Setelah mendengar tantangan dari sang raja, Tab merasa ada kegelisahan baru yang mengisi hatinya. Dua prajurit ahli strategi yang harus dihadapinya bukan hanya sekadar musuh yang kuat secara fisik, tetapi juga memiliki kecerdasan dan pengalaman yang luar biasa. Untuk pertama kalinya, Tab menyadari bahwa dia tidak hanya harus mengandalkan kekuatan tubuhnya, tetapi juga kecerdikan dan kecepatan berpikir.
Sang raja memberi waktu satu hari penuh kepada Tab untuk mempersiapkan diri. Waktu itu, meskipun terasa singkat, juga menjadi kesempatan terakhir bagi Tab untuk merenung dan merencanakan bagaimana cara menghadapi Rimba dan Ruls—dua prajurit yang telah mengabdi pada kerajaan selama bertahun-tahun.
Pagi itu, Tab memutuskan untuk kembali mengunjungi pasar di sekitar pelabuhan, tempat yang biasa dia kunjungi untuk membeli persediaan perjalanan. Namun kali ini, ia lebih berhati-hati memilih barang-barang yang akan membantunya dalam ujian terakhir. Tab tahu bahwa ini bukan hanya sekedar pertempuran fisik, tetapi juga pertempuran akal.
Di pasar, ia membeli berbagai jenis peralatan yang mungkin berguna, seperti:
1. Potion Penyembuhan Tingkat Tinggi – Untuk mengatasi luka-luka yang mungkin ia terima saat bertarung.
2. Perban dan Obat Luka – Untuk menutup luka dan meminimalkan dampak dari serangan yang kuat.
3. Peralatan Taktik dan Peta – Tab membeli peta yang lebih rinci dari wilayah kerajaan dan sekitarnya, sebagai bahan pertimbangan untuk memprediksi pergerakan lawan.
4. s*****a Khusus – Sebuah pedang ringan yang lebih praktis dan tajam, cocok untuk pertempuran cepat dan manuver yang lebih lincah.
5. Perlengkapan untuk Mengalihkan Perhatian – Beberapa alat kecil yang bisa digunakan untuk mengecoh musuh, seperti bom asap kecil yang bisa melepaskan kabut dan memberikan waktu untuk Tab berpikir atau melarikan diri.
Setelah membeli semua persiapan itu, Tab kembali ke istana untuk merenungkan apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Ia tahu bahwa Rimba dan Ruls bukanlah musuh yang akan jatuh begitu saja. Mereka pasti akan menggunakan taktik dan kecerdasan mereka untuk mengalahkannya. Maka, Tab memutuskan untuk melatih pikirannya dengan berbagai latihan strategi yang pernah ia dengar, mencari cara untuk mengatasi rencana musuh sebelum mereka sempat mengeksekusinya.
Malam itu, Tab duduk di ruangannya, memandangi peta kerajaan yang ada di depannya. Ia memikirkan setiap kemungkinan yang bisa terjadi, mencoba memprediksi langkah Rimba dan Ruls. Jika mereka ahli dalam strategi, maka aku harus berpikir seperti mereka, pikirnya. Aku harus memahami pola mereka, menunggu kesempatan untuk melawan bukan hanya dengan kekuatan, tetapi dengan kecerdikan.
Pikirannya terus berputar, merencanakan berbagai langkah yang mungkin bisa digunakan untuk menanggapi taktik musuh. Dalam keraguan dan kelelahan yang mulai terasa, ia menyadari sesuatu yang penting: ini bukan hanya tentang memenangkan pertempuran—ini tentang menjadi pemimpin yang bijaksana, yang tahu kapan harus bertindak dan kapan harus menunggu.
Saat malam semakin larut, Tab merasa bahwa ia telah mempersiapkan dirinya dengan sebaik mungkin. Meskipun ketakutan dan keraguan masih menghantuinya, ia tahu bahwa ia harus menghadapi tantangan ini untuk melanjutkan perjalanan yang lebih besar. Ia bersiap untuk menghadapi Rimba dan Ruls keesokan harinya, berharap bisa mengalahkan mereka dengan cara yang tak terduga.
dan bagaimana kelanjutan sang pangeran?