Setelah mengalahkan prajurit pertama, Tab terengah-engah, tubuhnya penuh luka. Hidungnya berdarah, tangan kanan terasa kebas akibat benturan pedang, dan seluruh tubuhnya nyeri setelah serangan-serangan brutal yang diterimanya. Meskipun begitu, kemenangan tersebut memberinya sedikit kelegaan. Namun, ia tahu masih ada banyak rintangan yang harus dihadapi.
Sang raja yang menyaksikan pertempuran itu dengan penuh perhatian, tidak segera memberi perintah untuk melanjutkan ujian. Setelah beberapa menit, raja berdiri dan melangkah ke arah Tab yang masih terengah-engah. "Kamu telah menunjukkan semangat yang luar biasa, Tab," kata sang raja, suaranya lebih lembut daripada sebelumnya. "Namun, tubuhmu butuh pemulihan. Kau akan diberi waktu dua hari untuk beristirahat."
Tab mengangguk pelan, meskipun hatinya ingin segera melanjutkan ujian itu. "Terima kasih, ayah," jawabnya dengan napas yang berat.
Dengan bantuan para penjaga istana, Tab dibawa menuju tempat peristirahatan yang tenang, jauh dari keramaian istana. Tempat itu terletak di sebuah bangunan sederhana yang dikelilingi taman bunga yang asri. Di sana, Tab bisa merasakan ketenangan yang langka, meskipun tubuhnya masih lelah dan terluka.
Para tabib segera merawat luka-lukanya, memberikan salep penyembuh dan ramuan yang membantu meredakan rasa sakit. Di ruang yang sepi itu, Tab hanya bisa berbaring di ranjang, menatap langit-langit sambil berusaha menenangkan pikirannya. Aku berhasil melawan prajurit pertama, pikirnya. Tapi perjalanan ini belum berakhir.
Pada malam pertama, Tab merasa kesakitan, tetapi pikirannya tak henti-hentinya berputar. Ia memikirkan perjalanan panjang yang akan dilalui, tantangan yang lebih berat, dan pertanyaan-pertanyaan tentang dirinya sendiri yang semakin mengguncang. Apakah ini benar-benar yang ia inginkan? Apakah semua ini akan membawanya lebih dekat ke kebebasan yang ia cari?
Namun, saat matahari terbit dua hari kemudian, Tab merasa tubuhnya lebih segar. Luka-lukanya mulai sembuh, dan meskipun masih ada rasa nyeri, semangatnya kembali pulih. Setelah beristirahat cukup, ia memutuskan untuk melanjutkan ujian. Dua hari istirahat itu memberinya waktu untuk merenung, memperkuat tekad, dan mempersiapkan diri menghadapi tantangan berikutnya.