Kamar kos kosong di gang Mawar itu tidak punya nama di pintu, dan itu yang membuat Reksa memilihnya. Tiga hari mereka bertahan di sana, ia dan Sari, dengan jendela ditutup koran bekas dan satu lampu lima watt yang dinyalakan hanya setelah tengah malam. Di lantai, di antara bungkus mi dan gelas kopi sachet, terbentang sehelai karton bekas dus yang sudah berubah jadi peta. Peta orang-orang yang hilang.
Reksa berjongkok di atasnya, spidol di tangan, punggung masih nyeri dari luka serempet peluru di pelabuhan minggu lalu. Ia menulis nama paling atas: Hendarta. Lalu di bawahnya, dengan tarikan garis: Lendra. Lalu Dimas. Tiga nama yang ia tahu pasti. Tiga mayat yang sudah punya wajah di kepalanya.
"Tambah," kata Sari, duduk bersandar ke dinding, satu kakinya dilipat. Suaranya serak. Sejak malam pelabuhan ia tidak banyak bicara, dan setiap kali bicara, ia seperti menimbang berapa banyak yang boleh ia keluarkan. "Jangan cuma yang kamu lihat sendiri. Ingat-ingat berkas yang pernah kamu baca. Orang yang hilang tapi kasusnya ditutup cepat. SP3. Dianggap kabur. Dianggap pindah ke luar kota."
Reksa menutup matanya, memutar ulang bulan-bulan ia mengorek arsip di ruang berkas. Angka punya cara melekat di kepalanya, warisan dari ayahnya yang menghitung untung rugi dagangan tiap malam. Ia mulai menulis. Seorang sopir truk yang dilaporkan istrinya hilang dua tahun lalu, kasus ditutup karena "diduga merantau". Seorang pemuda Pasar Lama, ditahan karena narkoba, lepas, lalu tidak pernah pulang. Seorang pegawai pelabuhan yang jasadnya ditemukan mengapung, dicatat tenggelam karena mabuk.
Satu per satu, karton itu penuh. Bukan tiga nama lagi. Sebelas. Lalu empat belas.
Sari merangkak mendekat, menatap deretan itu di bawah cahaya redup. Wajahnya, yang masih menyimpan kuning bekas lebam di pelipis, mengeras. "Aku kenal yang ini," tunjuknya. "Pak Saman. Buruh angkut di dermaga. Dia pernah lapor lihat barang diturunkan malam-malam dari kapal yang nggak ada manifesnya. Dua minggu kemudian dia jatuh dari dermaga. Katanya mabuk. Saman nggak minum. Sama seperti Lendra."
"Sama seperti Lendra," ulang Reksa pelan.
Ia berdiri, mundur selangkah, dan untuk pertama kalinya melihat peta itu utuh. Bukan deretan kasus terpisah. Ada pola. Garis-garis yang ia tarik antar-nama selalu bersinggungan di dua titik: Pasar Lama dan pelabuhan lama. Dan rentang waktunya, kalau ia urutkan, melebar mundur jauh lebih panjang dari yang ia kira. Bukan tiga tahun sejak Lendra. Hampir tujuh tahun. Tujuh tahun orang-orang kecil ditelan kota ini, satu per satu, terlalu kecil untuk jadi berita, terlalu tersebar untuk jadi pola, sampai ada orang gila yang duduk di lantai kos dan menyusunnya jadi satu.
"Ini lebih besar dari Bhakim," kata Reksa. Suaranya hampir tak terdengar. "Bhakim baru pegang Resnarkoba berapa, lima tahun? Tapi ini sudah jalan sebelum dia. Berarti sistemnya sudah ada. Dia cuma tangan terakhir yang memegangnya."
Sari menatapnya lama. Ada sesuatu di matanya yang Reksa tidak bisa baca, ketakutan, atau pengakuan, atau keduanya. "Kamu mulai paham," katanya. "Lendra dulu sampai di titik ini juga. Persis. Dia bikin daftar seperti ini. Aku ingat dia bilang, ini bukan soal nangkep satu komisaris. Ini soal merobek lantai dan lihat apa yang merayap di bawahnya. Dua minggu setelah dia ngomong gitu, mobilnya di sungai."
Reksa berjongkok lagi, menatap nama Lendra di tengah karton. "Kalau daftar ini benar, kita bukan cuma buron. Kita saksi dari sesuatu yang mereka sudah bunuh belasan orang untuk menutupnya."
"Itu sebabnya kita nggak bisa cuma kabur," kata Sari. "Karena mereka nggak akan berhenti. Belasan nama itu buktinya. Mereka nggak pernah membiarkan orang yang tahu, hidup lama-lama."
Di luar, sebuah motor lewat pelan, lampunya menyapu celah jendela. Keduanya membeku, napas tertahan, sampai suara mesinnya menjauh. Hanya motor lewat. Tapi jantung Reksa butuh waktu lama untuk kembali normal.
Ia menggulung karton itu, hati-hati, seperti menggulung sesuatu yang hidup. "Empat belas nama," katanya. "Kita mulai dari yang paling segar jejaknya. Yang masih punya keluarga yang bisa ditanya. Yang masih punya benang yang belum putus."
Sari mengangguk. Lalu, dengan suara yang lebih lembut dari biasanya, ia menambahkan satu kalimat yang membuat Reksa berhenti bergerak. "Reksa. Kalau salah satu dari kita sampai masuk daftar itu juga nanti. Janji, namanya jangan ditutup cepat. Jangan biarkan kita jadi orang yang dianggap kabur."
Reksa tidak menjawab. Ia hanya menyelipkan gulungan karton itu ke dalam tas, di samping satu salinan bukti asli yang tak pernah jauh dari tubuhnya, dan mematikan lampu lima watt itu. Dalam gelap, suara napas mereka berdua terdengar terlalu keras, dua orang yang namanya, mereka berdua tahu, sudah lama ditulis di daftar lain, di meja kayu mengilap di lantai dua.