Pram menelepon lewat saluran aman pada hari kedua belas pelarian mereka, dan suaranya, yang dulu Reksa ingat selalu penuh percaya diri di akademi, kini terdengar lebih hati-hati, lebih tua.
"Aku sudah lihat foto dokumen yayasan yang kamu kirim," kata Pram, di seberang sambungan yang berisik dan teredam. "Bagus. Tapi kurang. Aliran uang dari CV Bahari Jaya ke yayasan istri Bhakim itu memang busuk, tapi pengacara mereka akan bilang itu sumbangan amal sah. Kamu butuh orang yang bisa bilang: pembukuan ini palsu. Yang resmi satu, yang asli satu lagi. Kamu butuh orang dari dalam perusahaan itu."
Reksa menutup telepon dengan satu nama tertinggal di kepalanya: orang dari dalam Bahari Jaya. Dan Sari, lagi-lagi, yang punya jalan masuknya.
"CV Bahari Jaya kecil di atas kertas," kata Sari malam itu, menyebar catatan di lantai kos. "Tapi uang yang lewat besar. Itu artinya ada yang membukukan. Seseorang yang setiap hari menatap angka-angka yang nggak masuk akal dan diam saja. Orang seperti itu, Reksa, dia hidup dalam ketakutan tiap hari. Dia bukan penjahat. Dia cuma kebetulan duduk di kursi yang salah, dan terlalu takut untuk berdiri."
Mereka butuh tiga hari untuk menemukannya. Namanya Bu Henny, perempuan paruh baya, pegawai administrasi keuangan Bahari Jaya yang sudah delapan tahun di sana. Sari yang mengintai pola hariannya: jam berangkat, jam pulang, warung tempat ia makan siang, jalur angkot yang ia naiki. Lalu, di sebuah sore yang gerimis, di halte sepi tempat Bu Henny menunggu angkot, Sari duduk di sebelahnya. Bukan sebagai polisi. Sebagai sesama perempuan lelah yang berteduh dari hujan.
Reksa mengawasi dari mobil di seberang jalan, jantung berdebar. Ini bagian paling rapuh. Dimas dulu ketakutan, dan Dimas mati. Setiap kali mereka mendekati seseorang yang bisa bicara, mereka memindahkan target ke punggung orang itu.
Sari kembali ke mobil setengah jam kemudian, basah, wajahnya tegang. "Dia takut," kata Sari. "Lebih takut dari yang kuduga. Begitu aku menyinggung Bahari Jaya, tangannya gemetar. Tapi dia nggak pergi, Reksa. Itu yang penting. Dia tetap duduk. Orang yang benar-benar tidak mau bicara, akan langsung berdiri dan pergi. Dia tetap duduk sampai angkotnya datang. Dia ingin bicara. Dia cuma butuh alasan yang lebih kuat dari ketakutannya."
"Apa yang dia bilang?"
Sari menyalakan pemanas, tangannya sendiri sedikit gemetar. "Dia bilang satu kalimat sebelum naik angkot. Dia bilang: 'Saya punya anak dua, Bu. Tolong jangan datang lagi ke sini.' Tapi cara dia bilangnya..." Sari berhenti, mencari kata. "Itu bukan penolakan. Itu permohonan. Dia minta jangan datang ke sini, ke tempat dia bisa terlihat. Dia nggak bilang jangan datang sama sekali."
Reksa memandang hujan yang menderas di kaca depan. Ia mengerti perhitungan moral yang sedang berlangsung, dan ia membencinya. Bu Henny punya dua anak. Kalau ia bicara dan ketahuan, ia bisa berakhir seperti nama-nama di karton mereka. Tapi kalau ia tidak bicara, jaring busuk itu akan terus berputar, dan entah berapa anak orang lain yang akan kehilangan ayah atau ibu di gang gelap dan sungai hitam.
"Kita nggak boleh mendesaknya seperti kita mendesak Dimas," kata Reksa pelan. "Kita lihat apa yang terjadi pada Dimas. Kita buru-buru, kita kasih dia tenggat, jam sembilan malam, datang berdua. Dan dia mati sebelum jam sembilan. Karena kita meninggalkan jejak. Karena kita bikin pola yang bisa dibaca."
Sari menatapnya. "Jadi?"
"Jadi kali ini kita biarkan dia yang menentukan kapan, di mana, dan apakah. Kita kasih dia satu cara menghubungi yang aman, satu nomor sekali pakai, dan kita pergi. Kita nggak datang lagi ke halte itu. Kita nggak ikuti dia. Kita biarkan dia memutuskan sendiri, dengan waktunya sendiri. Kalau dia memang ingin bicara, dia akan menghubungi. Kalau tidak..." Reksa menelan kalimatnya. "Kalau tidak, kita cari jalan lain. Tapi kita nggak akan jadi alasan dia masuk daftar."
Sari memandangnya lama, dan untuk pertama kalinya sejak pelabuhan, ada sesuatu yang melembut di wajahnya, sesuatu yang mirip rasa hormat. "Lendra dulu akan setuju denganmu," katanya. "Dia juga selalu bilang, saksi bukan alat. Saksi itu manusia. Dan tugas kita melindungi mereka, bukan memakai mereka sampai habis."
Reksa menulis nomor di secarik kertas, menyelipkannya ke dalam amplop tanpa nama. Esoknya, lewat seorang penjual koran yang tidak tahu apa-apa, amplop itu sampai ke tangan Bu Henny, terselip di antara koran pagi. Tidak ada ancaman. Tidak ada tenggat. Hanya satu kalimat di dalamnya, yang ditulis Reksa sendiri: "Kalau suatu hari Ibu lelah menyimpannya sendirian, nomor ini akan menjawab. Kapan pun Ibu siap. Tidak ada yang memaksa."
Lalu mereka menunggu. Dan menunggu, Reksa tahu, adalah jenis penderitaan tersendiri bagi orang yang sedang diburu.