Satu menit itu terasa seperti satu jam. Reksa berdiri di balik kontainer, punggung menempel ke besi dingin, otaknya bekerja seperti tangannya dulu menyalin angka-angka di ruang arsip. Ia membutuhkan waktu. Setiap detik yang ia ulur adalah satu detik lebih banyak bagi pesan ke Pram untuk berbuah, atau bagi dirinya untuk menemukan celah di antara enam moncong yang teracung.
Ia mengeluarkan sebuah map cokelat dari dalam jaketnya. Bukan map yang berisi bukti asli. Map umpan. Dokumen setengah jadi yang dulu ia siapkan untuk loker stasiun, salinan dari salinan, fotokopi buram yang tampak meyakinkan dari kejauhan tapi tak punya nilai pembuktian sama sekali. Ia menimangnya sejenak. Lalu ia melangkah keluar dari balik kontainer, mengangkat map itu tinggi-tinggi dengan tangan kiri, tangan kanan terbuka menunjukkan ia tak memegang senjata.
"Ini buktinya," serunya, berjalan pelan ke pelataran. "Semuanya. Aliran uang dari Bahari Jaya ke yayasan. Catatan operasi yang bocor. Foto-foto pelabuhan. Semua ada di sini."
Mata Bhakim menyipit, menatap map itu dari jarak dua puluh meter. Reksa berhenti, sengaja, di titik di mana ia masih punya kontainer di belakangnya, di titik di mana sosok di atap harus mengubah posisi untuk membidiknya dengan baik.
"Lepaskan Sari dulu," kata Reksa. "Suruh dia berjalan ke arah saya. Begitu dia lewat setengah jarak, saya taruh map ini di tanah, lalu mundur. Kamu ambil mapnya, saya ambil Sari. Tidak ada yang perlu mati hari ini, Pak. Kamu dapat buktinya, kamu menang, dan tidak ada laporan baru yang harus kalian rapikan."
Bhakim diam. Reksa tahu apa yang sedang dihitung lelaki itu. Bhakim tidak pernah membiarkan ada saksi. Hendarta mati. Dimas mati. Sari, terlepas pengkhianat atau bukan, tahu terlalu banyak. Dan Reksa, anak baru yang menolak amplop, tidak akan pernah dibiarkan berjalan keluar dari pelataran ini dengan napas masih di dadanya. Pertukaran ini, di kepala Bhakim, selalu berakhir dengan dua mayat dan satu map.
"Kamu pikir saya bodoh?" kata Bhakim akhirnya, senyumnya kembali, dingin. "Begitu kamu pegang Sari, kalian berdua lari. Tidak. Kamu yang masuk, Reksa. Taruh mapnya di kaki saya. Lalu kita bicara baik-baik soal nyawa siapa yang pulang."
"Dan saya yang bodoh kalau percaya itu," balas Reksa. Ia tidak bergerak maju. "Kita berdua tahu apa yang menunggu saya di dalam. Sama seperti yang menunggu Hendarta di gang itu."
Sesuatu berkelebat di wajah Bhakim, hanya sekejap, lalu hilang. "Kamu sudah dengar ceritanya rupanya," gumamnya. "Sayang sekali Dimas tidak bisa menjaga mulutnya."
Reksa mengulur waktu. Ia bicara tentang apa pun yang bisa membuat lidah Bhakim terus bergerak, karena selama Bhakim bicara, tidak ada yang menarik pelatuk. Ia bertanya tentang Lendra. Ia bertanya tentang yayasan. Ia melempar tuduhan, sebagian benar, sebagian tebakan, dan menonton mana yang membuat rahang Bhakim mengeras. Setiap jeda, ia melirik ke timur, ke jalan tanah berlumpur yang menjadi satu-satunya akses ke pelabuhan.
Kosong. Masih kosong.
Bhakim, mungkin merasakan permainan itu, kehilangan kesabaran. "Cukup. Map. Sekarang. Atau saya hitung sampai tiga, dan anak buah saya yang menyelesaikan obrolan ini. Satu."
Reksa menatap Sari. Sari menggeleng lagi, kali ini lebih keras, air mata mengalir di pipi lebamnya.
"Dua."
Reksa menunduk, perlahan, seolah hendak meletakkan map ke tanah seperti diminta. Lututnya menekuk. Tangannya turun. Otot-ototnya menegang seperti kawat yang ditarik. Ia tahu begitu map menyentuh tanah, begitu Bhakim merasa tak lagi membutuhkannya, hitungan akan berakhir di angka tiga dengan timah, bukan kata.
"Tig—"
Dan di kejauhan, dari arah jalan tanah, di balik deru gerimis dan angin laut, sebuah suara mulai meninggi. Tipis dulu, lalu jelas. Naik turun, melengking, memantul di antara kontainer-kontainer karat.
Sirene.