Setelah pertempuran sengit melawan Roman, Tab berdiri dengan tubuh yang hampir tak mampu menahan rasa sakit. Kemenangan itu membawa rasa lega, namun tubuhnya terasa hancur, penuh luka dan kelelahan. Suara sorakan rakyat masih menggema di telinganya, tetapi ia tak bisa menyembunyikan rasa sakit yang mendalam.
Sang raja, yang berdiri di atas tribun, mengamati dengan seksama. Ia melihat betapa kerasnya perjuangan yang telah dilalui putranya, dan meskipun hatinya bangga, ia juga tahu bahwa tubuh Tab membutuhkan pemulihan yang serius. Setelah beberapa saat, sang raja memberi isyarat kepada penjaga untuk mendekat.
"Tab," sang raja memanggil, suaranya penuh perhatian. "Aku bangga padamu, anakku. Kau telah melewati ujian ini dengan semangat yang luar biasa. Tapi tubuhmu harus pulih sebelum melanjutkan perjalananmu."
Tab, meskipun lelah, mengangkat kepala dan menatap ayahnya. "Terima kasih, ayah," jawabnya, dengan napas yang berat. "Aku tidak tahu apakah aku bisa melanjutkan, tetapi aku akan terus berjuang."
Sang raja tersenyum lembut, menatap putranya dengan penuh kasih sayang. "Kau telah membuktikan dirimu, Tab. Sekarang, waktunya untukmu beristirahat. Kembalilah ke istana dan biarkan tubuhmu pulih. Kau akan mendapatkan izin untuk melanjutkan perjalananmu setelah itu."
Dengan perintah sang raja, Tab diantar kembali ke istana untuk beristirahat. Ruangan perawatan di istana sudah disiapkan dengan baik—tempat yang tenang, jauh dari keramaian, agar Tab bisa benar-benar memulihkan tubuhnya yang lelah. Di sana, para tabib segera merawat luka-lukanya, memberikan ramuan penyembuh dan perawatan khusus untuk mempercepat pemulihan.
Meskipun tubuhnya masih terasa lemah, pikiran Tab jauh dari keletihan. Aku telah mengambil langkah pertama untuk menjadi lebih dari sekadar penerus tahta, pikirnya. Aku telah membuktikan bahwa aku siap untuk tantangan yang lebih besar.
Beberapa hari berlalu, dan Tab semakin pulih. Selama waktu pemulihan, ia menghabiskan waktu merenung, memikirkan perjalanan yang akan datang. Baginya, kemenangan dalam pertempuran ini bukanlah akhir, tetapi baru permulaan dari perjalanan yang lebih panjang—perjalanan yang akan mengantarnya ke petualangan legendaris yang ia impikan.
Ketika tubuhnya akhirnya pulih sepenuhnya, sang raja datang menemuinya. "Tab, waktunya telah tiba. Kau bebas untuk melanjutkan perjalananmu. Aku memberikan izinmu untuk mengejar impianmu sebagai seorang pengelana, seperti yang kau inginkan."
Tab menatap ayahnya dengan rasa syukur dan tekad yang lebih kuat. "Terima kasih, ayah. Aku akan melanjutkan perjalanan ini dengan segala yang aku miliki