Setelah lewat tengah malam, Laila meminta semua orang beristirahat di kamar-kamar rumah belakang. Ia ingin berdua saja dengan kakeknya.
Mereka duduk di sofa ruang utama, di tempat yang sama tempat Rahman dulu mengambil buku dari meja, membaca judulnya, dan meletakkannya kembali, pada hari ketika Laila berumur enam belas dan iblis bertelinga gajah tertawa di atas meja. Lampu-lampu sudah dimatikan sebagian. Hanya lampu kecil di sudut yang menyala.
Rasa lapar datang seperti setiap malam. Taringnya memanjang. Laila tidak meminta daging. Ia hanya menekan perutnya dan membiarkan rasa itu lewat.
"Kakek boleh marah," katanya.
"Kakek tidak marah." Rahman memandangi tangannya sendiri. "Kakek tidak tahu harus merasa apa. Kakek merasa semuanya sekaligus."
"Aku dulu tidak bisa merasa apa-apa," kata Laila. "Sejak perjanjian. Kakek memelukku, dan aku tidak merasa apa-apa. Aku tersenyum karena kakek suka kalau aku tersenyum. Bukan karena aku mau."
Rahman mengangguk. Ia sudah lama tahu, walaupun tidak pernah mengatakannya.
"Tapi ada satu yang lain," lanjut Laila. "Setiap kali kakek tersenyum, ada sesuatu di sini." Ia menyentuh dadanya. "Hangat. Samar sekali. Aku tidak tahu itu apa. Aku pikir itu cuma kebiasaan."
"Dan sekarang?"
"Sekarang aku tahu." Laila memandangi kakeknya. Matanya hijau dan menyala di dalam gelap, tetapi ia tidak membaca pikiran kakeknya. Ia tidak perlu. "Aku melihatnya di kepala nenek Ayu. Yang besar sekali itu. Aku pikir manusia tidak bisa merasakan sesuatu sebesar itu dan tetap hidup. Lalu aku sadar, kakek merasakannya untukku. Tiga belas tahun. Dan yang hangat dan samar di dadaku itu adalah bagian kecil dari yang sama."
Rahman tidak bisa bicara. Ia hanya meraih tangan cucunya dan menggenggamnya.
"Aku mau minta tiga hal, kek," kata Laila.
"Apa saja."
"Pertama, bicara jujur. Ke polisi. Ke nenek Ayu kalau dia mau mendengar. Ke paman dan Putri. Jangan bereskan apa pun lagi." Ia menunggu sampai kakeknya mengangguk. "Kedua, simpan gelangku. Jangan dibuang, jangan dijual, jangan diberikan kepada siapa pun. Itu milik ibu."
"Dan yang ketiga?"
"Jangan pernah memanggil mereka. Apa pun yang terjadi. Walaupun kakek rindu padaku. Walaupun kakek pikir kakek bisa menawar sesuatu. Jangan pernah."
Rahman memejamkan mata. Lama sekali ia diam, dan Laila menunggu. Ia sudah belajar menunggu.
"Kakek janji," katanya akhirnya.
***
Langit di luar jendela berubah dari hitam menjadi kelabu. Lonceng di kaki Laila mulai berdenting.
Rahman memanggil yang lain. Mereka keluar dari kamar-kamar dengan mata merah dan wajah yang tidak tidur: Andi, Putri, Mia, Nila, Lani. Mereka berdiri di tempat yang sama seperti semalam, kecuali Putri, yang kali ini duduk di lantai di dekat kaki Laila tanpa meminta izin.
Ketujuh iblis itu muncul satu per satu, sama seperti semalam. Tetapi kali ini mereka tidak tertawa.
"Kami sudah menimbang," kata Moro. Suaranya datar, untuk pertama kali tanpa ejekan. "Kami menerima. Jiwa Nona diserahkan sendiri dan kami ambil sekarang. Tidak ada tuan baru. Tidak ada penerus. Tidak ada tumbal pengganti. Kami tidak mengikuti darah ibu Nona maupun keluarga Har. Kami kembali ke hutan."
"Semua tujuh?" tanya Laila.
"Semua," jawab Baro.
"Aku mau mendengar dari mereka sendiri."
Yang gemuk menggeram, lalu berkata, "Terima." Yang kecil dan bungkuk berkata, "Terima." Yang tidak berwajah membuka mulutnya yang lebar dan mengucapkan kata itu dengan suara anak kecil, sehingga Putri menggigil. Yang tinggi di sudut mengangguk dan berkata, "Terima." Yang hanya bayangan berbisik dari sudut paling gelap.
"Terima. Seperti ibumu."
Laila memandangi bayangan itu. "Apa yang ibuku tawarkan pada malam terakhir?"
"Supaya kau keluar dari api hidup-hidup," jawab bayangan itu. "Kami membisikkan namamu ke telinga kepala desa itu. Itu sudah dibayar."
Laila mengingat Badrun yang tiba-tiba berteriak tunggu. Ia mengangguk perlahan. Ia tidak merasakan apa-apa tentang itu. Barangkali nanti, kalau ada nanti. Sekarang ia hanya menyimpannya, seperti ia selalu menyimpan setiap detail.
"Bagaimana aku mengukuhkannya?" tanyanya.
Baro membungkuk, dan kali ini membungkuknya terlihat sungguh-sungguh.
"Lepaskan gelang ibumu, Nona."
***
Laila menunduk memandangi kaki kirinya. Tujuh lonceng kecil tanpa anak lonceng, yang dipasang ibunya di rumah yang terbakar ketika umurnya lima tahun. Jangan pernah melepasnya sebelum umurmu tujuh belas dan sebelum kamu mampu menguasai tujuh iblis di tubuhmu. Kalau dilepas, nanti Laila mati.
Ia berumur delapan belas sekarang. Dan malam ini, untuk pertama kalinya, ketujuh iblis itu mematuhi syarat yang ia tentukan sendiri.
Ia membungkuk. Tangannya gemetar. Ia mencari kait gelang itu, dan jarinya yang berkuku merah muda tidak bisa membukanya.
Putri yang duduk di dekat kakinya mengulurkan tangan, lalu berhenti, lalu menatap Laila.
"Boleh aku bantu?"
"Jangan," kata Rahman tiba-tiba. Suaranya pecah. "Jangan, Putri. Biar..." Ia berlutut di lantai di depan cucunya, seperti ia pernah berlutut di rumah Badrun. "Biar kakek."
Ia menemukan kait itu. Ia memegangnya lama. Laila menyentuh kepala kakeknya, membelai rambutnya yang sudah putih, seperti kakeknya dulu membelai kepalanya supaya lonceng berhenti berbunyi.
"Tidak apa-apa, kek."
Rahman membuka kait itu.
Ketujuh lonceng berbunyi bersamaan, sekali, jernih dan panjang, seperti bunyi yang belum pernah mereka dengar sebelumnya. Lalu diam.
Laila mengambil gelang itu dari tangan kakeknya dan meletakkannya kembali ke telapak tangan Rahman. Ia menutup jari-jari kakeknya di atasnya.
"Simpan," katanya. Napasnya mulai pendek. Ia menyandarkan diri ke kakeknya, dan Rahman memeluknya. "Kek."
"Iya."
"Yang hangat itu. Sekarang besar sekali."
Rahman memeluknya lebih erat. Di sekeliling mereka, ketujuh iblis itu mundur ke dalam bayangan dan memudar, satu demi satu, sampai hanya bau tanah yang tersisa, lalu tidak ada apa-apa lagi.
Laila memandangi wajah kakeknya. Matanya yang hijau dan pekat perlahan berubah. Warna hijau itu memudar dari tepi ke tengah, seperti tinta yang dibasuh air, sampai yang tersisa hanya sepasang mata gelap biasa, mata seorang gadis berumur delapan belas tahun. Sebutir air mata, bening, bukan darah, jatuh dari sudutnya.
"Ini yang namanya sedih, kek?" bisiknya.
Rahman tidak bisa menjawab.
Matahari pertama menyentuh jendela rumah belakang. Di pelukan kakeknya, Laila menutup mata, dan tidak membukanya lagi.