Bu Henny tidak menelepon. Tapi sesuatu yang lain datang, dari arah yang tidak Reksa duga: dari masa lalu seorang mati.
Petunjuk itu muncul saat Sari, dalam pendekatannya yang sabar terhadap kawasan dermaga, akhirnya menukar beberapa patah kata dengan orang tua bertangan buntung di warung kopi ujung. Lelaki tua itu tidak bicara soal jangkar, tidak soal Toni, tidak soal apa pun yang berbahaya. Ia hanya, di tengah obrolan acak soal cuaca dan harga ikan, menyebut sebuah nama yang membuat Sari hampir menumpahkan kopinya.
"Dimas," kata Sari malam itu, kembali ke kos dengan napas masih memburu. "Orang tua itu kenal Dimas. Atau setidaknya tahu siapa Dimas. Dia bilang, anak itu, Dimas, sering nongkrong di rumah seorang perempuan tua di kampung nelayan belakang dermaga. Pengasuhnya waktu kecil. Dimas yatim piatu, Reksa. Perempuan tua itu satu-satunya keluarga yang dia punya."
Reksa duduk tegak. Dimas. Pengedar menengah yang mati sebelum sempat menyerahkan rekaman. Rekaman suara serah-terima uang, nomor rekening, mata rantai yang menyambungkan seragam dengan bandar. Rekaman yang ia simpan, katanya, "di tempat aman", lalu mati membawa rahasia di mana tempat aman itu.
"Kamu pikir," kata Reksa pelan, "Dimas menitipkan rekaman itu pada perempuan tua itu?"
"Aku nggak tahu. Tapi pikir, Reksa. Dimas bilang dia simpan di tempat aman, tempat yang nggak berani dia bawa-bawa. Orang seperti Dimas, yang nggak percaya siapa pun, di mana dia akan menyembunyikan satu-satunya hal yang bisa menyelamatkan nyawanya?" Sari menatapnya. "Di tempat yang nggak akan pernah dicurigai. Bukan di kosnya. Bukan di lingkaran Toni. Tapi di rumah pengasuhnya. Satu-satunya orang yang dia sayang. Satu-satunya tempat yang terasa seperti rumah."
Reksa merasakan sesuatu menggeliat di dadanya, campuran harapan dan rasa bersalah yang pekat. Dimas mati karena mereka. Karena mereka mendekatinya, meninggalkan jejak, membuat pola yang bisa dibaca Bhakim. Dan sekarang, mereka mungkin akan menemukan apa yang Dimas mati untuk menyimpannya. Seolah-olah lelaki muda yang ketakutan itu, dengan kematiannya, mewariskan sesuatu, sebuah janji yang belum tuntas.
"Kalau rekaman itu ada di sana," kata Reksa, "dan kita ambil, kita harus pastikan kita nggak membawa kematian ke pintu perempuan tua itu juga. Kita nggak boleh mengulang kesalahan yang sama."
Tapi ada masalah lain, dan Sari yang mengucapkannya. "Bhakim juga tahu Dimas punya rekaman. Dimas bilang sendiri ke kita, dan kita sekarang tahu kantor itu mendengar. Berarti Bhakim juga mencari rekaman itu. Pertanyaannya cuma: apa mereka sudah tahu soal perempuan tua ini? Apa mereka sudah lebih dulu ke sana?"
Pertanyaan itu menggantung di udara kos yang pengap, lebih berat dari biasanya. Kalau mereka terlambat, rekaman itu sudah hilang, dan mungkin nyawa perempuan tua itu juga. Kalau mereka terlalu cepat dan ceroboh, mereka justru yang menuntun musuh ke sana.
Reksa membuka karton empat belas nama itu lagi, menatapnya di bawah lampu redup. "Kita harus ke sana. Tapi seperti tadi. Pelan. Lewat orang tua bertangan buntung itu, kalau dia mau jadi jembatan. Bukan kita yang mengetuk pintu perempuan itu dengan wajah asing. Tapi orang yang dia percaya."
Sari mengangguk perlahan, lalu menambahkan sesuatu dengan suara yang tertahan. "Reksa. Kalau kita memang menemukan rekaman Dimas. Kalau itu memang ada di sana, dan kita berhasil mendengarnya. Janji satu hal." Ia menatapnya lurus. "Kita nggak menyia-nyiakannya. Dimas bayar dengan nyawa untuk benda itu. Lendra bayar dengan nyawa untuk daftar itu. Hendarta, Saman, semua nama di karton ini. Mereka mati menyimpan kepingan-kepingan ini. Kalau kita mati juga sebelum semuanya tersambung, semua kematian itu jadi sia-sia."
Reksa menatap perempuan di hadapannya, yang sebulan lalu belum ia tahu kawan atau lawan, yang sekarang berbagi lantai kos dan rasa takut yang sama. Ia tidak menjawab dengan kata. Ia hanya menggulung kembali karton itu, menyimpannya bersama bukti asli di tas, dan untuk pertama kalinya sejak hari pertamanya di seragam, ia merasa beban itu bukan lagi miliknya sendirian. Beban itu diwariskan, dari Hendarta ke Lendra ke Dimas, dari tangan mati ke tangan mati, sampai akhirnya jatuh ke tangannya.
Dan ia tidak akan menjatuhkannya.