Mia yang pertama bergerak. Ia berlutut di samping sofa dan memeriksa denyut nadi di leher Laila, lalu di pergelangan tangannya, lalu mendekatkan telinganya ke dada gadis itu. Ia melakukannya dengan hati-hati, seperti ia melakukannya ribuan kali selama tiga belas tahun. Kemudian ia duduk kembali di atas tumitnya dan menutup mata.
"Pukul lima lewat empat puluh," katanya pelan.
Putri menjerit. Itu satu-satunya suara keras di ruangan itu. Andi berlutut dan memeluknya dari belakang, dan Putri meronta, lalu berhenti meronta, lalu hanya menangis di lengan ayahnya.
Rahman tidak bergerak. Ia tetap duduk di lantai dengan cucunya di pelukannya dan gelang di dalam kepalan tangannya. Ia memandangi wajah Laila. Wajah itu tenang. Taring yang tadi malam masih ada sudah lenyap. Kulitnya pucat seperti biasanya, tetapi tidak lagi terasa sedingin malam-malam sebelumnya.
Lani mendekat dan berlutut di sisi lain. Ia tidak menyentuh nonanya. Ia hanya merapikan sehelai rambut yang jatuh ke dahi Laila, seperti ia lakukan setiap pagi selama tiga belas tahun.
"Tuan," katanya kepada Rahman. "Biar saya memandikan Nona. Seperti biasa."
Rahman mengangguk. Itu kata pertama yang ia ucapkan, walaupun tanpa suara.
***
Mereka tidak memanggil siapa pun selain yang harus dipanggil. Mia mengisi surat keterangan kematian dengan tulisannya yang rapi. Sebab kematian: henti jantung, pada pasien dengan riwayat kehilangan darah berat yang lama. Ia menulis apa yang ia lihat sebagai dokter, dan tidak menulis apa pun yang tidak bisa ia jelaskan.
Nila menelepon penyidik muda itu sebelum pukul tujuh pagi. Rahman yang memintanya, dengan suara yang hampir habis.
"Laila Har meninggal pagi ini," kata Nila ke telepon. "Cucu Tuan Rahman. Yang memberi keterangan sepuluh hari yang lalu. Tuan Rahman minta Bapak tahu dari kami lebih dulu, bukan dari orang lain."
Penyidik itu diam lama di ujung telepon. Kemudian ia mengucapkan belasungkawa, dan menanyakan sebab kematiannya, dan Nila membacakan surat Mia kata demi kata.
Andi mengurus segala yang lain. Ia menelepon pengurus makam keluarga, memesan kain kafan, menelepon ibunya Putri di mansion yang menangis begitu keras sampai Andi harus menjauhkan telepon dari telinganya. Ia bekerja dengan wajah kaku dan tangan yang tidak berhenti bergerak, karena kalau tangannya berhenti, ia harus memikirkan apa yang terjadi.
Lani memandikan Laila di kamar mandi rumah belakang, di bak yang sama tempat ia menggosok badan nonanya setiap sore, memotong kukunya yang memanjang, mencuci rambutnya. Pelayan muda yang dulu berlutut di dapur membantunya. Ia tidak lagi takut menatap wajah nonanya. Ia menangis sepanjang waktu, tetapi tangannya tidak gemetar.
Mereka tidak menghapus warna merah muda di kuku Laila. Putri yang meminta.
***
Laila dimakamkan sore harinya di pemakaman keluarga Har di pinggir kota, di bawah pohon kamboja yang sudah tua. Rahman sendiri yang memilih tempatnya: di samping makam Randi.
Tidak banyak yang datang. Rahman tidak mengumumkan apa-apa. Yang berdiri di sekeliling liang itu hanya keluarga dan orang-orang yang pernah bekerja di rumah belakang: Lani dan tiga pelayan yang tersisa, para pengawal, Mia, Nila. Istri Andi berdiri di samping suaminya, memegangi lengan Putra. Pengawal tua yang memeriksa mobil malam itu berdiri paling belakang dengan topi di tangannya.
Rahman turun sendiri ke liang lahat untuk menerima tubuh cucunya, walaupun para penggali kubur menawarkan diri. Lututnya sudah tua dan ia hampir jatuh, tetapi Andi turun bersamanya dan memegangi bahunya. Bersama-sama mereka meletakkan Laila di tanah, menghadap kiblat, di samping ayah yang tidak pernah ia kenal.
Andi naik lebih dulu, lalu menarik ayahnya keluar dari liang. Ia berdiri lama memandangi dua nisan yang bersebelahan itu: yang satu sudah berlumut, bertuliskan nama kakaknya, yang satu lagi masih berupa papan kayu dengan nama keponakannya ditulis cat putih.
"Kak," katanya pelan, begitu pelan sampai hanya ayahnya yang mendengar. "Anakmu pulang."
Rahman memegang lengan putranya. Mereka berdiri berdampingan, dua laki-laki yang sama-sama pernah menutup pintu kamar Randi, sama-sama pernah ingin anak itu dijauhkan, dan kini sama-sama tidak tahu harus berbuat apa dengan tangan mereka.
Ketika tanah mulai ditimbun, Putri berlutut di tepi gundukan. Ia mengeluarkan HP-nya dan membuka foto yang mereka ambil kemarin siang: dua wajah di sofa, satu bengkak karena menangis dan tersenyum dengan lesung pipi, satu pucat dengan mata hijau yang menatap lurus ke depan. Ia memandanginya sampai layar itu meredup sendiri.
Lani berdiri di sampingnya. Ia membawa sesuatu di tangannya, dan ia mengulurkannya kepada Putri setelah tanah selesai ditimbun.
Kartu karton bertuliskan LAILA HAR, dengan nama fakultas dan gambar bunga yang lucu.
"Saya menemukannya di laci pagi ini, waktu mengambil baju untuk Nona," kata Lani. "Di bawah buku-buku bahasanya. Nona bilang itu satu-satunya tempat namanya ditulis orang yang tidak mengenalnya."
Putri mengambil kartu itu dengan kedua tangan. Ia memegangnya di dada, seperti nenek Ayu memegang sandal merah muda di makam kampung itu.
***
Malamnya, rumah belakang gelap untuk pertama kalinya dalam tiga belas tahun.
Tidak ada piring daging yang disiapkan di meja dapur. Lani tidur di mansion malam itu, karena Andi memintanya tidak tidur sendirian di rumah belakang. Para pengawal berjaga di gerbang depan seperti biasa, bukan di lorong rumah belakang.
Rahman duduk di ruang kerjanya di lantai dua mansion dengan lampu meja yang menyala. Di depannya, di atas meja, ada gelang kaki dengan tujuh lonceng kecil tanpa anak lonceng.
Ia menunggu lonceng itu berbunyi. Sedikit saja. Satu denting.
Lonceng itu diam.
Rahman memandanginya sampai larut malam. Ia tahu ia bisa memanggil. Ia tahu nama-namanya, setidaknya dua. Ia bisa berkata ke ruangan yang gelap: aku Rahman Har, aku kakeknya, aku punya tawaran. Mereka mungkin datang. Mereka mungkin akan menertawakannya lagi, atau mungkin mereka akan mendengarkan.
Ia tidak memanggil.
Ia mengambil gelang itu, membungkusnya dengan sapu tangan putih dari saku jasnya, dan menyimpannya di laci meja kerjanya, di samping foto Randi yang sudah lama ia sembunyikan di sana. Lalu ia mematikan lampu dan duduk dalam gelap sampai pagi, menepati janjinya kepada cucunya.