Nada sambung berdering tiga kali di telinga Reksa, masing-masing terasa seperti satu menit. Ia berdiri di balik terminal tua, jauh dari lampu, ponsel butut menempel di telinga, punggung menghadap Sari yang menjaga dari kejauhan. Di dering keempat, sambungan terangkat. Hening sejenak. Lalu suara seorang lelaki, waspada, rendah.
"Siapa ini?"
Reksa menelan ludah. "Pram. Ini Reksa. Adik tingkatmu. Garumi. Aku yang—"
"Aku tahu siapa kamu." Suara di seberang langsung berubah, lebih tajam, lebih hidup. "Pesanmu semalam. Aku baru terima pagi tadi, dan sejak itu aku berusaha gila menghubungimu balik, tapi nomor dinasmu mati total. Kamu di mana? Kamu masih hidup?"
"Masih. Untuk sekarang." Reksa menunduk, menutup mulut dengan tangan, menjaga suaranya tetap pelan. "Aku buang ponsel dinasku. Mereka melacaknya. Ini nomor baru, sekali pakai. Pram, semua yang ada di pesanku itu benar. Lebih buruk malah."
Ada suara gesekan di seberang, seperti Pram berpindah ruangan, menutup pintu. "Dengar baik-baik, Reksa. Aku sudah baca pesanmu sampai lima kali. Nama Bhakim, CV Bahari Jaya, yayasan, pola operasi bocor, penembakan rekayasa. Aku sudah lihat hal-hal seperti ini di kota lain. Ini bukan kasus satu komisaris nakal. Ini struktur. Dan kalau strukturnya sebesar yang kamu gambarkan, kamu sedang berdiri di tengah ladang ranjau, nak."
"Aku tahu," kata Reksa. "Tadi pagi aku hampir mati di pelabuhan. Sekarang aku dan satu rekanku jadi buronan dengan tuduhan palsu. Wajahku ada di radio."
"Tunggu, ada rekan? Siapa? Kamu percaya dia?"
Reksa melirik ke arah Sari yang berdiri samar di bawah atap terminal. "Separuh," jawabnya jujur. "Cukup untuk hari ini."
Pram diam sejenak, lalu mendesah. "Itu sudah lebih bijak dari kebanyakan orang. Sekarang dengar, ini penting. Aku bisa bantu. Aku punya jalur. Aku punya redaksi nasional yang tidak bisa disentuh tangan-tangan lokalmu, dan aku punya kontak, satu, di antara penyidik antikorupsi yang masih bisa aku pertaruhkan namaku untuknya. Tapi ada syaratnya, dan ini yang harus kamu pegang erat-erat."
"Apa?"
"Jangan percaya satu instansi pun secara utuh." Suara Pram menajam. "Bukan Polda. Bukan Propam. Bukan kejaksaan. Bukan bahkan redaksi tempatku bekerja. Bukan karena semuanya busuk, tapi karena kamu tidak tahu mana yang busuk dan mana yang tidak. Jaring seperti ini selalu punya cabang di tempat yang paling tidak kamu duga. Kamu percaya orang, satu per satu, yang sudah membuktikan diri. Bukan lembaga. Lembaga itu pintu; kamu tidak pernah tahu siapa yang berdiri di baliknya."
Reksa menutup mata sejenak. Kata-kata itu menggema dengan apa yang sudah ia pelajari sendiri dengan harga mahal. Lendra. Dimas. Sari. Setiap kepercayaan yang ia tanam, sebagian tumbuh, sebagian membusuk, dan ia tidak pernah bisa tahu yang mana sebelum terlambat.
"Lalu apa yang harus aku lakukan?" tanya Reksa.
"Bertahan hidup, dulu. Itu nomor satu. Lalu kumpulkan bukti yang tidak bisa dibantah. Bukan dugaan, bukan pola, tapi bukti keras: dokumen asli, rekaman, kesaksian yang berani bersumpah. Kamu bilang punya sesuatu yang asli, yang kamu sembunyikan dari semua orang. Jaga itu dengan nyawamu. Jangan serahkan ke siapa pun, termasuk aku, sampai kita siap menembakkannya serentak, ke pers dan ke penyidik bersih di hari yang sama, jam yang sama. Kalau bocor satu kanal saja lebih dulu, mereka akan menutupnya dan kamu mati sia-sia."
Reksa membuka mata. Untuk pertama kalinya sejak fajar, ada sesuatu yang menyerupai pijakan di bawah kakinya. Bukan keselamatan. Tapi arah. Sebuah suara dari ibu kota, dari luar jangkauan Bhakim, persis seperti yang dijanjikan di hari kelulusan dulu.
"Aku akan cari cara menemuimu, atau orangku," kata Pram. "Beri aku waktu beberapa hari untuk mengatur jalur yang aman. Untuk sekarang, hilang. Jadi hantu. Jangan tinggalkan jejak. Dan Reksa..." Suaranya melunak sedikit. "Aku tahu kamu menyimpan nomor ini bertahun-tahun tanpa pernah memakainya. Itu berarti kamu memang seperti yang aku harapkan. Bertahanlah jadi orang itu. Itu satu-satunya kemenangan yang tidak bisa mereka rebut darimu."
Sambungan terputus. Reksa berdiri di kegelapan terminal, ponsel butut masih di tangan, dan untuk sesaat ia membiarkan dirinya merasakan sesuatu yang sudah lama tak ia rasakan: bukan harapan, tapi kemungkinan harapan. Lalu ia mencabut kartu SIM ponsel itu, mematahkannya, dan berbalik ke arah Sari.