Mereka benar-benar datang setiap malam.
Malam pertama, Laila terjaga sampai pagi dengan bantuan kopi pahit yang dibuatkan Lani dan buku-buku yang ia baca keras-keras. Malam kedua, ia tertidur sebentar menjelang subuh dan terbangun di lantai dapur dengan pintu lemari pendingin terbuka dan tangan berlumuran darah daging sapi. Malam ketiga, Rahman dan Lani bergantian duduk di samping ranjangnya, memanggil namanya setiap kali kelopak matanya mulai turun.
Pada malam keempat, tubuhnya mulai melawan dari dalam.
Laila terbangun pukul dua dengan rasa sakit yang ia kenal dari masa kecil. Kepalanya seperti ditekan beban yang sangat berat. Matanya panas. Darah mengalir dari hidungnya, lalu dari telinganya, lalu dari sudut kedua matanya. Ia memuntahkan darah ke lantai di samping ranjang, dan di dalam darah itu ada sesuatu yang bergerak.
Lani menjerit memanggil Mia.
Mia datang dengan dua perawat dan peralatan yang sama seperti dulu, ketika Laila mati suri berbulan-bulan sampai ulang tahunnya yang ketujuh belas. Menjelang pagi, kedua tangan Laila sudah terpasang selang darah, dan sebuah kantong infus tergantung di tiang di samping ranjang.
"Tubuhnya kehilangan darah lebih cepat daripada yang bisa saya ganti," kata Mia kepada Rahman di lorong. Ia berbicara pelan, tetapi Laila mendengarnya dari ranjang. "Seperti dulu, waktu dia kecil, waktu tubuhnya menolak sesuatu. Saya bisa terus mengganti darahnya, Tuan. Tapi saya tidak tahu sampai berapa lama tubuhnya bertahan kalau ini terjadi setiap malam."
Rahman tidak menjawab. Laila mendengar kakeknya bersandar ke dinding, dan bunyi napasnya yang panjang.
Siang itu Rahman tidak berangkat ke mana pun. Ia duduk di kursi di samping ranjang cucunya dengan HP di tangan, menelepon orang-orang yang namanya ia dapat dari kenalan dan kenalan dari kenalan. Laila mendengarnya berbicara dengan suara rendah di sudut kamar, menyebut kata-kata yang tidak pernah ia dengar kakeknya ucapkan sebelumnya: orang pintar, penangkal, tolak bala.
***
Pada hari ketujuh, ketika matahari sedang tinggi dan Laila tidak terlalu takut tertidur, ia memanggil Baro saja.
Ia memilih Baro karena Baro tidak tertawa. Iblis tinggi itu muncul di sudut kamar dan membungkuk seperti biasanya, lalu menegakkan tubuh dan menunggu.
"Aku mau bertanya tentang ibuku," kata Laila. Suaranya serak. Selang darah di kedua tangannya bergoyang setiap kali ia bergerak. "Malam itu ibu bilang dia memutus perjanjian dengan kalian. Bawa aku sebagai tumbal dan jaga anakku, sekarang dia tuanmu yang baru. Kenapa pengorbanan ibu tidak mengakhiri semuanya? Kenapa kalian pindah kepadaku?"
"Karena ibumu mengucapkan dua hal," jawab Baro. "Ia memutus perjanjiannya sendiri dan menyerahkan dirinya. Itu yang pertama. Lalu ia menunjuk tuan baru. Itu yang kedua. Kami mengikuti siapa yang ditunjuk."
"Kalau ibu tidak menunjukku?"
"Maka kami pergi dengan jiwanya. Dan tidak mengikuti siapa pun lagi."
Laila memikirkan itu lama. Kipas angin di langit-langit berputar pelan. "Jadi ibu bisa membebaskanku malam itu. Dan dia memilih tidak."
"Ibumu ingin kau hidup," kata Baro. "Malam itu warga di luar membawa obor. Tanpa kami, kau tidak akan keluar dari rumah itu hidup-hidup. Ibumu tahu itu."
Laila tidak tahu apakah itu benar. Ia tahu Badrun yang menyelamatkannya, bukan iblis. Tetapi ia juga ingat bagaimana Badrun tiba-tiba berteriak tunggu, tepat ketika warga hendak membakarnya. Ia tidak pernah bertanya kenapa kepala desa itu tiba-tiba ingat pada upah dari kakeknya.
"Waktu perjanjian, kalian bilang hanya empat di antara kalian yang dulu berjanji dengan ibu dan nenek moyangku. Sekarang kalian bertujuh. Kenapa?"
"Empat yang melayani keluarga ibumu sejak lama," jawab Baro. "Tiga lagi datang karena ibumu memberi tujuh telur. Ia ingin kau dijaga lebih kuat daripada dirinya."
"Dan tuntutannya lebih besar."
Baro tidak menjawab itu. Laila tidak memaksanya. Ia tidak tahu apakah jawaban tentang telur itu benar, atau hanya cerita yang membuat ibunya terdengar seperti orang yang memilih ini semua demi dirinya. Ia tidak tahu apakah iblis bisa berbohong. Yang ia tahu, mereka tidak pernah mengatakan semuanya.
"Satu lagi," kata Laila. "Jiwaku milik kalian. Kalian bilang kalian mengambilnya ketika aku mati atau ketika aku menyerahkannya. Kalau aku menyerahkannya dan memutus perjanjian, seperti ibu, tapi aku tidak menunjuk siapa pun..."
"Maka tidak ada yang kami ikuti," jawab Baro. Untuk pertama kalinya suaranya terdengar pelan. "Dan jiwamu kami ambil saat itu juga."
"Tidak ada tumbal lagi?"
"Tumbal adalah upah untuk melayani. Kalau tidak ada yang kami layani, tidak ada upah."
"Dan kalian tidak akan mencari orang lain dari keluargaku? Putri? Kakek?"
Baro diam lama. "Itu tidak bisa kujawab sendiri," katanya akhirnya. "Kami bertujuh. Itu harus disetujui ketujuhnya."
Ia membungkuk dan menghilang.
***
Lani masuk membawa bubur dan segelas jus jeruk. Ia menemukan nonanya duduk diam memandangi sudut kamar yang kosong.
"Nona harus makan sedikit," katanya. "Dokter Mia bilang..."
"Lani, duduk."
Lani meletakkan nampan di meja dan duduk di kursi di samping ranjang. Laila menceritakan percakapannya dengan Baro. Semua kata, sesuai urutannya, seperti ia selalu mengingat setiap detail sejak kecil. Wajah Lani semakin lama semakin pucat.
"Nona tidak serius," kata Lani ketika Laila selesai.
"Aku serius."
"Nona baru delapan belas tahun."
"Ayu baru lima tahun."
Lani menutup mulutnya dengan kedua tangan. Air matanya jatuh ke celemek.
"Kalau aku tetap hidup," kata Laila, pelan dan jelas, "mereka datang setiap malam. Suatu malam aku akan tertidur, dan tubuhku akan berjalan ke kamar Putri, atau ke dapur waktu kamu di sana, atau ke jalan lagi. Dan kalau aku bisa bertahan sampai gerhana berikutnya, akan ada keluarga lain di mobil lain. Lalu gerhana sesudahnya. Moro bilang enam puluh tahun, Lani. Enam puluh tahun gerhana."
"Tuan besar tidak akan mengizinkan."
"Aku tahu." Laila memandang kepala pelayannya. Lani yang memandikannya sejak kecil. Lani yang duduk di dapur sampai pagi menemaninya memuntahkan bubur. Lani yang berlari dengan kaki telanjang di atas batu untuk mengejarnya. "Karena itu aku memberitahumu lebih dulu. Supaya ada orang yang tahu aku memikirkannya waktu aku sadar. Waktu siang. Bukan karena mereka menyuruhku."
Lani menangis tanpa suara. Laila tidak tahu bagaimana menghiburnya. Ia mengulurkan tangannya yang tersambung selang, dan Lani menggenggamnya, hati-hati sekali, supaya selang itu tidak tercabut.
Tangan Lani hangat. Laila memperhatikan kehangatan itu, dan menyimpannya.