Mereka melewati malam di sebuah masjid kecil di pinggir terminal, berbaur dengan musafir dan tunawisma yang tidur di teras, dua wajah lagi yang tak akan diingat siapa pun. Sebelum subuh, Reksa sudah memutuskan langkah berikutnya. Sebelum bisa membangun apa pun bersama Pram, ia butuh memverifikasi pijakannya sendiri. Ia butuh tahu apakah orang-orang kecil yang dulu memberinya petunjuk masih ada, masih bisa bicara, masih hidup.
Pak Wira. Kios rokok di Pasar Lama. Lelaki tua yang pertama menyebut nama Toni padanya, yang memberitahunya soal "pelindung berseragam". Kalau ada satu orang yang bisa mengukuhkan benang awal seluruh kasus ini, itu Pak Wira.
Pagi-pagi, dengan topi tertarik rendah dan jaket lusuh, Reksa masuk ke Pasar Lama dari arah belakang, lewat lorong-lorong pedagang ikan yang becek. Sari menunggu di luar, di warung kopi seberang, menjadi mata kedua. Mereka sudah sepakat: tidak pernah masuk ke tempat yang sama berdua sekaligus. Satu masuk, satu berjaga. Pelajaran dari Dimas, dari setiap saksi yang mati karena terlalu banyak yang tahu di satu tempat.
Reksa berjalan menyusuri deretan kios menuju sudut tempat Pak Wira biasa duduk di balik etalase rokoknya, radio kecil mengoceh, asap kretek mengepul. Tapi ketika ia sampai, kiosnya tutup.
Bukan tutup biasa. Rolling door-nya turun penuh, digembok, dan di permukaannya ada coretan cat semprot, tanda silang besar, lalu bekas pukulan, penyok-penyok seperti dihantam linggis. Sebuah kios yang ditutup dengan amarah, bukan dengan istirahat.
Reksa berhenti, jantungnya menurun ke perut. Ia menoleh ke kios sebelah, seorang perempuan paruh baya yang menjual kelontong. "Bu, maaf. Pak Wira yang jual rokok ini, ke mana ya? Kok tutup?"
Perempuan itu mengangkat wajah, dan Reksa melihat ketakutan menyala di matanya sebelum ia sempat menutupinya. Ia melirik kiri kanan, persis seperti Pak Wira dulu saat menurunkan suaranya menyebut nama Toni. "Nggak tahu, mas," katanya cepat, terlalu cepat. "Saya nggak tahu apa-apa. Sudah beberapa hari tutup. Saya nggak mau ikut campur."
"Tapi Bu, dia—"
"Saya bilang saya nggak tahu." Perempuan itu memunggunginya, berpura-pura sibuk menata barang dengan tangan yang gemetar. "Mas, kalau nggak beli, jangan berdiri lama-lama di sini. Tolong. Demi Tuhan, jangan."
Demi Tuhan, jangan. Reksa mundur. Ia mengerti. Ketakutan itu menular, dan ketakutan sebesar itu hanya ditanam oleh satu hal. Ia berjalan menjauh dengan langkah biasa, menahan diri untuk tidak menoleh, tapi matanya menyapu sekeliling. Dan kini ia melihatnya: cara pedagang-pedagang lain menundukkan kepala saat ia lewat, cara obrolan mengecil, cara seorang lelaki muda bertato di mulut lorong mengawasi setiap orang yang mendekati kios Pak Wira. Penjaga. Pasar Lama sedang diawasi.
Mereka membersihkan saksi-saksi kecil. Satu per satu. Pak Wira hanya seorang tua yang menjual rokok, yang dosanya cuma berbisik nama kepada anak muda yang membeli kretek di siang hari. Itu sudah cukup untuk membuat kiosnya dihancurkan, untuk membuatnya hilang, untuk menanam ketakutan di seluruh pasar agar tak ada lagi yang berani berbisik.
Reksa keluar dari pasar, dadanya berat. Di warung seberang, ia bertemu pandang dengan Sari, dan menggeleng pelan. Sari membaca wajahnya, lalu menundukkan kepala.
"Tutup," kata Reksa pelan saat mereka berjalan menjauh, beriringan tapi terpisah beberapa langkah, seperti dua orang asing. "Dirusak. Tetangganya ketakutan setengah mati. Ada penjaga di mulut lorong."
"Mereka membersihkan jejak," gumam Sari. "Setiap orang yang pernah bicara denganmu. Setiap orang yang pernah bicara dengan Lendra dulu, juga begitu. Itu kenapa kasusnya tak pernah maju. Bukan karena tidak ada saksi. Tapi karena setiap saksi diintimidasi sampai diam, atau hilang, sebelum sempat masuk berita acara."
Reksa berhenti di ujung gang, menatap kembali ke arah pasar yang ramai oleh kehidupan biasa, oleh orang-orang yang membeli sayur dan menawar ikan, tak menyadari ada jaring tak terlihat yang membungkus tempat itu, menjerat siapa pun yang membuka mulut terlalu lebar. Pak Wira mungkin masih hidup, di suatu tempat, diam dan ketakutan. Atau mungkin tidak. Reksa tidak akan tahu, dan ketidaktahuan itu menjadi beban baru di pundaknya yang sudah penuh.
Ia menggenggam erat ponsel butut di sakunya, satu-satunya benang ke Pram, ke luar, ke kemungkinan keadilan. Ia tahu sekarang ia tidak bisa lagi mengandalkan saksi-saksi kecil yang mudah dipatahkan. Ia harus mencari sesuatu yang lebih keras, lebih dalam, sesuatu yang tidak bisa diintimidasi dengan rolling door yang dihantam linggis. Ia harus naik ke jaringnya sendiri, ke akuntan, ke dokumen, ke rekaman Dimas yang mungkin masih ada di suatu tempat, menunggu seseorang cukup nekat untuk menemukannya.
Di kejauhan, sirene patroli meraung sekali, lalu lenyap ditelan keramaian kota. Reksa menarik topinya lebih rendah, dan melangkah masuk ke dalam keramaian itu, menjadi hantu di kotanya sendiri.