Sang raja menatapnya dengan serius. "Kamu boleh menjadi pengelana. Namun, ada satu syarat. Untuk membuktikan bahwa kamu siap untuk melangkah keluar dari kerajaan ini dan menjadi seorang legenda, kamu harus terlebih dahulu menjadi prajurit utusan raja yang sejati. Mengalahkan prajurit-prajurit terbaik yang telah mengabdi selama bertahun-tahun."
Tab terdiam, mencerna kata-kata itu. Menjadi prajurit utusan raja berarti tidak hanya melatih diri, tetapi juga bertarung dengan para prajurit yang telah berpengalaman. Itu adalah tantangan besar. Namun, di sisi lain, ini adalah kesempatan yang tak bisa ia lewatkan.
"Aku terima tantangan itu," jawab Tab akhirnya, suara penuh keyakinan.
Sang raja mengangguk pelan, lalu berkata, "Kalau begitu, persiapkan dirimu. Kamu akan berhadapan dengan mereka dalam waktu dekat. Jika kamu bisa mengalahkan mereka, maka aku akan mengizinkanmu pergi, menjadi pengelana yang kamu impikan. Namun, ingatlah, keberhasilanmu bukan hanya tentang mengalahkan mereka, tetapi juga tentang apakah kamu benar-benar siap untuk jalan yang penuh tantangan ini."
Tab menundukkan kepala sebagai tanda hormat, meskipun hatinya berdebar lebih kencang dari sebelumnya. Ia tahu ini adalah ujian terbesar dalam hidupnya. Namun, inilah jalan yang ia pilih. Ia akan membuktikan kepada ayahnya, kepada dirinya sendiri, bahwa ia lebih dari sekadar pangeran yang terlahir untuk menggantikan takhta.
Dengan tekad yang kuat, Tab meninggalkan ruang tahta, mempersiapkan dirinya untuk ujian besar yang akan datang. Tantangan ini bukan hanya tentang mengalahkan para prajurit—ini adalah tentang membuktikan bahwa dia bisa menjadi legenda yang lebih besar dari sekadar keturunan raja.