Kos kosong itu berada di lantai dua sebuah rumah tua di gang sempit, salah satu dari banyak bangunan yang setengah ditinggalkan di kota yang penghuninya pelan-pelan pindah ke pinggiran. Reksa dan Sari masuk lewat belakang, lewat tangga besi yang berkarat, dengan kewaspadaan dua orang yang tahu bahwa rasa aman adalah ilusi paling mahal.
Kamar itu sudah diobrak-abrik. Kasur terbalik. Laci-laci terbuka. Sisa-sisa penggeledahan komplotan Bhakim semalam. Tapi tepat seperti dugaan Reksa, kosong dari penjaga. Mereka sudah mengambil apa yang mereka kira ada, dan pergi. Untuk satu malam, ruang yang sudah dijarah ini menjadi persembunyian.
Reksa membersihkan luka di lengannya dengan air dan kain bekas, lalu membantu Sari mengganti balutan. Mereka makan roti kering dan air keran. Tidak ada yang berani menyalakan lampu. Hari beralih menjadi sore, lalu malam, dan gang di luar tenggelam dalam gelap.
Untuk pertama kalinya dalam berjam-jam, Reksa merasa otaknya cukup tenang untuk berpikir jernih. Ia duduk bersandar ke dinding, menatap langit-langit yang berbercak, sama seperti langit-langit kontrakannya dulu. Ia memutar ulang seluruh pagi itu di kepalanya. Bhakim yang menunggu. Sirene yang datang. Goldra di antara kontainer.
Dan satu hal mulai mengganggunya.
Bhakim tahu ia akan datang jam enam. Itu wajar, Bhakim sendiri yang menentukan. Tapi Goldra, di antara kontainer, berkata: "Aku tahu kamu di sekitar sini, nak." Bagaimana Goldra tahu ke arah mana ia lari, di labirin peti kemas seluas itu? Bagaimana komplotan Bhakim bisa menggeledah kos ini begitu cepat semalam, padahal alamat ini hanya diketahui ia dan Sari?
Reksa mengeluarkan ponselnya. Ponsel dinas. Benda yang selama ini selalu ia bawa, selalu menyala, selalu di sakunya.
"Sari," katanya pelan. "Kamu masih bawa ponsel dinasmu?"
Sari yang setengah tertidur membuka mata. "Tidak. Mereka ambil waktu menyandera aku. Kenapa?"
Reksa menatap layar ponselnya yang menyala redup di kegelapan. "Karena aku mulai mengerti kenapa mereka selalu selangkah di depan. Bukan cuma karena ada pengkhianat. Tapi karena mereka tidak perlu pengkhianat untuk mengikuti aku. Mereka cuma perlu ini."
Ia membalik ponsel itu, menatapnya seolah benda itu seekor ular yang baru ia sadari menggelung di telapaknya. Lokasi. Setiap menara seluler yang ditangkapnya, setiap jejak data yang ditinggalkannya, semuanya bisa dibaca oleh orang yang punya akses ke jaringan, dan komisaris narkoba dengan koneksi ke Polda jelas punya akses itu. Bahkan kalau ponsel dalam keadaan diam di saku, ia tetap berbisik kepada menara terdekat: aku di sini, aku di sini, aku di sini.
Reksa teringat CCTV lorong kantor yang "menyala" tepat saat ia menolak amplop Bhakim. Teringat foto dirinya dan Sari di lapangan parkir yang muncul di amplop ancaman. Teringat betapa setiap langkahnya seolah sudah dibaca sebelum ia melangkah. Selama ini ia mengira musuh punya mata di mana-mana. Sebagian benar. Tapi sebagian besar, mata itu ada di sakunya sendiri, ia bawa ke mana pun ia pergi, ia susui dengan setiap pergerakannya.
"Astaga," bisik Sari, kini sepenuhnya terjaga, menatap ponsel itu dengan ngeri yang sama. "Sepanjang hari ini. Sejak pelabuhan. Kamu membawanya."
"Aku membawanya," ulang Reksa, suaranya datar. Dan ia mengerti, dengan dingin yang menusuk, bahwa kos kosong ini, rumah aman terakhirnya, tidak aman lagi. Tidak pernah aman sejak ia melangkah masuk dengan benda ini di saku. Mereka mungkin sudah tahu. Mereka mungkin sedang dalam perjalanan saat ini juga.
Ia bangkit, menarik Sari berdiri. "Kita harus pergi. Sekarang. Dan ponsel ini tidak ikut."