"Kamu mau kebenaran?" Suara Sari parau, hampir hilang. Ia bersandar ke tanggul beton, memejamkan mata sejenak, lalu membukanya. "Kebenaran itu tidak bersih, Reksa. Tidak seperti yang kamu mau. Kebenaranku abu-abu, seperti semua hal di kota ini."
Reksa tidak menjawab. Ia menunggu. Di tangannya, tanpa ia sadari, jari-jarinya menggenggam erat gagang pistol yang masih hangat.
"Tiga tahun lalu, Lendra menggali persis seperti kamu," kata Sari, matanya menatap air keruh di bawah. "Aku tahu apa yang dia gali. Aku membantunya, di awal. Lalu Bhakim memanggilku. Dia tidak menyuap. Dia tidak mengancam langsung. Dia hanya... menunjukkan padaku foto-foto. Ibuku, di rumah sakit. Adikku, di tempat kerjanya. Anak adikku, pulang sekolah. Dia tidak bilang apa-apa soal foto-foto itu. Dia hanya tersenyum dan bertanya bagaimana kabar keluargaku." Suaranya bergetar. "Lalu dia bertanya, apa yang Lendra ketahui."
Reksa merasakan perutnya mengerut.
"Aku tidak menjual Lendra." Sari menoleh, menatapnya lurus, dan ada api di mata yang lebam itu. "Aku bersumpah, Reksa. Aku tidak pernah bilang ke Bhakim apa yang Lendra punya. Tapi aku diam. Aku menjauh dari Lendra. Aku berhenti membantunya, berhenti membalas teleponnya, supaya mereka pikir aku sudah tidak terlibat, supaya keluargaku aman. Aku meninggalkan dia sendirian. Dan dua minggu kemudian, mobilnya di dasar sungai." Ia menelan ludah. "Mungkin diamku itu yang membunuhnya. Mungkin kalau aku ada di sisinya, mereka tidak akan berani. Aku tidak akan pernah tahu. Itu yang aku tanggung tiap malam selama tiga tahun."
"Lalu Bhakim bilang kamu umpannya," kata Reksa. "Sejak Lendra mati. Dia bilang kamu sengaja mendekatiku."
Sari tertawa pahit, suara yang lebih mirip batuk. "Tentu dia bilang begitu. Itu cara dia. Dia menabur racun supaya kita saling bunuh sendiri. Apa aku miliknya? Sebagian, ya. Setelah Lendra, aku jadi orang yang dia awasi. Sesekali dia minta aku 'mengabari' soal ini-itu di kantor, hal-hal kecil, dan aku berikan yang tidak berbahaya, supaya keluargaku tetap aman. Aku hidup dengan rantai itu dua belas tahun terakhir, Reksa. Itu kebenaranku yang kotor. Aku bukan polisi bersih yang kamu kira. Aku polisi yang bertahan hidup."
Reksa menatapnya, dan dalam dirinya dua suara berperang. Satu berkata: dia mengaku berhubungan dengan Bhakim, dia berbahaya, jangan percaya satu kata pun. Yang lain berkata: kalau dia benar-benar umpan, dia tidak akan menyuruhku lari tadi, tidak akan ada lebam di wajahnya, tidak akan ada surat itu.
"Surat itu," kata Reksa. "'Maafkan aku. Larilah. Jangan ke stasiun.' Kenapa?"
Air mata mengalir lagi di pipi Sari, tapi suaranya tetap. "Karena waktu Bhakim memberitahuku dia akan menjebakmu, aku sadar aku berdiri di tempat yang sama persis dengan tiga tahun lalu. Pilihan yang sama. Diam dan selamat, atau bicara dan mati. Dan aku memutuskan aku tidak mau diam dua kali. Aku tidak bisa menyelamatkanmu sepenuhnya, Reksa. Aku terlalu pengecut untuk itu. Tapi aku bisa memperingatkanmu. Itu satu-satunya keberanian yang aku punya. Setengah keberanian. Aku menyesal itu cuma setengah."
Hening. Hanya air laut dan sirene yang jauh.
Reksa menarik napas panjang. Ia tahu ia tidak bisa mempercayai Sari sepenuhnya. Mungkin tidak akan pernah. Pengkhianatan, sekali ditanam, meninggalkan bekas yang tidak hilang. Tapi ia juga tahu, dengan kepastian seorang anak pedagang yang membaca orang seperti membaca angka, bahwa lebam di wajah ini dan air mata ini bukan akting. Setidaknya, tidak seluruhnya.
"Aku percaya separuh dari yang kamu katakan," kata Reksa akhirnya, pelan. "Itu cukup untuk hari ini. Cukup untuk membuat kita berdua tetap hidup. Tapi bukti yang asli tetap padaku, dan tetap tidak akan kamu lihat. Bukan karena aku benci kamu. Tapi karena aku belajar, dari kamu, bahwa orang yang paling kita percaya pun bisa berdiri di garis abu-abu. Kamu mengajariku itu, Sari. Diam-diam."
Sari menatapnya, dan untuk pertama kalinya, di balik luka dan kelelahan itu, ada sesuatu yang mirip rasa hormat. "Bagus," bisiknya. "Jangan pernah percaya aku sepenuhnya. Itu satu-satunya cara kamu bertahan."