Mereka berkumpul di ruang utama rumah belakang setelah lewat pukul sepuluh malam. Lampu-lampu dinyalakan semua. Rahman duduk di sofa di samping Laila. Andi berdiri di dekat pintu dengan satu tangan di bahu Putri. Mia duduk di kursi dengan tas dokternya di pangkuan. Nila memegang buku catatan yang tidak ia buka. Lani berdiri di dekat dapur, di tempat yang biasa ia tempati setiap tengah malam.
Laila melepas kacamatanya dan meletakkannya di meja.
"Kalau kalian takut, kalian boleh keluar," katanya. "Kapan saja."
Tidak ada yang bergerak.
Laila menegakkan punggungnya. Mia baru melepas selang darahnya satu jam lalu, dan ia masih merasakan kepalanya ringan. Ia menatap ruang kosong di tengah ruangan, di antara sofa dan meja.
"Moro. Baro. Dan yang lima," katanya. "Datanglah. Bertujuh. Dan perlihatkan diri kalian kepada mereka. Aku mau keluargaku melihat siapa yang mereka hadapi."
Lonceng di kakinya berdenting satu kali. Lalu tujuh lonceng berbunyi bersamaan, keras dan tidak berhenti.
Lampu-lampu meredup seperti ditelan sesuatu. Udara menjadi dingin dan lembap, berbau tanah busuk dan daging terbakar. Putri menutup hidungnya. Andi tiba-tiba mencengkeram bahu anaknya lebih keras.
Mereka muncul satu per satu.
Moro lebih dulu, di tengah ruangan, dengan taringnya yang hampir menyentuh lantai dan rambut putih yang bergerak tanpa angin. Baro di sampingnya, tinggi dan tipis, dengan dua lubang gelap sebagai mata. Lalu yang lain.
Satu bertubuh besar dan gemuk dengan wajah hitam seperti terbakar dan telinga selebar telinga gajah. Laila mengenalinya: makhluk yang dulu berdiri di atas meja dan menertawakannya ketika ia berumur enam belas. Satu lagi kecil dan bungkuk, kulitnya pucat seperti mayat yang lama terendam, dengan jari-jari yang panjang sekali. Satu tidak punya wajah, hanya kulit licin dengan mulut lebar yang terus tersenyum. Satu berdiri di sudut dengan kepala yang terlalu tinggi sampai menyentuh langit-langit dan harus membungkuk. Dan yang terakhir hampir tidak terlihat, hanya bayangan yang lebih gelap daripada bayangan lain, dengan bau busuk paling tajam di antara semuanya.
Nila menjatuhkan buku catatannya. Mia memejamkan mata dan berdoa tanpa suara. Lani berpegangan pada meja dapur. Putri menempelkan wajahnya ke dada ayahnya, dan Andi memeluknya dengan kedua tangan, gemetar dari kepala sampai kaki, tetapi ia tidak lari.
Rahman tidak memejamkan mata. Ia menatap mereka satu per satu, seperti dulu ia menatap lawan-lawannya di meja rapat.
"Nona memanggil kami semua," kata Moro. "Ada perayaan?"
"Aku punya tawaran," jawab Laila.
***
Ia mengucapkannya pelan dan jelas, satu demi satu, seperti membaca dari buku yang sudah ia hafal.
"Aku memutus perjanjian dengan kalian, seperti ibuku. Aku menyerahkan jiwaku kepada kalian, yang memang sudah kalian klaim sejak hari perjanjian. Kalian boleh mengambilnya. Tapi aku tidak menunjuk tuan baru. Tidak ada penerus. Tidak ada tumbal lagi, tidak di gerhana berikutnya, tidak di gerhana mana pun. Tidak ada korban pengganti. Dan kalian tidak boleh mengikuti siapa pun dari darah ibuku atau dari keluarga Har. Tidak kakekku, tidak pamanku, tidak Putri, tidak Putra, tidak anak-anak mereka nanti. Kalian kembali ke hutan kalian dan tidak keluar lagi untuk kami."
Ruangan itu sunyi. Lonceng masih berbunyi, tetapi pelan sekarang, seperti napas.
Moro yang pertama tertawa. Kemudian yang tidak berwajah, dengan mulut lebarnya. Kemudian yang gemuk, sampai telinga Laila berdengung.
"Untuk apa kami setuju?" tanya Moro. "Satu jiwa. Satu! Sementara kalau Nona hidup, kami bisa makan enam puluh tahun lagi. Satu keluarga setiap gerhana. Dan di akhir, jiwa Nona tetap jadi milik kami. Nona menawarkan sesuatu yang sudah kami miliki, dan meminta kami menukarnya dengan kelaparan."
"Kalian tidak akan makan enam puluh tahun," kata Laila.
"Oh?"
"Aku tidak akan membayar tumbal lagi. Tidak satu pun. Setiap gerhana aku akan menolak, dan kalian harus mengambil tubuhku dengan paksa, seperti dua pekan ini." Ia mengangkat kedua tangannya yang penuh bekas jarum. "Lihat tubuhku. Mia bilang darahku hilang lebih cepat daripada yang bisa ia ganti. Kalau kalian terus begini, tubuhku rusak sebelum gerhana berikutnya. Kalian akan mendapat mayat yang melawan, bukan tuan yang melayani. Dan aku tidak punya anak perempuan. Aku yang terakhir dari darah ibuku. Kalau aku mati dengan cara itu, kalian juga tidak punya siapa-siapa lagi."
"Kami bisa mencari," kata yang gemuk. Suaranya berat seperti batu digeser. "Ada darah lain di rumah ini. Darah yang sudah kenyang oleh kami tiga belas tahun."
Andi memeluk Putri lebih erat. Rahman bangkit setengah dari sofa.
"Itu sebabnya ada syarat terakhir," kata Laila tanpa menoleh kepada mereka. "Kalian tidak mengikuti keluarga Har. Kalau kalian menolak syarat itu, aku tidak menyerahkan apa pun. Aku akan hidup selama yang aku bisa dan melawan kalian setiap malam, dan jiwaku baru kalian ambil ketika tubuhku sudah habis. Kalian tidak akan mendapat jiwa yang diserahkan dengan sukarela. Kalian hanya akan mendapat sisa."
"Nona menawar seperti kakek Nona," kata Moro. Ia tidak lagi tertawa.
"Aku belajar darinya."
***
Baro berbicara untuk pertama kalinya. "Jiwa yang diserahkan sendiri lebih baik daripada jiwa yang diambil," katanya pelan. "Ibunya menyerahkan dirinya. Kita semua ingat rasanya."
Moro menoleh tajam kepadanya. "Kau berpihak kepada manusia?"
"Aku berpihak kepada yang lebih kenyang."
Laila memandangi lima yang lain. "Aku mau mendengar kalian satu per satu. Bukan hanya Moro dan Baro."
Yang gemuk menggeram. "Tidak."
Yang kecil dan bungkuk menggaruk lantai dengan jari-jarinya yang panjang. "Belum."
Yang tidak berwajah hanya tersenyum lebih lebar, dan tidak menjawab.
Yang tinggi di sudut berkata, "Timbang."
Yang hanya bayangan berbisik, begitu pelan sampai hanya Laila yang mendengarnya: "Ibumu juga menawar seperti ini, pada malam terakhir. Kami menerimanya."
Laila menatap bayangan itu. Ia ingin bertanya apa maksudnya. Tetapi bayangan itu sudah mundur ke sudut paling gelap.
"Kami akan menimbang," kata Moro akhirnya, dengan suara yang tidak senang. "Bertujuh. Nona akan mendapat jawaban sebelum matahari terbit."
Mereka menghilang bersama-sama. Lampu-lampu menyala terang lagi. Lonceng di kaki Laila berhenti.
Untuk waktu yang lama, tidak ada yang bergerak di ruang utama itu. Lalu Laila mendengar suara kecil di sampingnya, dan ia menoleh.
Kakeknya menangis. Rahman Har, yang hampir tidak pernah menangis di depan siapa pun sejak hari ia menjemput cucu kecilnya dari rumah Badrun, menangis di sofa dengan kedua tangan menutupi wajahnya, dan bahunya berguncang seperti bahu nenek Ayu di depan gundukan tanah merah.
Laila meletakkan tangannya yang berkuku merah muda di punggung kakeknya, dan membiarkannya di sana.