Goldra tidak datang sendiri. Reksa bisa mendengarnya dari langkah kaki yang lebih dari satu pasang, dari cara suara-suara itu saling memberi kode di antara lorong kontainer. Mereka menyisir. Sistematis. Goldra mungkin malas dan tambun, tapi ia polisi dua puluh tahun lebih; ia tahu cara menggiring buruan ke sudut.
Reksa menarik Sari lebih dalam, ke celah sempit antara dua kontainer yang ditumpuk tak rata, ruang gelap yang baunya seperti besi dan air laut basi. Ia merobek lengan bajunya yang sudah koyak, melilitkannya ke lengan Sari yang terluka, menariknya kencang. Sari meringis tapi tak bersuara. Ia tahu aturannya. Suara berarti mati.
"Reksa," bisik Sari, hampir tanpa napas. "Dengar. Kalau mereka menangkap kita berdua, kamu serahkan aku. Bilang aku menyandera kamu. Bilang apa saja. Kamu masih punya bukti. Bukti itu lebih penting dari—"
"Berhenti." Reksa menatapnya. Dalam remang itu, wajah Sari setengah lebam, setengah pucat, terlihat lebih tua dan lebih lelah dari yang pernah ia lihat. "Kita keluar bersama atau tidak sama sekali."
Goldra makin dekat. Reksa bisa mendengar napasnya yang berat, langkahnya yang menyeret di lumpur. "Aku tahu kamu di sekitar sini, nak," kata Goldra, suaranya lebih lunak sekarang, hampir membujuk. "Dengar. Bhakim, dia sudah hilang akal. Mau bereskan semua orang di pelabuhan ini, termasuk kita-kita. Tadi ada mobil patroli datang, entah dari mana, sekarang dia panik. Ini kesempatanmu. Kamu serahkan diri ke aku, aku bawa kamu keluar lewat jalan yang aman. Bukti itu kamu kasih ke aku, aku yang teruskan ke atas. Aku capek, nak. Aku sudah tua. Aku nggak mau mati di tempat busuk ini."
Reksa hampir tertawa, getir, kalau saja itu tidak akan membongkar posisinya. Goldra, lelaki yang membawanya ke gang rekayasa di hari pertama. Goldra, yang melaporkan setiap gerakannya ke Bhakim. Goldra, yang memberinya amplop suap yang kini nomor serinya tersimpan rapi sebagai bukti. Dan sekarang Goldra menawarkan "jalan yang aman".
Reksa menggeser posisinya, mengintip lewat celah. Goldra ada di lorong sebelah, sekitar sepuluh meter, sendirian untuk sesaat, dua anak buah Toni bergerak ke arah lain. Reksa bisa menyergapnya. Melumpuhkannya. Mengambil senjata dan radio. Tapi tembakan apa pun akan memanggil seluruh pelataran ke sini.
Ia menunggu. Goldra lewat. Langkahnya menjauh, menyeret, putus asa. Suaranya makin samar. "Reksa... jangan keras kepala kayak Lendra... lihat di mana Lendra sekarang..."
Begitu Goldra cukup jauh, Reksa menarik Sari keluar dari celah, ke arah berlawanan, menyusuri bayangan kontainer menuju ujung utara kompleks, ke arah laut. Sirene di pelataran kini bercampur dengan teriakan dan satu dua letusan sporadis. Sesuatu sedang terjadi di sana, kekacauan yang entah menguntungkan atau membahayakan mereka, Reksa tak tahu.
Mereka tiba di tepi kompleks, sebuah pagar kawat berkarat yang sudah jebol di beberapa titik, di baliknya tanggul rendah dan air laut keruh yang menjilat tiang-tiang dermaga yang lapuk. Reksa menyelipkan Sari lewat lubang pagar, lalu dirinya, merobek lagi jaketnya pada kawat tajam.
Di balik tanggul, mereka jongkok, tersembunyi dari kompleks, napas keduanya berebut udara. Untuk pertama kalinya sejak fajar, Reksa merasa jarak cukup untuk bicara.
Ia menoleh ke Sari. Wajahnya keras sekarang, semua keraguan dan kelembutan yang biasa ia simpan untuk perempuan ini terbakar habis oleh pagi ini. "Sekarang kamu bicara," katanya, suaranya rendah, dingin. "Tidak ada lagi setengah-setengah. Tidak ada lagi 'kamu tidak akan mengerti'. Bhakim bilang kamu miliknya. Kamu yang menjual Lendra. Kamu yang menjual aku. Lalu kamu kirim surat menyuruhku lari. Tadi kamu menyuruhku pergi, lalu kamu menyuruhku menyerahkanmu. Aku tidak tahu lagi siapa kamu, Sari. Jadi sekarang, di sini, sebelum kita melangkah satu meter pun lebih jauh, kamu jelaskan. Kamu di pihak siapa."
Sari menatapnya lama. Air laut memukul tanggul di bawah mereka. Di kejauhan, sirene meraung. Lalu ia membuka mulut.