Mereka tidak pernah sampai ke rumah perempuan tua itu. Belum. Karena pagi-pagi, sebelum mereka sempat bergerak, kota menutup diri seperti perangkap baja.
Reksa terbangun oleh suara yang salah. Bukan motor lewat. Bukan ayam. Sesuatu yang lebih sistematis: deru mesin yang banyak, terkoordinasi, lalu suara langkah berat dan pintu-pintu yang digedor. Ia melompat bangun, menyibak sedikit koran di jendela. Di mulut gang Mawar, dua mobil dinas dan satu truk personel. Polisi turun, menyebar, mengetuk pintu satu per satu.
"Penyisiran," desisnya, mengguncang bahu Sari. "Operasi. Mereka menyisir gang ini rumah per rumah."
Sari bangun seketika, naluri dua belas tahun langsung menyala di matanya. "Goldra," katanya, sudah menyambar tas. "Cuma dia yang tahu cara menyisir kawasan begini. Ini gayanya. Dia pakai surat operasi resmi sebagai kedok untuk memburu kita."
Tidak ada waktu untuk panik. Reksa menyambar tas berisi bukti dan karton, menarik Sari ke arah jendela belakang yang menghadap gang sempit di antara tembok-tembok rumah. Mereka turun, menyelinap, punggung menempel dinding lembap yang berbau lumut. Suara gedoran semakin dekat di belakang mereka, rumah demi rumah, mendekati kos kosong yang baru saja mereka tinggalkan.
Gang itu berkelok, gelap meski hari sudah terang, labirin kampung padat yang tidak ada di peta mana pun. Reksa bersyukur pada satu hal: orang seperti Goldra, yang menyisir dengan surat dan sepatu mengkilap, tidak benar-benar mengenal usus kota seperti ini. Tapi Reksa mengenalnya. Anak pedagang yang tumbuh di gang-gang pasar, yang tahu setiap jalan tikus punya jalan tikus lain di baliknya.
Mereka berbelok, memanjat tembok rendah, menyeberang atap seng yang panas, lalu turun ke gang lain. Suara sirene mengaum di kejauhan, memantul di antara tembok, datang dari segala arah sekaligus, membuat sulit menebak di mana musuh sebenarnya. Sirene tengah kota. Suara yang dulu Reksa kira berarti pertolongan datang. Sekarang ia tahu, kadang sirene itu datang untuk memburunya.
Di sebuah pertigaan gang, mereka hampir bertabrakan dengannya. Seorang petugas muda, sendirian, terpisah dari rombongan, senjata di tangan, mata membelalak saat melihat dua wajah yang ada di surat pencarian. Untuk sepersekian detik, mereka bertiga membeku.
Reksa mengenali wajah itu. Bukan kaki tangan Bhakim. Hanya anak baru, mungkin lebih muda darinya, yang ditugaskan menyisir tanpa tahu sepenuhnya siapa yang ia buru. Wajah yang, beberapa bulan lalu, adalah wajahnya sendiri di hari pertama.
"Jangan," kata Reksa pelan, tangannya terangkat, menjauh dari pinggangnya tempat senjata terselip. Ia tidak mencabutnya. Ia tidak akan mencabutnya. "Dengar. Apa pun yang mereka bilang soal kami, itu nggak benar. Suatu hari kamu akan tahu. Jangan kotori tanganmu untuk mereka."
Anak muda itu ragu. Tangannya yang memegang senjata bergetar. Dan dalam keraguan itu, dalam sepersekian detik nurani yang belum mereka beli, Reksa menarik Sari dan berlari. Tidak ada tembakan di belakang mereka. Anak muda itu, entah karena bingung, entah karena takut, entah karena sesuatu di kata-kata Reksa, tidak menarik pelatuk. Reksa menyimpan wajah itu di kepalanya, satu wajah yang mungkin masih bisa diselamatkan dari menjadi seperti Goldra.
Mereka lolos. Tapi tipis. Terlalu tipis.
Ketika akhirnya mereka berhenti, jauh di pasar pagi yang ramai, bersembunyi dalam kerumunan, napas mereka tersengal dan keringat membasahi punggung. Dan saat itulah Reksa menyadari sesuatu yang dingin. Tasnya terasa lebih ringan. Ia membukanya, panik. Bukti asli masih ada. Karton masih ada. Tapi satu hal hilang: amplop kecil berisi nomor sekali pakai dan catatan tentang Bu Henny, sang akuntan. Pasti terjatuh saat mereka memanjat tembok, di gang yang kini penuh sepatu Goldra.
"Henny," kata Reksa, suaranya tercekat. "Kalau mereka temukan catatan itu, mereka tahu kita sedang mendekati akuntan Bahari Jaya. Mereka akan menutup dia. Mungkin lebih buruk."
Sari menatapnya, wajahnya pucat di tengah keramaian pasar. "Kita kehilangan dia," kata Sari pelan. "Kita kehilangan akuntan itu sebelum dia sempat bicara."
Reksa menutup tasnya, tangannya mengepal. Ia memandang kerumunan pasar, ibu-ibu menawar sayur, pedagang berteriak, anak-anak berlarian, dunia normal yang berputar tanpa tahu apa yang merayap di bawahnya. Mereka baru saja lolos dari maut, lagi, tapi harganya satu sekutu kecil yang bahkan belum sempat jadi sekutu.
Dan di tengah napas yang masih memburu, sebuah kesadaran mengeras di dadanya seperti besi dingin. Lari terus-menerus tidak akan menyelamatkan mereka. Setiap kali mereka lari, mereka kehilangan sesuatu, sekutu, jejak, waktu. Goldra, Bhakim, Toni, mereka punya seluruh kota sebagai jaring. Selama Reksa hanya menghindar, ia hanya menunda kekalahan.
"Kita berhenti lari," kata Reksa, suaranya rendah tapi keras. Sari menoleh. "Kita sudah lari sebulan. Dan tiap kali lari, kita kalah pelan-pelan. Mereka mengejar, kita menghindar, dan satu per satu orang yang bisa membantu kita habis. Itu pola mereka, Sari. Mereka membuat kita lari sampai capek, sampai sendirian, sampai gampang dibereskan." Ia menatap kota di sekelilingnya, kota yang memburunya. "Mulai sekarang, kita yang menyerang."
Sari menatapnya lama dalam riuh pasar. Lalu, perlahan, ia mengangguk. "Lendra dulu nggak pernah sampai ke titik ini," katanya. "Dia masih lari waktu mereka dapat dia. Mungkin itu kesalahannya." Ia menarik napas. "Baik. Kita serang. Tapi kita serang dengan benar. Dengan kepala, bukan dengan amarah. Karena kalau kita salah langkah sekali saja sekarang, nggak ada lagi gang untuk kabur."
Reksa mengangguk. Di kejauhan, sirene terakhir mengaum, lalu mereda, lalu hilang ditelan pagi. Garis batas pertama sudah dilewati. Bukan lagi soal bertahan hidup. Mulai hari itu, ini soal menjatuhkan mereka.