Gerimis belum berhenti ketika Reksa mematikan mesin motornya dua ratus meter dari mulut gudang pelabuhan lama. Langit di timur baru memucat, abu-abu kotor seperti air cucian piring. Ia menuntun motornya ke balik tumpukan drum berkarat, menyandarkannya, lalu berjalan kaki sisanya. Tanah berlumpur menempel di sol sepatu botnya. Bau garam, solar, dan ikan busuk menyergap hidungnya, bau yang sama dengan malam ia hampir tertangkap dulu.
Di saku jaketnya, salinan bukti asli terasa seperti bara. Satu-satunya yang nyata. Kartu yang bahkan Sari tak pernah tahu ada.
Pukul enam kurang sepuluh. Reksa berhenti di balik kontainer terakhir sebelum pelataran terbuka. Dari celah antara dua peti kemas, ia mengamati.
Gudang itu menganga, pintu sliding besinya terbuka separuh. Di dalam, di bawah satu lampu sorot tunggal yang menggantung, Sari duduk di kursi plastik. Tangannya terikat ke belakang. Kepalanya tertunduk, rambutnya menutup sebagian wajah, tapi Reksa bisa melihat lebam gelap di pelipisnya. Dadanya naik turun. Hidup. Setidaknya ia hidup.
Di samping Sari berdiri Komisaris Bhakim, mengenakan jaket parka mahal, bukan seragam. Tenang. Tangannya di saku. Ia menatap arahnya seolah sudah tahu persis dari celah mana Reksa mengintip.
"Jangan malu-malu, Reksa," seru Bhakim, suaranya memantul di dinding-dinding seng. "Saya tahu kamu di situ. Anak pedagang selalu mengintip dulu sebelum membeli. Masuklah."
Reksa tidak bergerak. Naluri lamanya, naluri yang membuatnya menyembunyikan bukti asli, kini menjerit. Ia memindai pelataran dengan ekor matanya. Dan saat itulah ia menyadarinya.
Mereka ada di mana-mana.
Di atap gudang, satu sosok berjongkok di balik talang, ujung sesuatu yang panjang teracung ke pelataran. Di balik forklift tua, dua kaki menyembul. Di mulut gudang sebelah, bara rokok berkedip sekali, lalu padam, disembunyikan telapak tangan. Reksa menghitung dalam hati seperti ia menghitung selisih barang bukti dulu. Empat. Lima. Mungkin enam. Orang-orang Toni. Bersenjata. Ditempatkan dengan rapi, seperti orang yang sudah biasa memasang jebakan dan tahu dari arah mana mangsanya datang.
Ini bukan pertukaran. Ini eksekusi yang dipancing dengan iming-iming pertukaran.
Reksa menelan ludah. Jantungnya berdebar di rongga dadanya, tapi tangannya tetap, kebiasaan yang ia tak tahu dari mana datangnya. Ia melirik ke arah gudang lagi. Toni belum kelihatan. Hanya Bhakim, Sari, dan kelima atau keenam bayangan itu.
"Saya datang sendiri," seru Reksa balik, suaranya berusaha rata. Ia belum menampakkan diri sepenuhnya, hanya membiarkan suaranya keluar dari balik kontainer. "Itu yang kamu minta. Saya bawa buktinya. Tapi saya tidak akan masuk ke gudang selama orang-orang itu masih bersembunyi di atap dan di belakang forklift, Pak. Saya bukan Hendarta. Saya tidak akan masuk ke gang yang sudah kalian siapkan."
Hening sejenak. Lalu Bhakim tertawa, tawa rendah yang nyaris terdengar tulus. "Bagus. Bagus sekali. Kamu belajar cepat." Ia menoleh ke kiri, ke kanan, lalu mengangkat tangannya, memberi isyarat. Sosok di atap turun setapak, tidak sepenuhnya menghilang. "Lihat? Kita sama-sama hati-hati. Itu wajar. Kita ini profesional."
Reksa melihat Sari mengangkat kepalanya. Matanya, bahkan dari jarak ini, bahkan dengan satu mata yang bengkak, menatap lurus ke arah suara Reksa. Bibirnya bergerak. Reksa tidak bisa mendengarnya, tapi ia bisa membacanya. Satu kata, diulang dua kali, panik dan tegas dalam waktu bersamaan.
Pergi. Pergi.
Lalu Sari menggeleng pelan, sekali, gerakan kecil yang nyaris tak terlihat. Jangan tukar. Jangan masuk.
Reksa merasakan sesuatu yang dingin merayap di punggungnya. Bila Sari benar pengkhianat, untuk apa ia menyuruhnya pergi sekarang, saat jebakan sudah matang? Bila ia benar umpan, mengapa ia mempertaruhkan satu-satunya hal yang membuatnya berguna, dengan menyuruh mangsa kabur? Pertanyaan yang sama yang menggerogotinya sejak semalam, kini berdiri di hadapannya dalam wujud seorang perempuan terikat di bawah lampu sorot.
"Waktunya enam pagi, Reksa," kata Bhakim, suaranya mengeras sedikit. Ia melirik arlojinya. "Lima menit lagi. Saya orang yang menghargai ketepatan waktu. Lewat dari itu, saya anggap kamu menolak tawaran, dan saya tidak bisa menjamin perasaan anak buah saya. Mereka sudah lembur semalaman. Mereka tidak sabaran."
Reksa menarik napas. Di kepalanya, semua kemungkinan berputar secepat mesin yang ia hidupkan tadi. Ia memegang satu salinan bukti dan satu kartu yang belum dimainkan, sebuah pesan yang ia kirim ke ibu kota beberapa jam lalu, ke satu nomor yang tak seorang pun di gudang ini tahu keberadaannya. Pram. Belum ada balasan. Belum ada tanda. Mungkin Pram tertidur. Mungkin pesan itu menguap ke ruang hampa.
Tapi mungkin juga tidak.
Reksa menatap pelataran karat itu, dermaga tempat semua dimulai, dan mengerti bahwa ia tidak akan keluar dari sini dengan menyerahkan apa pun. Ia hanya perlu satu hal yang tidak ia miliki: waktu.
"Beri saya satu menit, Pak," serunya. "Untuk berpikir. Pikiran adalah hal terakhir yang masih saya punya."