Mereka keluar dari kawasan pelabuhan lewat tanggul, menyusuri tepi laut sampai ke perkampungan nelayan, lalu menumpang truk pengangkut es yang sopirnya terlalu mengantuk untuk bertanya. Pagi sudah penuh ketika Reksa dan Sari turun di pinggiran kota, di sebuah pasar yang baru bangun. Reksa membeli dua topi dan jaket murah dari pedagang kaki lima, sesuatu untuk menutupi seragam compang-camping dan lengan yang berdarah.
Di sebuah warung kopi pinggir jalan, sambil menunggu luka mereka mengering, Reksa menyalakan radio kecil yang tergantung di tiang warung. Dan saat itulah ia mendengarnya.
"...dua anggota Kepolisian Sektor Garumi Timur dinyatakan dalam pencarian setelah diduga terlibat pencurian barang bukti dan meninggalkan tugas tanpa izin. Keduanya, berinisial R dan S, terakhir terlihat di kawasan pelabuhan lama, lokasi penembakan dini hari tadi yang menewaskan dua orang. Pihak kepolisian mengimbau masyarakat yang melihat keduanya untuk segera melapor. Kapolsek menyatakan akan menindak tegas..."
Reksa menatap radio itu seolah benda mati itu telah mengucapkan namanya keras-keras di tengah keramaian. Penembakan yang menewaskan dua orang. Salah satunya pasti anak buah Toni yang ia tembak. Yang satu lagi, entah siapa. Dan sekarang darah itu disematkan ke punggungnya.
"Cepat sekali," gumam Sari, menarik topinya lebih rendah. "Mereka sudah menyiapkan narasinya bahkan sebelum matahari naik. Pencuri barang bukti. Desersi. Pintar. Sekarang setiap polisi di kota ini mencari kita, dan mereka pikir mereka memburu penjahat, bukan menutupi kejahatan."
Reksa menatap jalanan. Sebuah mobil patroli melintas pelan di ujung jalan. Ia menunduk, menyeruput kopinya yang pahit, jantungnya berdebar. Seragam yang dulu ia kenakan dengan bangga di hari pertama, seragam yang ia harapkan menjadi simbol bahwa ia salah satu dari "polisi yang dulu ia harapkan datang menolong", kini menjadi jubah pemburu yang mengarah ke lehernya sendiri. Setiap orang berseragam adalah ancaman. Setiap sirene adalah panggilan kematian.
"Kita tidak bisa ke kantor," kata Reksa pelan. "Tidak bisa ke pos polisi mana pun. Tidak bisa percaya satu pun dari mereka."
"Dan tidak bisa lapor ke Polda," tambah Sari. "Kita tidak tahu seberapa tinggi jaring ini naik. Kamu lapor ke orang yang salah di Polda, kita mati lebih cepat lagi. Bhakim tidak mungkin sebesar ini sendirian. Pasti ada yang melindunginya dari atas."
Reksa mengangguk. Itu benang yang sudah lama menggantung di benaknya. Sosok di pelabuhan yang membelakangi cahaya. Cara operasi selalu bocor dengan presisi yang melampaui satu komisaris. Bhakim bukan puncaknya. Bhakim hanya simpul yang kebetulan paling dekat dengannya.
"Jadi kita ke mana?" tanya Sari.
Reksa menghabiskan kopinya. Di kepalanya, satu nama berputar, satu kontak yang masih belum membalas, satu kartu yang ia mainkan di jembatan tadi malam dan belum tahu apakah menghasilkan apa-apa. Ia belum siap menyebut nama itu pada Sari. Belum. Naluri lama yang sama.
"Ke tempat yang tidak mereka kira kita berani datang," kata Reksa. Ia berdiri, menarik topinya. "Tempat yang sudah mereka kosongkan, jadi mereka pikir tidak ada gunanya menjaganya lagi."
Sari menatapnya, lalu mengerti. "Kos kosong itu. Markas lama kita."
"Mereka sudah menggeledahnya. Mereka pikir tidak ada lagi yang tersisa di sana. Justru karena itu, untuk satu malam, itu tempat paling aman di kota ini." Reksa menatap jalan, memastikan tidak ada patroli, lalu menarik lengan Sari. "Ayo. Sebelum wajah kita terpampang di setiap pos ronda."
Mereka berbaur ke dalam keramaian pasar, dua bayangan di antara ratusan orang biasa yang menjalani pagi biasa, tak ada yang tahu bahwa dua orang yang berjalan di antara mereka kini punya harga di kepala, dipasang oleh tangan yang berseragam sama.