Pagi itu, Tab berdiri di atas kapal yang sudah siap berlayar, namun hatinya dipenuhi keraguan. Meski sang raja sudah menyiapkan segala sesuatunya untuk perjalanan yang akan datang, perasaan tak percaya diri masih menggelayuti dirinya. Hanya dua prajurit yang telah aku kalahkan, dan itu belum cukup. Pikirannya terus kembali kepada pertempuran yang telah dilaluinya, yang meskipun berhasil, masih terasa tidak cukup.
"Aku belum pantas untuk berlayar," gumamnya kepada dirinya sendiri. "Aku belum mengalahkan cukup banyak. Tujuh prajurit... baru dua. Jika aku tidak bisa mengalahkan lebih banyak lagi, bagaimana aku bisa menjadi pengelana legendaris?"
Saat Tab termenung, suara derap kuda tiba-tiba terdengar. Tab menoleh dan melihat kereta kuda mewah yang menuju pelabuhan. Di dalamnya, tampak sosok raja yang turun dari kereta dengan wajah yang penuh perhatian. Sang raja berjalan dengan langkah mantap menuju Tab, yang kini berdiri dengan pandangan ragu.
"Tab," kata sang raja dengan suara yang tenang namun penuh kekuatan. "Aku tahu perjalanan ini tidak mudah untukmu. Namun, kapal ini telah siap, dan aku melihat bahwa kamu masih ragu. Apakah kamu benar-benar merasa siap untuk berlayar?"
Tab menundukkan kepala, merasa canggung. "Ayah... aku hanya baru mengalahkan dua prajurit. Ada lima lagi yang lebih kuat. Aku tidak merasa pantas untuk melanjutkan perjalanan ini."
Sang raja menghela napas, seakan sudah tahu apa yang akan dikatakan anaknya. "Tab, kekuatan bukan hanya tentang mengalahkan banyak orang. Kekuatan sejati datang dari kesadaran diri, dari pemahaman bahwa perjalananmu tidak hanya soal jumlah kemenangan. Namun, jika itu yang kamu butuhkan untuk merasa siap, maka aku akan memberimu ujian terakhir."
Tab menatap sang raja dengan penuh tanda tanya. "Ujian terakhir?"
Sang raja mengangguk dengan tegas. "Kamu harus mengalahkan dua prajurit lagi, bukan hanya prajurit biasa. Kali ini, mereka adalah ahli strategi yang telah lama berlayar bersama aku. Mereka adalah Rimba, sang ahli strategi perang, dan Ruls, sang ahli persiapan strategi. Keduanya adalah orang yang sangat bijaksana dan memiliki keterampilan bertempur yang luar biasa. Jika kamu dapat mengalahkan mereka, maka kamu akan layak untuk berlayar."
Tab terkejut mendengar tantangan ini. "Tapi... mereka adalah ahli strategi. Bagaimana aku bisa mengalahkan mereka?"
Sang raja menatap Tab dengan penuh harapan. "Tab, inilah saatnya kamu untuk belajar lebih banyak. Belajarlah dari mereka. Tantangan ini bukan hanya tentang kekuatan fisik, tetapi tentang bagaimana kamu mengendalikan dirimu dalam situasi yang lebih kompleks. Jika kamu berhasil mengalahkan mereka, itu akan menunjukkan bahwa kamu siap untuk tantangan yang lebih besar di luar sana."
Tab terdiam, berpikir sejenak. Dalam hati, ia merasa berat, namun ia tahu bahwa ini adalah ujian yang harus ia hadapi. "Aku akan menerima tantangan ini, ayah," jawabnya dengan tekad.
Dengan perasaan yang campur aduk, Tab mengetahui bahwa jalan untuk mencapai tujuannya semakin sulit. Namun, ini adalah langkah yang perlu diambil agar ia benar-benar siap untuk menghadapi perjalanan panjang yang menantinya. Dua prajurit terakhir yang harus ia kalahkan bukan hanya sekadar ujian kekuatan fisik, tetapi juga kecerdasan dan strategi.