Yang membawa Reksa kembali ke pelabuhan lama bukan keberanian, melainkan sebuah tato. Tato jangkar kecil di pergelangan tangan Hendarta, yang ia lihat di malam pertama, yang membasah oleh hujan saat lelaki itu sekarat di selokan. Tato yang sama, ia mulai sadar, bukan hanya milik Hendarta.
Mereka tidak bisa menampakkan diri di siang hari. Maka Sari yang turun, dengan kerudung dan kacamata, berbaur di warung-warung buruh pelabuhan di pinggir kawasan, sementara Reksa menunggu di balik kemudi mobil pinjaman, topi menutup setengah wajah, mata mengawasi spion. Pembagian tugas yang lahir dari keadaan: wajah Reksa sudah tersebar lewat surat pencarian internal, sementara Sari masih bisa lewat sebagai perempuan paruh baya yang mencari kerja serabutan.
Sari kembali ke mobil menjelang sore, membawa bau ikan asin dan satu nama. "Ada paguyuban," katanya, menutup pintu, suaranya rendah. "Buruh angkut lama di dermaga timur. Mereka punya semacam perkumpulan, turun-temurun. Dan tato jangkar itu," ia menarik napas, "itu tanda. Bukan geng. Lebih tua dari itu. Dulu artinya cuma penanda kalau kamu orang dermaga, kalau kamu bisa dipercaya angkat barang siapa pun tanpa nanya-nanya. Sumpah tutup mulut."
Reksa menyalakan mesin, melaju pelan keluar dari gang. "Jadi Hendarta orang dermaga."
"Hendarta, dan banyak yang lain. Anak-anak muda yang lahir di kampung nelayan belakang pelabuhan. Nggak sekolah tinggi, nggak punya pilihan. Begitu cukup umur, ditandai jangkar, masuk jadi tenaga angkut. Yang resmi maupun yang nggak resmi." Sari menatap deretan kontainer karat yang menjulang di kejauhan, hitam menghadap matahari yang turun. "Toni nggak menciptakan jaringan ini, Reksa. Dia mewarisinya. CV Bahari Jaya cuma baju baru untuk sesuatu yang sudah jalan puluhan tahun. Dermaga ini punya cara sendiri jauh sebelum Toni atau Bhakim datang."
Reksa mencerna itu. Potongan-potongan yang berserak mulai menempel. Bukan satu bandar dengan satu pelindung. Sebuah ekosistem. Pelabuhan tua yang punya hukumnya sendiri, tenaga kerja yang lahir terikat sumpah diam, jalur pengiriman yang sudah lewat di sana sejak generasi sebelumnya. Toni dan Bhakim hanyalah orang-orang yang cukup pintar, atau cukup kejam, untuk memetik buahnya.
Ia memarkir mobil di tepi jalan sepi, menghadap laut yang mulai gelap. "Kalau begitu ada orang-orang tua di sana. Yang ingat semuanya. Sebelum CV Bahari Jaya, sebelum Toni."
"Ada," kata Sari. "Tapi mereka yang paling sulit bicara. Justru karena mereka ingat segalanya. Mereka sudah lihat apa yang terjadi pada orang yang buka mulut. Tato jangkar itu, sekarang artinya bukan cuma kepercayaan. Artinya: kamu tahu harga ngomong."
Reksa teringat Pak Wira, penjual rokok tua di Pasar Lama, yang menurunkan suaranya bahkan saat menyebut nama Toni. Pak Wira yang kiosnya, kabarnya, kini sudah ditutup, papan kayunya dipalang. Satu lagi mulut kecil yang dibungkam, bukan dengan peluru, cukup dengan ketakutan.
"Aku lihat satu orang tadi," lanjut Sari, suaranya semakin pelan. "Tua. Tangannya buntung sebelah. Duduk di warung kopi paling ujung, dekat kantor lama syahbandar. Buruh-buruh muda memanggilnya dengan hormat. Dan di tangannya yang masih utuh," ia menelan ludah, "ada jangkar. Tapi yang lama. Yang sudah pudar jadi biru kelabu. Dia yang paling tua di sana. Kalau ada yang ingat dari mana semua ini dimulai, dia orangnya."
Reksa menatap kontainer-kontainer karat itu, yang dalam cahaya senja tampak seperti batu nisan raksasa. Di balik labirin besi itu, sebulan lalu, ia hampir mati. Sari hampir mati. Dan di balik semua itu, ternyata bukan sekadar gudang dan tas berisi uang. Ada sejarah. Ada akar yang menghunjam jauh ke dalam, dan tato kecil di pergelangan tangan seorang mati adalah ujung benang yang paling tipis, yang kalau ditarik terlalu kasar, bisa memutus segalanya, termasuk tangan yang menariknya.
"Kita perlu bicara dengan orang tua bertangan buntung itu," kata Reksa.
"Iya," Sari menjawab. "Tapi bukan kita. Kalau dia lihat dua orang asing menghampiri sekaligus, dia akan menutup diri seperti kerang. Orang tua dermaga punya naluri lebih tajam dari anjing pelacak." Ia menoleh ke Reksa. "Aku yang dekati. Pelan. Berhari-hari kalau perlu. Dan kamu," ia menatap luka di lengannya, wajahnya yang sudah jadi buron, "kamu tetap di bayangan. Karena begitu wajahmu kelihatan di kawasan ini, daftar empat belas nama itu nambah dua."
Reksa tidak membantah. Ia menyalakan mesin, dan membawa mereka pergi sebelum gelap penuh turun. Di kaca spion, deretan kontainer karat itu mengecil, lalu hilang ditelan malam. Tapi ia tahu mereka akan kembali. Benang jangkar itu sudah mulai terurai, dan ia tidak akan melepasnya.