Laila memberi tahu kakeknya keesokan siangnya, ketika matahari paling tinggi.
Ia meminta Mia melepas selang darah untuk satu jam. Ia ingin duduk di sofa ruang utama, bukan di ranjang, supaya kakeknya tidak berbicara kepadanya seperti berbicara kepada orang sakit. Lani menyisir rambutnya dan memakaikan baju yang bersih. Kacamata hitamnya ia letakkan di meja.
Rahman datang dari kantor polisi, dari wajib lapor pekannya yang pertama. Ia duduk di samping cucunya dan memandangi wajah Laila yang semakin tirus.
"Kamu kelihatan lebih segar," katanya, walaupun itu tidak benar.
"Kek, aku mau menyerahkan jiwaku kepada mereka."
Rahman memandanginya seolah ia baru saja berbicara dalam bahasa yang tidak ia kenal.
Laila menjelaskan semuanya, sama seperti ia menjelaskannya kepada Lani. Perjanjian ibunya. Dua hal yang diucapkan ibunya malam itu. Apa yang terjadi bila ia memutus perjanjian tanpa menunjuk siapa pun. Tumbal yang hanya upah untuk melayani. Tubuhnya yang semakin rusak setiap malam. Enam puluh tahun gerhana.
Ia berbicara dengan tenang, dan semakin tenang ia berbicara, semakin pucat wajah kakeknya.
"Tidak," kata Rahman ketika ia selesai.
"Kek..."
"Tidak. Tidak, Laila." Rahman berdiri. Ia berjalan ke jendela, lalu kembali, lalu ke jendela lagi, seperti binatang di dalam kandang. "Kakek akan mencari cara lain. Pasti ada cara lain. Ibumu tahu banyak hal, keluarganya ratusan tahun memegang ilmu ini, pasti ada orang lain yang tahu, pasti ada..."
"Kakek sudah mencari berhari-hari," kata Laila. "Nila bilang kakek menelepon semua orang. Tidak ada yang tahu apa-apa. Ada yang minta uang dan menyuruh kakek membeli kambing hitam. Ada yang menyuruh kakek menyembelih ayam di depan pintu."
"Kakek tidak peduli. Kakek akan mencoba semuanya."
"Itu tumbal juga, kek. Cuma lebih kecil."
Rahman berhenti di tengah ruangan. Ia berbalik menghadap cucunya, dan Laila melihat sesuatu di matanya yang belum pernah ia lihat sebelumnya: keputusan yang dibuat dengan putus asa.
"Kalau begitu ambil kakek," katanya. "Kakek yang akan bicara dengan mereka. Kakek sudah tua. Kakek sudah hidup cukup lama. Biar kakek yang menjadi gantinya. Jiwa kakek untuk jiwamu."
"Itu korban pengganti, kek."
"Kakek yang memilihnya sendiri!"
"Ayu tidak memilih," kata Laila. "Nenek Ayu tidak memilih. Ibu memilih, dan aku yang menanggungnya." Ia memandangi kakeknya tanpa kacamata, tanpa membaca pikirannya. Ia hanya ingin kakeknya melihat matanya. "Kalau kakek mati untukku, aku yang tetap hidup dengan mereka. Mereka tetap lapar. Gerhana tetap datang. Lalu siapa lagi sesudah kakek? Paman? Putri?"
Rahman tidak menjawab. Ia duduk perlahan di kursi di seberang sofa dan menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Tidak ada pengganti," kata Laila. "Termasuk kakek."
Rahman tetap menutup wajahnya. Dari balik kedua tangannya, suaranya terdengar teredam. "Kamu belum memanggil mereka?"
"Belum. Aku mau kakek tahu lebih dulu. Lalu paman dan Putri."
"Kenapa? Kamu bisa saja melakukannya diam-diam. Kakek tidak akan pernah tahu sampai semuanya selesai."
Laila memandangi kakeknya. "Karena itu cara kakek," katanya. "Aku tidak mau memakai cara kakek."
Rahman menurunkan tangannya perlahan. Ia memandangi cucunya dengan mata merah, dan tidak membantah.
***
Malam itu Rahman tidak pergi ke rumah belakang. Ia duduk sendirian di ruang kerjanya di mansion, dengan lampu meja yang dimatikan dan hanya cahaya bulan dari jendela. Di depannya terbuka sebuah buku tabungan, setumpuk sertifikat tanah, dan daftar saham yang ia hafal di luar kepala.
Ia tidak tahu apakah makhluk-makhluk itu bisa mendengarnya. Ia tidak pernah bisa melihat mereka. Ia hanya pernah mendengar lonceng.
"Aku tahu kalian ada," katanya ke ruangan yang gelap. Suaranya bergetar, dan ia membencinya. "Aku tahu kalian mendengar. Aku Rahman Har. Aku kakeknya. Aku punya tawaran."
Ruangan itu tetap gelap. Kemudian udara menjadi dingin, begitu dingin sampai napas Rahman berubah menjadi uap tipis. Bau busuk mengisi hidungnya, bau daging terbakar dan sesuatu yang lebih tua dari itu, seperti tanah kuburan yang dibongkar. Bau yang sama, ia ingat tiba-tiba, dengan bau yang diceritakan Badrun tentang malam ketika Laili dibakar.
Di kursi di seberang mejanya, di tempat Andi biasa duduk, ada sesuatu.
Rahman melihatnya. Untuk pertama kali dalam tiga belas tahun, ia melihatnya dengan mata kepalanya sendiri. Sosok besar yang duduk membungkuk, taring yang menjulur panjang hampir sampai ke lantai, rambut putih di sekeliling wajah yang bergerak seperti dihembus angin padahal tidak ada angin. Dua mata yang menatapnya dengan geli.
"Orang tua," kata Moro. Suaranya membuat telinga Rahman berdengung. "Kau memanggil. Aku datang karena aku penasaran. Apa yang ditawarkan seorang kakek?"
Rahman mencengkeram tepi mejanya. Ia memaksa mulutnya bergerak. "Semuanya. Semua yang kumiliki. Perusahaan, tanah, uang. Asal kalian lepaskan cucuku dan jangan mengambil jiwanya."
Moro tertawa. Tawanya begitu keras sampai kaca jendela bergetar dan tumpukan sertifikat di meja beterbangan seperti daun kering.
"Harta?" katanya ketika tawanya reda. "Kau menawarkan kami harta? Orang tua, dari mana kau kira harta itu datang? Tiga belas tahun kau tidak pernah kalah. Tiga belas tahun semua pintu terbuka untukmu. Kau kira itu karena kau pintar?"
Moro mencondongkan tubuh ke depan, dan wajahnya berhenti hanya sejengkal dari wajah Rahman.
"Itu upah kecil dari kami, untuk tuan rumah yang merawat nona kami dengan baik. Kau sudah memakan bagianmu, orang tua. Kau sudah kenyang bertahun-tahun. Sekarang kau mau membayar kami dengan makanan yang kami berikan sendiri?"
"Lalu apa yang kalian mau?" Rahman mendengar suaranya sendiri, kecil dan pecah. "Katakan. Apa pun."
Moro memandanginya dengan sesuatu yang hampir menyerupai rasa kasihan.
"Kami mau nona kami," katanya. "Bukan kau. Kau tidak punya apa-apa yang belum kami miliki, orang tua. Tanahmu, uangmu, rumahmu, bahkan anak-anakmu tidur nyenyak di atas upah kami. Hanya satu hal di rumah ini yang bukan milik kami sampai ia sendiri menyerahkannya."
"Laila."
"Jiwanya." Moro menyeringai. "Dan hanya dia yang bisa menawarkannya. Bukan kakeknya."
Ia tertawa lagi, lebih pelan, lalu menghilang.
Udara kembali hangat. Bau busuk itu perlahan pudar.
Nila menemukan tuannya pagi harinya, tertidur di lantai ruang kerja di antara sertifikat yang berserakan. Ia membangunkannya dengan hati-hati. Rahman membuka mata, memandangi kertas-kertas di sekelilingnya, dan lama sekali tidak mengatakan apa-apa.
"Nila," katanya akhirnya. "Kumpulkan semua ini. Simpan. Aku tidak membutuhkannya untuk apa pun."