Beberapa hari kemudian, Tab mulai berlatih keras. Ia dilatih oleh para master pedang, mengasah keterampilan bertarungnya dengan penuh semangat. Setiap malam, ia merenung di bawah cahaya bintang, bertanya pada dirinya sendiri apakah jalan yang ia pilih sudah benar.
Hari ujian pun tiba. Tab berdiri di arena pertempuran, menghadap tujuh prajurit utusan raja yang telah lama mengabdi kepada kerajaan. Masing-masing prajurit itu memiliki pengalaman bertahun-tahun, dan mereka semua menganggap Tab sebagai anak muda yang terlalu ambisius. Namun, Tab tahu ini adalah kesempatan untuk membuktikan bahwa ia lebih dari sekadar pangeran.
"Jika aku mengalahkan mereka, aku bisa pergi," pikir Tab, mengencangkan genggaman pedangnya.
Dengan suara gong yang bergema, pertempuran dimulai.
Tab berdiri tegap di tengah arena, menghadap tujuh prajurit utusan raja yang telah bertahun-tahun mengabdi pada kerajaan. Mereka bukan hanya sekadar prajurit-mereka adalah simbol kekuatan dan kehormatan kerajaan, dan kini, mereka menjadi penghalang bagi Tab yang ingin membuktikan kemampuannya.
Suasana di arena tegang, di sekelilingnya, para pelatih dan pengawal berdiri menyaksikan ujian ini. Gong berbunyi keras, tanda pertempuran dimulai. Tab menarik pedangnya, matanya fokus, tubuhnya siap. Lawan pertama meluncur cepat, pedang terhunus menuju Tab dengan presisi mematikan. Tab menghindar, menggerakkan tubuhnya dengan lincah, dan membalas serangan dengan serangan balik yang cepat. Pria yang menyerangnya terpaksa mundur.
Satu demi satu, prajurit utusan raja menyerbu. Masing-masing memiliki keahlian berbeda-satu dengan kecepatan luar biasa, lainnya dengan kekuatan brutal. Tab tahu ia tidak bisa mengandalkan kekuatan fisik semata. la menggunakan kecerdasannya, memanfaatkan celah di antara serangan lawan, dan dengan tekad yang bulat, ia mengalahkan mereka satu per satu.
Setelah beberapa pertempuran sengit, hanya satu lawan tersisa. Tab terengah-engah, tubuhnya terluka, namun semangatnya tak goyah. Dengan satu serangan final, Tab menumbangkan prajurit terakhir, tubuhnya terjatuh ke tanah.
Tab berdiri di atas kakinya, napas terengah-engah, namun senyumnya mengembang. la telah membuktikan sesuatu yang lebih dari sekadar kekuatan-ia telah membuktikan ketekunan dan tekad yang tak bisa dipatahkan.