tengah keramaian, sorakan para penonton menggema, memberikan semangat kepada Tab yang berdiri di arena. "Pangeran, semangat! Kalian pasti bisa!" teriakan rakyat yang penuh harapan terdengar di sekelilingnya. Tab bisa merasakan seluruh perhatian mereka tertuju padanya. Ini bukan hanya ujian fisik, pikirnya. Ini ujian mental yang jauh lebih berat.
Saat tanda pertempuran dimulai, prajurit kedua, Roman, melangkah maju. Tubuhnya besar, berotot, dan nampak sangat kuat. Setiap langkahnya menggema di tanah, sementara mata Tab berfokus pada lawannya. Roman memegang pedang besar, s*****a yang terlihat jauh lebih berat daripada milik Tab. Prajurit itu tersenyum sinis, seolah tahu bahwa pertempuran ini akan berakhir dengan kemenangan mudah baginya.
"Siap-siap, pangeran," kata Roman dengan suara berat. "Aku akan memberikanmu pelajaran."
Tab mengangkat pedangnya, siap bertempur, namun ia tahu bahwa ini adalah pertempuran yang sangat berat. Roman menyerang dengan cepat dan kuat. Setiap serangan dari pedangnya seperti gelombang badai yang datang menghantam. Tab berusaha menghindar, tetapi tubuhnya mulai kelelahan, dan pergerakannya semakin lambat. Dalam beberapa detik, ia terjatuh setelah dihantam kuat oleh Roman. Pedangnya terlempar, dan ia merasakan sakit yang sangat tajam di seluruh tubuh.
Di luar arena, para penonton terdiam, cemas melihat kondisi Tab yang jatuh terjerembab. "Tab! Bangun!" teriak mereka dengan khawatir. Mereka mulai merasa ragu apakah sang pangeran bisa bertahan melawan prajurit yang jauh lebih kuat ini. Para penjaga dan pelatih terlihat gelisah, tapi mereka tak bisa berbuat banyak.
Roman berdiri di atas Tab yang terjatuh, matanya memandang dengan penuh rasa kasihan. "Kau benar-benar ingin berkenal, huh?" katanya, lalu menarik pedangnya, mengarahkannya ke arah Tab yang terbaring. "Kenapa? Apa yang membuatmu begitu gigih?"
Tab merasakan darah mengalir dari tubuhnya, namun pikirannya tetap jernih. Meskipun tubuhnya hampir tak mampu bergerak, semangatnya belum padam. la menatap Roman dengan mata penuh tekad dan berusaha untuk bangkit. Aku tidak bisa menyerah sekarang, pikirnya. Ini bukan hanya untuk aku. Ini untuk kerajaan yang mengandalkanku.
Dengan susah payah, Tab mengangkat tubuhnya, pedangnya digenggam erat. la berdiri, meskipun kaki dan tangannya hampir tak sanggup menopang. Aku akan bertarung dengan apa yang tersisa.
Roman," kata Tab dengan suara yang berat, namun penuh semangat, "aku berjuang bukan untuk kekuatan, bukan untuk gelar. Aku berjuang untuk kebebasan, untuk hidupku sendiri. Aku ingin menjadi lebih dari sekadar penerus tahta. Aku ingin dikenal bukan karena darahku, tapi karena apa yang aku lakukan."
Roman terdiam sejenak, memperhatikan pangeran yang hampir kalah namun tetap berdiri. Seperti ada sesuatu yang tergerak dalam dirinya. Namun, ia tidak bisa mundur sekarang. la tahu Tab adalah lawan yang patut dihormati, meskipun hanya seorang pangeran.
"Jika itu yang kau inginkan," kata Roman dengan senyuman tipis, "maka buktikan dengan tindakanmu. Aku tidak akan memberimu kemudahan, tapi aku akan memberimu kesempatan."