Beberapa hari setelah sang pangeran diberi izin untuk melanjutkan perjalanannya, Tab merasa kesepian dalam kesunyian ruangan perawatan istana. Meskipun tubuhnya telah pulih, pikirannya tidak bisa berhenti merenung. Ia telah berhasil mengalahkan dua prajurit terkuat, namun masih ada lima prajurit lain yang harus dihadapi. Setiap kemenangan terasa lebih berat daripada yang sebelumnya, dan Tab mulai bertanya-tanya apakah ia benar-benar siap untuk mengalahkan semuanya.
Dua prajurit... hanya dua dari tujuh, pikir Tab. Apakah aku cukup kuat untuk mengalahkan lima prajurit lainnya? Atau apakah cukup untuk mengalahkan setengah dari mereka?
Tab duduk di pinggir ranjang, tangan terlipat di atas lutut, matanya menatap kosong ke luar jendela yang menghadap ke taman kerajaan. Seiring dengan berjalannya waktu, pikirannya semakin terperangkap dalam kebimbangan. Jika aku mengalahkan hanya setengah, apakah aku benar-benar bisa disebut sebagai pangeran yang layak?
Setiap malam, Tab terjaga dalam gelap, berpikir tentang semua pilihan yang ada. Ia bisa saja mengalahkan beberapa prajurit terkuat, mungkin hanya separuh dari mereka, dan kemudian melanjutkan petualangannya menuju kebebasan yang ia idamkan. Namun, apakah itu akan membuatnya merasa puas? Apakah itu akan memberi jawaban pada pencariannya?
Tetapi jika ia memilih untuk menghadapi semuanya, Tab tahu betul bahwa tantangan yang lebih besar akan datang. Lima prajurit lainnya bukanlah lawan yang bisa dianggap remeh. Mereka masing-masing memiliki kekuatan luar biasa, pengalaman bertempur yang tak tertandingi, dan kecerdasan yang tajam. Mengalahkan mereka semua berarti ia harus menekan dirinya lebih keras lagi—fisik, mental, dan emosional.
Selama seminggu, Tab berjuang melawan kebingungannya. Setiap hari, ia menulis dalam jurnalnya, menggambarkan kekhawatiran dan keraguannya. Semakin lama, ia menyadari bahwa setiap kemenangan yang ia raih sebelumnya bukan hanya tentang kekuatan fisiknya, tetapi tentang keyakinannya pada dirinya sendiri.
Di malam yang kelima, ketika angin berhembus pelan di luar jendela, Tab menemukan jawaban dalam dirinya sendiri. Aku tidak bisa setengah-setengah. Ia menyadari bahwa, jika ia ingin menjadi lebih dari sekadar penerus tahta, jika ia ingin dikenang sebagai seorang legenda, maka ia harus mengalahkan semua prajurit terkuat itu, tanpa terkecuali.
Tab berdiri, melihat refleksinya di kaca. Aku akan menghadapi semua tujuh prajurit itu, tekadnya bulat. Jika aku gagal, aku akan tahu bahwa aku telah melakukan yang terbaik. Jika aku menang, maka aku akan menunjukkan pada dunia bahwa aku bukan hanya pangeran biasa. Aku adalah pengelana yang bisa menaklukkan tantangan terbesar yang ada.