Tab terjatuh, tubuhnya lemas, namun pikirannya tetap tajam. Kata-kata Roman terdengar jelas di telinganya, dan dalam dirinya muncul kesadaran baru. Aku berjuang bukan untuk dihormati, bukan untuk gelar, tapi untuk kebebasan dan hidup yang aku inginkan.
Di luar arena, sorakan dari para penonton menggema, meskipun mereka khawatir akan kondisi sang pangeran. "Pangeran, semangat!" teriak seorang rakyat dari jauh. "Kami percaya padamu!" Suara-suara penuh harapan itu memenuhi udara, memberikan kekuatan tak terlihat pada Tab. Para penonton tidak ingin melihat pangeran mereka menyerah begitu saja.
Tab bisa merasakan semangat mereka, dorongan yang mengalir dalam dirinya. Meski tubuhnya terasa sangat sakit, pikirannya kembali jernih. Aku harus bangkit! Tab meresapi semangat rakyatnya, dan dengan tekad yang baru, ia mulai menggerakkan tubuhnya. Perlahan, ia bangkit dari tanah.
Roman memandangnya, terkejut melihat pangeran yang hampir kalah itu bangkit kembali. Namun, Tab tidak peduli dengan pandangan lawannya. Ia menarik potions penyembuh dari kantong dan meminumnya. Efeknya langsung terasa, tubuhnya sedikit lebih kuat, dan rasa sakit yang mengganggu berkurang. Dengan gerakan cepat, Tab membalut luka-lukanya dengan perban, mengikatnya erat-erat.
Tab menatap Roman dengan tekad yang baru, matanya penuh semangat. "Aku tidak akan menyerah," katanya dengan suara tegas. "Aku akan terus berjuang, apapun yang terjadi!"
Melihat Tab yang kini berdiri dengan lebih kokoh, Roman mengangguk. "Kau memang luar biasa, pangeran," katanya, terkesan dengan semangat Tab. Namun, tubuh Roman sendiri sudah menunjukkan tanda-tanda kelelahan. Setiap serangan yang ia lakukan semakin melambat, nafasnya berat, dan kekuatannya mulai memudar.
Tab, dengan pemulihan tubuh yang cukup berkat potion dan perban, memanfaatkan celah itu. Dengan gerakan yang lebih cepat dan terukur, ia mulai mendekati Roman. Setiap serangan yang ia lakukan semakin akurat, sementara Roman mulai kesulitan untuk menghindar. Serangan demi serangan dari Tab semakin mengarah tepat sasaran, hingga akhirnya Roman terjatuh, kehabisan tenaga.
Roman terengah-engah, duduk di tanah, dan menatap Tab dengan rasa hormat. "Kau berhasil, pangeran," katanya, suaranya lemah. "Kau menang."
Para penonton yang sebelumnya cemas kini bersorak dengan penuh kegembiraan. "Pangeran menang! Pangeran menang!" suara mereka menggema, memenuhi seluruh arena. Sorak sorai itu semakin keras, seakan memberi penghormatan pada keberanian dan semangat sang pangeran.
Tab berdiri di tengah arena, napasnya berat dan tubuhnya masih terasa sakit, namun senyum kemenangan terlukis di wajahnya. Aku telah membuktikan sesuatu, bukan hanya kepada ayahku, tetapi juga kepada diriku sendiri. Pangeran yang dahulu dianggap hanya sebagai penerus takhta, kini mulai dikenal sebagai sosok yang lebih dari itu—seorang pejuang dengan semangat yang tak tergoyahkan.
Sang raja menyaksikan dari atas tribun, matanya penuh kebanggaan. "Kau telah melampaui ujian ini, Tab. Kau telah membuktikan bahwa kau siap untuk tantangan yang lebih besar," katanya dalam hati.