Mereka turun dari kos lewat tangga belakang, lebih cepat dari saat mereka naik. Di gang yang gelap, Reksa berhenti sejenak di depan selokan terbuka. Ia menatap ponsel dinas di tangannya, benda yang selama berbulan-bulan menjadi penghubungnya dengan dunia kepolisian, dengan tugas, dengan identitasnya sebagai Bripda Reksa.
Ia mencabut baterainya, mematahkan kartu SIM-nya menjadi dua dengan kuku ibu jari, lalu menjatuhkan badan ponsel itu ke selokan, ke air hitam yang mengalir ke entah mana. Plung. Sederhana. Sebuah identitas tenggelam di got.
"Kalau dugaanku benar," kata Reksa sambil menarik Sari menjauh, "mereka melacak lokasi terakhirnya di kos itu. Mereka akan datang ke sana, bukan ke sini. Itu memberi kita beberapa jam. Mungkin."
Mereka berjalan menjauh, berbelok dari gang ke gang, menghindari jalan utama, menghindari lampu. Reksa berpikir keras sambil berjalan. Selama ini ia menjadi mangsa karena tidak memahami cara musuh berburu. Sekarang ia mulai mengerti, dan memahami pemburu adalah langkah pertama untuk berhenti menjadi mangsa.
"Mereka punya tiga mata," kata Reksa, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Sari. "Pertama, data seluler. Ponsel, lokasi, daftar panggilan, isi pesan kalau mereka mau usaha lebih. Itu sudah aku potong. Mulai sekarang, kalau kita perlu menelepon, kita pakai telepon umum atau ponsel sekali pakai yang dibeli tunai, tanpa nama. Kedua..."
"CCTV," sambung Sari, mulai mengerti irama pikiran Reksa. "Kamera kota. ATM. Minimarket. Mereka bisa minta rekaman dari mana saja, terutama kalau mereka mengatasnamakan operasi resmi memburu 'dua polisi pencuri barang bukti'. Mereka punya alasan hukum untuk mengakses semuanya."
"Benar. Jadi kita hindari jalan besar, hindari minimarket, hindari bank. Kita pakai topi, kita menunduk, kita berbaur di kerumunan. Kita bergerak di tempat-tempat yang tidak ada kameranya, pasar tradisional, gang kampung, terminal lama." Reksa menarik napas. "Ketiga, dan ini yang paling berbahaya, jaringan internal mereka sendiri. Setiap pos polisi, setiap razia, setiap anggota di lapangan, sekarang mata mereka. Mereka tidak perlu menemukan kita sendiri. Mereka cukup membuat ratusan polisi lain mencarikan kita untuk mereka, dengan menyebar foto kita sebagai buronan."
Sari diam beberapa langkah. Lalu, "Kamu cepat belajar. Lendra butuh berbulan-bulan untuk memahami ini, dan dia keburu mati sebelum benar-benar paham."
Reksa tidak menjawab pujian itu. Ia tidak merasa pintar. Ia merasa seperti tikus yang baru menyadari seberapa rumit perangkap di sekitarnya, dan satu-satunya alasan ia masih hidup adalah karena ia mulai membaca kawat-kawat jebakan itu sebelum menginjaknya.
Mereka berhenti di sebuah terminal bus tua yang setengah mati, tempat angkutan antarkota yang sudah jarang dipakai. Di sudut, ada warung remang dengan beberapa kursi plastik. Reksa membeli dua bungkus nasi dengan uang tunai, lalu, dari seorang pedagang asongan yang menjual rokok dan pulsa, ia membeli sebuah ponsel butut bekas seharga seratus ribu, lengkap dengan kartu perdana yang sudah aktif, tanpa nama, tanpa registrasi yang bisa ditelusuri ke dirinya.
Ia menimang ponsel murah itu di telapak tangannya. Benda kotor, retak di sudut, tapi bersih dari sejarah. Tidak ada yang tahu nomornya. Tidak ada yang memantaunya. Untuk pertama kalinya dalam dua hari, ia memegang sesuatu yang tidak mengkhianatinya.
Ada satu nomor yang ia hafal di luar kepala, nomor yang tidak pernah ia simpan di ponsel mana pun karena ia tahu, sejak hari kelulusan, bahwa nomor itu terlalu berharga untuk ditinggalkan jejaknya. Ia menatap layar retak itu, ragu sejenak, lalu mulai menekan angka demi angka.
"Siapa yang kamu hubungi?" tanya Sari, menatapnya tajam dalam remang warung.
Reksa berhenti, jarinya menggantung di atas tombol panggil. Ia menatap Sari, perempuan yang ia percaya separuh, dan memutuskan separuh itu belum mencakup nama ini.
"Asuransiku sendiri," jawabnya. "Yang bahkan kamu tidak tahu."