tangan Reksa sendiri tentang struktur jaringan, kesimpulan yang ia tarik perlahan selama berbulan-bulan, peta dari sebuah jaring yang naik jauh lebih tinggi dari Garumi.
Kartu yang bahkan Sari tidak tahu, masih hidup.
Reksa menutup kotak itu, menguncinya kembali, dan untuk sesaat ia bersandar ke dinding pengap itu, menutup mata, membiarkan kelegaan menyapunya. Selama bukti ini hidup, mereka masih punya senjata. Selama tidak ada yang tahu di mana ia berada, kecuali dirinya sendiri, musuh tidak bisa mengubur kebenaran, sebanyak apa pun orang yang mereka bunuh.
Ia tidak mengambil map itu. Ia membiarkannya di sana, di kegelapan kotak besi, di tempat mati yang tak terhubung dengan siapa pun. Ia hanya datang untuk memastikan jantung perjuangan mereka masih berdetak. Lalu ia pergi, lewat rute berbelit yang lain, kembali ke kota yang memburunya, membawa sesuatu yang lebih berharga dari map itu sendiri: kepastian bahwa, sekali ini, mereka masih selangkah di depan.