Saluran aman itu, ternyata, adalah sebuah laptop bekas yang dibeli tunai di toko loak, sebuah modem yang dibayar atas nama orang lain, dan serangkaian instruksi yang dikirim Pram dalam bahasa yang sengaja membosankan, seperti surat dagang biasa. Reksa butuh dua malam untuk memahaminya, jari-jarinya kaku di keyboard, mata perih oleh layar dalam gelap.
"Anggap setiap pesan biasa itu bisa dibaca orang ketiga," tulis Pram dalam panduannya. "Karena memang bisa. Yang aman cuma yang terenkripsi, dan yang terenkripsi pun cuma seaman kelalaian terkecil kita. Jangan pernah pakai kata 'Bhakim', 'Toni', 'pelabuhan', atau nama asli siapa pun di kanal mana pun yang tidak terenkripsi. Kita pakai kode. Bhakim itu 'Direktur'. Toni 'Pemasok'. Pelabuhan 'Gudang Selatan'. Aku 'Penerbit'."
Reksa menghafalkan semuanya. Lalu, satu per satu, ia dan Pram membangun jembatan tak terlihat antara kos kosong di Garumi dan sebuah meja redaksi di ibu kota.
Pertama kali percakapan terenkripsi itu tersambung penuh, Reksa hampir tidak percaya. Di layar, kata-kata Pram muncul, dan untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, ia merasa ada tangan yang terulur dari luar lubang tempat ia dan Sari terperangkap.
"Aku akan jujur sama kamu," tulis Pram. "Aku pernah jadi polisi. Aku keluar bukan karena bosan. Aku keluar karena aku lihat persis apa yang kamu lihat sekarang, di kota lain, bertahun-tahun lalu. Dan aku kalah. Aku kalah karena aku terburu-buru. Aku bawa bukti ke satu orang yang kukira bersih di Mabes, dan ternyata dia bagian dari mereka. Dalam dua minggu, bukti itu menguap, saksiku hilang, dan aku yang nyaris masuk penjara karena 'memfitnah pejabat'. Aku keluar dengan nyawa, tapi tanpa apa-apa lagi."
Reksa membaca itu dua kali. Bukan kisah kemenangan. Pram tidak menjual harapan murahan. Ia menjual kebenaran, yang lebih berguna.
"Jadi dengar baik-baik," lanjut Pram. "Aturan pertama: jangan percaya satu instansi pun secara utuh. Bukan Mabes, bukan Propam, bukan kejaksaan, bukan media. Bukan karena semuanya busuk. Tapi karena kamu nggak tahu yang mana yang busuk sampai sudah terlambat. Mereka punya orang di mana-mana, dan satu orang busuk di tempat yang salah cukup untuk membunuhmu."
"Lalu bagaimana cara menang?" Reksa mengetik.
Ada jeda panjang di layar. Lalu Pram menjawab. "Kamu menang dengan tidak menaruh seluruh telurmu di satu keranjang. Kamu menang dengan membuat bukti itu tidak bisa dikubur, karena terlalu banyak salinannya, di terlalu banyak tempat, di tangan terlalu banyak orang yang tidak saling kenal. Kamu menang dengan publikasi dan laporan resmi serentak, di hari yang sama, di jam yang sama, supaya tidak ada waktu bagi mereka untuk memeti-eskan, untuk membungkam media lokal, untuk menyuruh penyidik 'kehilangan' berkas. Kamu pukul semuanya sekaligus, atau kamu nggak pukul sama sekali."
Reksa merasakan strategi itu mengkristal di kepalanya. Bukan satu serangan heroik. Sebuah serangan terkoordinasi dari banyak arah, di satu detik yang sama, sehingga jaring yang biasa mereka pakai untuk memadamkan api tidak punya cukup tangan untuk memadamkan sepuluh api sekaligus.
"Tapi untuk itu," lanjut Pram, "kita butuh bukti yang lengkap. Tak terbantahkan. Bukan satu, tapi tumpukan. Aliran uang, sudah ada. Bagus. Tapi kita butuh kesaksian. Dokumen asli, bukan foto. Dan paling penting, kita butuh suara mereka sendiri. Rekaman. Sesuatu yang bilang, dengan suara yang bisa diidentifikasi forensik, bahwa polisi dan bandar ini satu tangan."
Reksa menatap layar. "Ada rekaman seperti itu," ketiknya pelan, jari ragu. "Atau setidaknya, pernah ada. Seorang saksi punya, sebelum dia dibunuh. Kami sedang mencari di mana dia menyembunyikannya."
"Cari," balas Pram, satu kata, tegas. "Kalau rekaman itu ada dan kita dapat, itu paku terakhir di peti mati mereka. Semua bukti lain bisa dibantah pengacara mahal. Suara mereka sendiri, tidak."
Mereka bicara sampai dini hari, menyusun kerangka. Pram akan menyiapkan jaringan: jurnalis di beberapa kota yang ia percaya, aktivis antikorupsi, dan satu nama penyidik di Mabes yang, kata Pram, "kemungkinan bersih, tapi belum aku pertaruhkan nyawa untuk itu". Reksa dan Sari akan terus mengumpulkan dari lapangan: rekaman Dimas, kesaksian akuntan, dokumen asli Bahari Jaya, jejak Lendra.
Saat sambungan akhirnya diputus, dan layar laptop loak itu padam, Reksa duduk diam di kegelapan kos. Sari sudah tidur di sudut, napasnya teratur. Untuk pertama kalinya sejak menjadi buron, ia merasa mereka tidak lagi sekadar lari, tidak lagi sekadar bertahan. Mereka mulai membangun sesuatu. Pelan, di luar jangkauan, persis seperti yang dijanjikan seseorang kepadanya di hari kelulusan dulu.
Ia menyentuh tas di sisinya, merasakan tepi keras bukti asli di dalamnya. Kartu yang bahkan Sari tidak tahu. Kartu yang sebentar lagi, ia putuskan, harus ia pastikan masih utuh.