Tab baru saja selesai mempersiapkan diri di ruang perawatan, mengenakan pakaian tempur dan membawa peralatan penting: potion penyembuh, perban untuk luka-luka kecil, dan perlengkapan lainnya. Setelah beristirahat dua hari, tubuhnya memang terasa lebih baik, meskipun masih ada rasa lelah yang menyelimuti. Namun, ia tahu bahwa tantangan berikutnya jauh lebih berat.
Sebelum pertempuran dimulai, sang raja memanggil Tab ke aula kerajaan dan mengumumkan kepada seluruh rakyat mengenai ujian yang akan dihadapi sang pangeran. "Tab, pangeran kita, akan melawan prajurit utusan raja yang terkenal kuat, gagah berani, dan bijaksana," suara sang raja menggema di seluruh aula, "Ini adalah ujian yang harus dilalui Tab, calon raja kita. Ia akan mengalahkan prajurit terbaik dan menunjukkan kepada dunia bahwa ia layak memimpin kerajaan ini!"
Begitu pengumuman selesai, kabar tentang pertempuran itu menyebar dengan cepat ke seluruh penjuru kerajaan. Rakyat dari berbagai lapisan mulai berbondong-bondong untuk datang ke arena, penuh antusiasme dan harapan. Bagi mereka, ini adalah momen yang sangat penting—menyaksikan langsung pangeran yang akan menjadi pemimpin mereka berjuang untuk mendapatkan gelar "prajurit terkuat."
Tab, yang awalnya hanya mempersiapkan diri secara sederhana, mulai merasa ada yang aneh. Ketika ia melangkah menuju arena, ia melihat kerumunan rakyat yang memenuhi setiap sudut area pertandingan. Teriakan dan sorakan mengisi udara, membuatnya terkejut. Ia tidak tahu bahwa begitu banyak orang akan hadir untuk menyaksikan dirinya.
Hati Tab berdebar kencang, dan rasa gugup mulai merayap. Apa ini? pikirnya. Kenapa ada begitu banyak orang? Aku hanya ingin membuktikan diriku kepada ayah, bukan untuk menjadi tontonan bagi seluruh kerajaan!
Namun, tak ada jalan mundur. Tab melangkah maju, menuju arena pertempuran yang telah disiapkan dengan penuh perhatian. Di tengah keramaian itu, ia melihat sang raja berdiri di atas tribune, menatap dengan bangga. Tiba-tiba, sang raja mengangkat tangannya, dan semua suara seketika hilang. Dia berbicara dengan suara yang lantang, menggema di seluruh arena.
"Ini adalah calon raja terkuat yang akan mengalahkan tujuh samudera," ujar sang raja, sorot matanya penuh keyakinan. "Tab, pangeran kita, akan membuktikan kekuatan sejatinya hari ini!"
Tab terdiam sejenak. Kata-kata ayahnya bergema di telinganya. Tujuh samudera? pikirnya, matanya terbelalak. Ia tak menyangka ayahnya akan mengumumkan hal sebesar itu. Rakyat pun bersorak, memberi semangat pada pangeran yang mereka anggap sebagai calon raja yang tak hanya akan memerintah, tetapi juga menaklukkan dunia luar.
Di sisi lain, Tab merasa tertekan. Aku bukan hanya bertarung untuk diriku sendiri sekarang, pikirnya. Aku bertarung untuk harapan seluruh kerajaan. Aku bertarung untuk sesuatu yang lebih besar dari diriku.
Prajurit utusan raja yang terkenal itu sudah berdiri di tengah arena, siap menghadapi Tab. Wajahnya tenang, penuh kebijaksanaan dan pengalaman. Tab tahu, ini akan menjadi ujian yang lebih berat. Namun, dengan tekad yang baru, ia menarik pedangnya dan menghadap prajurit tersebut.