Suara itu memecah pagi seperti pisau. Reksa membeku setengah jongkok, map masih di tangan. Kepala semua orang di pelataran berputar ke arah jalan tanah. Bhakim, untuk pertama kalinya sejak Reksa mengenalnya, kehilangan ketenangannya selama satu detik penuh.
"Apa itu?" Bhakim membentak, menoleh ke arah atap. "Siapa yang panggil—kalian tidak bilang ada—"
Lampu. Di balik tirai gerimis, cahaya merah dan biru berkedip, memantul di genangan, mendekat. Bukan satu. Reksa melihat dua, tiga titik cahaya bergerak di jalan tanah yang menuju pelabuhan. Ia tidak tahu siapa mereka. Ia tidak tahu apakah ini Pram, atau Mabes, atau justru bala bantuan Bhakim sendiri yang datang untuk menutup rapat tempat kejadian. Tapi ia tahu satu hal: untuk beberapa detik berharga, semua mata yang tadinya tertuju padanya kini tertuju ke arah lain.
Reksa tidak membuang detik itu.
Ia melempar map umpan itu ke udara, ke arah Bhakim, sekuat tenaga. Kertas-kertas buram berhamburan, melayang tertiup angin laut, jatuh berserakan di lumpur. Mata Bhakim dan dua anak buahnya refleks mengikuti kertas-kertas yang beterbangan itu. Dan Reksa sudah bergerak.
Ia melompat ke pelataran, berlari rendah, zig-zag, ke arah Sari. Sebuah teriakan terdengar dari atap. Lalu letusan pertama. Reksa merasakan udara di samping telinganya bergetar, percikan beton meledak dari lantai semen di dekat kakinya. Ia tidak berhenti. Anak pedagang yang pernah dirampok tahu satu hal: yang berhenti, yang habis.
Ia mencapai Sari, menjatuhkan diri di belakang kursinya, menggunakan tubuh dan kursi plastik itu sebagai perisai sesaat. Tangannya merogoh ke belakang, ke ikatan di pergelangan Sari. Tali plastik. Ketat. Ia mengeluarkan pisau lipat dari saku, membukanya dengan satu tangan, gerakan yang ia latih ribuan kali di akademi tanpa pernah membayangkan akan sungguh memakainya untuk ini.
"Aku tahu kamu akan datang," desis Sari, suaranya serak. "Bodoh. Bodoh sekali kamu—"
"Diam dan tahan tanganmu." Reksa menggergaji tali itu. Letusan kedua. Ketiga. Kursi plastik di sampingnya pecah. Sari menjerit tertahan. Lalu tali putus. Tangan Sari bebas.
"Lari ke kontainer di timur," kata Reksa, menarik lengan Sari. "Yang ada tulisan Bahari—sekarang!"
Mereka berlari. Di belakang, terdengar suara Bhakim berteriak, marah, kacau, memerintahkan anak buahnya entah menembak Reksa atau menghadang mobil yang datang. Suara sirene makin dekat, makin keras, bercampur dengan letusan senjata dalam orkestra yang membuat telinga Reksa berdenging seperti malam di gang itu.
Salah seorang anak buah Toni, yang tadi sembunyi di balik forklift, muncul di jalur lari mereka, senjata teracung. Reksa tidak punya waktu berpikir. Pistolnya sudah di tangan, entah sejak kapan, refleks dari latihan dan dari hari pertamanya. Dua tembakan. Lelaki itu terhuyung, jatuh ke belakang, senjatanya terlempar ke genangan. Reksa tidak berhenti untuk melihat. Ia mendorong Sari maju, ke dalam labirin kontainer.
Mereka berbelok di antara peti-peti kemas yang ditumpuk dua, tiga tingkat, menciptakan lorong-lorong sempit yang gelap meski hari sudah terang. Suara langkah dan teriakan mengejar di belakang. Reksa berbelok kiri, kanan, kiri lagi, menjauh dari pelataran, menjauh dari sirene, menjauh dari semuanya, sampai suara-suara itu menjadi gema yang membingungkan, sampai ia tidak tahu lagi mana yang mengejar dan mana yang melarikan diri.
Akhirnya mereka berhenti, terjepit di sudut buntu antara dinding gudang dan tumpukan kontainer, napas keduanya memburu. Reksa menempelkan punggungnya ke besi, mengintip kembali ke arah datangnya. Tidak ada yang mengikuti. Untuk sekarang.
Sari merosot ke tanah, memegangi lengannya. Darah merembes di antara jari-jarinya. Reksa baru sadar lengan bajunya sendiri robek, dan ada garis panas membakar di lengan kirinya. Ia menyentuhnya. Merah. Tergores peluru. Dangkal, tapi cukup untuk membuat tangannya gemetar sekarang setelah adrenalin mulai surut.
"Sirene itu," Sari terengah, "kamu yang panggil?"
Reksa menggeleng. "Aku tidak tahu siapa itu." Ia mengintip lagi ke lorong kontainer. "Tapi kalau mereka polisi, mereka bisa jadi orangnya Bhakim. Dan kalau mereka orang luar, kita tetap buron yang kabur dari TKP penembakan. Mana pun, kita tidak bisa keluar lewat depan."
Di kejauhan, di balik dinding-dinding karat, suara Bhakim masih terdengar, kini bercampur suara orang lain yang berteriak memberi perintah dengan nada birokratis. Lalu, lebih dekat, sebuah suara yang Reksa kenal terlalu baik. Berat, serak oleh rokok, menggema di antara kontainer.
"Reksa! Bripda Reksa!" Goldra. "Keluar, nak. Sebelum ini jadi lebih jelek dari yang sudah-sudah. Aku cuma mau bicara."
Reksa menutup mulut Sari dengan tangan, menatapnya, dan menggeleng pelan. Mereka tenggelam lebih dalam ke bayang-bayang.