Andi mendengar kabar itu dari Nila, dan Putri mendengarnya dari Andi, dan pada pagi hari kedua puluh sejak gerhana mereka berdua sudah duduk di ruang utama rumah belakang ketika Laila keluar dari kamarnya dengan langkah pelan, dipapah Lani.
Rahman juga ada di sana. Ia duduk di kursi dekat jendela dengan mata merah dan pakaian yang sama dengan kemarin.
"Papa bilang kamu mau mati," kata Putri. Ia tidak berbasa-basi. Matanya bengkak. "Itu benar?"
"Aku mau menyerahkan jiwaku kepada mereka," jawab Laila. Ia duduk di sofa. Lani menyelimuti kakinya. "Supaya mereka berhenti. Kalau jiwaku diambil, aku mati."
"Itu sama saja!"
"Iya."
Putri berdiri, lalu duduk lagi, lalu menangis. Laila memperhatikannya. Ia masih tidak bisa menangis, tetapi sekarang ia tahu apa yang ada di balik tangisan seperti itu. Ia sudah melihatnya di kepala nenek Ayu.
Andi tidak menangis. Ia duduk diam dengan kedua siku di lutut, memandangi lantai. Ketika ia akhirnya bicara, suaranya serak.
"Aku pernah ingin kamu mati," katanya. "Kamu sudah tahu. Kamu membacanya di kepalaku waktu itu. Sejak kamu umur lima tahun dan memuntahkan paku di kamarmu, aku ingin kamu tidak ada. Aku bilang ke diriku sendiri itu demi Putri. Demi keluarga."
Laila menunggu.
"Sekarang kamu bilang kamu mau mati, dan aku..." Andi berhenti. Rahangnya bergerak. "Aku tidak mau. Aku tidak tahu sejak kapan. Mungkin sejak malam itu, waktu kamu jatuh di depan kamar Putri. Mungkin sejak kemarin. Tapi aku tidak mau, Laila."
"Terima kasih, Paman."
Andi tertawa pendek, tanpa senang. "Jangan berterima kasih. Aku tidak melakukan apa-apa."
Rahman mengangkat wajah dari jendela. "Kalau begitu bantu kakek meyakinkannya," katanya. "Kita bisa kembali seperti dulu. Rumah ini. Penjagaan. Mia setiap hari. Kakek akan membayar perawat sepanjang malam supaya dia tidak pernah tertidur sendirian. Kalau gerhana datang, kita kurung dia di kamar dengan pintu besi, kita..."
"Ayah," kata Andi.
Rahman berhenti.
"Keluarga di mobil itu tidak bisa diulang," kata Andi pelan. "Ayah tahu itu. Kita tidak bisa mengurungnya lalu berharap pintu besi lebih kuat daripada mereka. Malam itu dia melayang, Ayah. Kakinya tidak menyentuh lantai. Aku melihatnya sendiri. Pintu besi apa yang mau Ayah pasang?"
"Dan kalau suatu malam pintunya kalah," sambung Putri di antara isaknya, "ada nenek lain di makam lain, Kek. Laila cerita soal nenek Ayu. Kakek mau ada nenek lain lagi supaya kita nggak sedih?"
Rahman memandangi anak dan cucunya. Ia membuka mulut, dan tidak ada kata yang keluar.
"Cara lama sudah membuat kita semua ikut menutupi kematian mereka," kata Andi. "Ayah, aku, Nila, Lani, pengawal. Semua orang di rumah ini ikut membawa anjing itu. Aku tidak mau membawa yang berikutnya."
Mia, yang sejak tadi duduk di kursi dekat pintu dengan tas dokternya, akhirnya bicara. "Laila, berapa lama menurutmu tubuhmu bisa bertahan seperti ini?"
"Aku mau Mia yang menjawab."
Mia diam sebentar. "Saya tidak tahu," katanya jujur. "Setiap pagi saya mengganti darah yang hilang semalam. Setiap pagi lebih banyak. Kalau terus begini, beberapa pekan. Mungkin kurang. Saya sudah merawatmu sejak umurmu lima tahun, dan saya tidak pernah bisa menjelaskan apa yang terjadi pada tubuhmu. Saya tidak akan berpura-pura bisa sekarang."
Rahman memandangi dokter itu seperti hendak memarahinya. Lalu bahunya turun.
Laila mendengarkan semuanya tanpa berkata apa pun. Ia bisa saja melepas kacamatanya dan menatap kakeknya sampai kakeknya setuju. Itu akan mudah. Rahman sedang lelah dan takut, dan pikiran yang lelah dan takut adalah pikiran yang paling mudah diperintah.
Ia tidak melakukannya. Ia membiarkan kakeknya duduk dengan kehancurannya sendiri.
"Aku belum memanggil mereka," katanya akhirnya. "Aku akan memanggil mereka malam ini. Aku mau kalian ada di sana. Semua. Supaya kalian mendengar sendiri apa yang mereka katakan, bukan dari aku."
***
Siang itu, setelah semua orang pergi, Putri kembali sendirian. Ia membawa tas kecil berisi botol-botol warna-warni dan menaruhnya di meja.
"Kutek," katanya. "Kamu pernah dicat kukunya sama pelayan, kan, hari kita ke mall dulu. Aku mau mengecatnya sendiri. Boleh?"
Laila mengangguk. Putri duduk di lantai di depan sofa dan mengambil tangan sepupunya. Ia ragu sesaat ketika menyentuhnya, karena tangan itu dingin dan kurus dan masih ada bekas jarum di punggungnya. Lalu ia mulai mengecat, satu kuku demi satu kuku, dengan warna merah muda yang lembut.
"Ini warna favoritku," kata Putri. "Nggak tahu kamu suka atau nggak."
"Aku tidak tahu aku suka apa."
"Kalau begitu hari ini kamu suka merah muda."
Tangan Putri cekatan. Ia mengecat dengan hati-hati, menghapus warna yang meleset ke kulit dengan ujung tisu, dan bercerita tentang teman sekamarnya waktu kemah SMA yang mengecat kuku seluruh rombongan dengan warna hijau. Laila mendengarkan. Ia tidak mengerti kenapa cerita itu lucu, tetapi ia suka mendengar Putri tertawa di tengah ceritanya sendiri.
Laila memandangi kukunya yang berkilat basah. Ia teringat sandal kecil dengan hiasan kupu-kupu, dan menyingkirkan pikiran itu pelan-pelan. Bukan karena ia ingin lupa. Hanya karena ia ingin satu siang yang lain.
Putri meniup kuku-kuku itu supaya cepat kering. Lalu ia mengeluarkan HP-nya.
"Dulu kamu tanya, benda ini bisa memindahkan wajah?" katanya. "Sini. Lepas kacamatamu. Nggak apa-apa, aku nggak lihat matamu, aku lihat layarnya."
Laila melepas kacamatanya. Putri duduk di sampingnya di sofa, bahu mereka bersentuhan, dan mengangkat HP itu di depan mereka. Di layar, Laila melihat dua wajah: wajah Putri yang bengkak karena menangis dan tersenyum dengan lesung pipi kirinya, dan wajahnya sendiri, pucat, tirus, dengan dua mata hijau gelap yang menatap balik.
"Senyum," kata Putri.
Laila tidak tahu bagaimana caranya tersenyum untuk benda. Ia hanya tahu caranya tersenyum untuk kakek. Jadi ia memikirkan kakeknya, membelai kepalanya di sofa ini, bertahun-tahun yang lalu.
Putri menekan tombol. Bunyi kecil terdengar.
"Nah," katanya. Suaranya bergetar. Ia memperlihatkan layar itu kepada Laila. "Bagus. Kamu cantik."
Laila memandangi gambar itu lama. Untuk pertama kalinya, ia tidak bertanya apa arti cantik.
"Kirim ke HP-ku," katanya. "Dan simpan di HP-mu juga."
"Iya."
"Jangan dihapus."
"Nggak akan," kata Putri, dan ia menangis lagi, dan kali ini Laila mengulurkan tangannya yang berkuku merah muda dan menyentuh bahu sepupunya, karena ia pernah melihat kakek melakukan itu.