Hujan tipis turun di Kota Garumi malam itu, jenis hujan yang tidak cukup deras untuk membasahi aspal sampai mengilap, tapi cukup untuk membuat segalanya terasa lembap dan kotor. Bripda Reksa berdiri di depan kaca lobi Polsek Garumi Timur, menatap pantulan dirinya sendiri dalam seragam yang masih kaku, masih berbau toko. Dua balok kecil di pundaknya, pangkat paling bawah, terasa lebih berat dari yang ia bayangkan semasa di akademi. Hari pertamanya.
"Anak baru, ya?" Seorang petugas piket meliriknya dari balik meja, tanpa benar-benar menunggu jawaban. "Jangan terlalu rajin. Di sini, rajin itu penyakit."
Reksa hanya tersenyum tipis. Ia sudah sering diperingatkan soal itu. Sejak masuk akademi, ada satu kalimat yang terus ia simpan: jadilah polisi yang dulu kamu harapkan datang menolong. Ayahnya seorang pedagang kecil yang pernah dirampok dan tidak pernah mendapat keadilan. Reksa tidak mau menjadi bagian dari sistem yang membuat orang seperti ayahnya menyerah.
Ada satu orang lagi yang menanamkan kalimat itu di kepalanya: Pram, kakak tingkatnya di akademi yang keluar dari kepolisian dan kini jadi wartawan investigasi di ibu kota. "Kalau suatu hari kamu lihat sesuatu yang busuk dan nggak tahu harus percaya siapa," kata Pram dulu, di hari kelulusan, sambil menyelipkan secarik kertas berisi nomor teleponnya, "simpan nomor ini. Jangan dibagi ke siapa pun. Suatu hari kamu mungkin butuh satu orang di luar yang nggak bisa mereka jangkau." Reksa menyimpan nomor itu, dan tidak pernah menyebutnya kepada siapa pun.
Pukul sebelas malam, panggilan radio masuk. Suara berderak. Ada laporan keributan di kawasan Pasar Lama, gang-gang sempit di belakang deretan ruko tua. Reksa, yang seharusnya hanya menjaga meja di hari pertama, justru ditugaskan ikut karena kekurangan personel. Ia naik ke mobil patroli bersama seorang senior bernama Aiptu Goldra, lelaki bertubuh tambun dengan napas berbau kopi dan rokok.
"Paling cuma orang mabuk," gumam Goldra sambil menyetir malas. "Kawasan itu memang busuk dari sananya."
Mereka memarkir mobil di mulut gang. Lampu jalan satu-satunya berkedip-kedip seperti sekarat. Reksa turun, senter di tangan, jantung berdebar lebih cepat dari yang ingin ia akui. Goldra memilih tetap di mobil, katanya mengawasi.
Gang itu berbau air comberan dan sampah basah. Dinding-dindingnya penuh coretan dan tetesan air. Reksa melangkah hati-hati, sepatu botnya berdecit di genangan. Di kejauhan, ia mendengar suara orang berbicara cepat, panik, lalu terdengar bentakan.
"Polisi! Diam di tempat!" teriaknya, senter mengarah ke depan.
Dua bayangan. Salah satunya berlari. Yang satu lagi berbalik, dan dalam sekejap Reksa melihat kilatan logam di tangannya. Otaknya bekerja lebih cepat dari pikirannya. Ia menjatuhkan diri ke samping. Suara tembakan memekakkan, memantul di antara dinding sempit, satu letusan keras yang membuat telinganya berdenging.
Reksa balas menarik pelatuk. Sekali. Hanya sekali.
Tubuh di depannya terhuyung, lalu ambruk ke genangan. Senjata terlempar dari tangannya, meluncur di aspal basah. Bayangan kedua sudah hilang ditelan kegelapan gang.
Reksa berdiri gemetar, asap masih mengepul tipis dari moncong pistolnya. Ia mendekat perlahan. Seorang lelaki muda, mungkin seumuran dengannya, terbaring dengan napas tersengal. Darah merembes di kemejanya, bercampur dengan air hujan, mengalir ke selokan.
"Tahan, tahan, ambulans segera datang," kata Reksa, suaranya bergetar. Tangannya menekan luka. Lelaki itu menatapnya, bibirnya bergerak, mencoba mengatakan sesuatu.
"Kamu... tidak tahu apa yang kamu ganggu," bisik lelaki itu, hampir tak terdengar. "Mereka... mereka ada di dalam. Di kantor kalian sendiri."
Sebelum Reksa sempat bertanya, mata lelaki itu meredup. Genggaman tangannya mengendur.
Goldra muncul di belakang Reksa, terengah, baru saja berlari masuk. "Astaga. Kamu menembak orang di hari pertama?" Ia berdecak, menatap mayat itu dengan ekspresi yang sulit dibaca. Bukan kaget. Bukan sedih. Sesuatu yang lebih mirip perhitungan.
"Dia menembak duluan," kata Reksa cepat. "Itu pembelaan diri. Ada saksi, ada rekaman luka tembak masuk—"
"Sudah, sudah." Goldra menepuk pundaknya. "Aku percaya. Tapi dengar, nak. Yang seperti ini, urusannya panjang. Biar aku yang lapor ke atasan. Kamu diam saja. Jangan banyak omong sama siapa pun."
Reksa menatap wajah lelaki yang sudah tak bernyawa itu. Air hujan membasuh darah dari dahinya. Di saku kemeja korban, ujung sebuah bungkus plastik kecil mengintip, berisi serbuk putih. Dan di pergelangan tangannya, tato kecil berbentuk jangkar.
Mereka ada di dalam. Di kantor kalian sendiri.
Reksa belum tahu apa arti kalimat itu. Tapi malam itu, di gang sempit yang bau, di hari pertamanya mengenakan seragam, sesuatu di dalam dadanya berubah. Ia tidak tahu bahwa ia baru saja menarik benang pertama dari sebuah jaring yang sangat besar, dan sangat busuk.