Tab terengah-engah, tubuhnya terasa kaku setelah dihantam oleh serangan keras dari prajurit pertama. Pedangnya terjatuh, dan dia terhempas ke tanah dengan keras. Suara sorakan penonton terdengar samar di telinga Tab, namun pikiran utama yang menguasai dirinya adalah satu-apakah dia bisa bertahan?
Prajurit pertama itu, seorang lelaki tinggi berotot dengan wajah penuh kedigdayaan, berdiri dengan tenang, menatap Tab yang tergeletak di tanah. "Kamu tidak akan bisa mengalahkan kami, pangeran," katanya dengan suara penuh hinaan, sebelum melangkah maju, siap untuk memberikan pukulan terakhir.
Tab merasakan sakit yang menyebar di tubuhnya, tapi lebih dari itu, ia merasakan ketakutan yang mendalam. Jika aku kalah, apakah ayah akan menghukumku? pikirnya. Jika aku tidak bisa menyelesaikan ujian ini, aku akan terjebak di kerajaan ini selamanya, tak bisa bebas seperti yang kuinginkan.
Saat pikirannya dipenuhi dengan keraguan, suara kecil di dalam dirinya mulai berseru: "Bangkit, Tab! Ini adalah pilihanmu! Jika kamu jatuh di sini, semua yang kamu impikan akan hancur. Kamu harus bangkit!"
Dengan semangat baru, Tab menggenggam pedangnya yang tergeletak di tanah. Dalam keadaan hampir tak mampu bergerak, ia mengerahkan seluruh kekuatannya, merasakan adrenalin mengalir dalam tubuhnya. Tab berdiri, meski tubuhnya terasa lemas. Prajurit pertama tidak memberi ampun dan segera menyerang lagi. Namun kali ini, Tab bergerak lebih cepat, menghindari sabetan pedang yang datang menghampirinya.
Tab melompat ke samping, kemudian dengan gerakan cepat, ia memanfaatkan celah yang ada. Dengan serangan yang terukur, ia melukai prajurit pertama di sisi perut, memaksa lawannya mundur beberapa langkah.
Prajurit itu menggeram, tetapi Tab tidak memberi kesempatan untuk kembali menyerang. Dalam satu gerakan cepat, Tab berhasil menangkis serangan terakhir dan dengan sebuah pukulan kuat, ia menumbangkan prajurit pertama ke tanah.