Kantor polisi itu bangunan bercat krem dengan halaman parkir yang sempit. Rahman belum pernah masuk ke tempat seperti ini sebagai orang yang hendak mengaku. Selama ini, kalau urusannya menyentuh polisi, ia mengirim pengacara, atau Nila, atau cukup menelepon seseorang yang kenal seseorang.
Mereka datang berempat: Rahman, Nila, Lani, dan Laila dengan kacamata hitamnya. Pengawal tua yang memeriksa mobil malam itu menyusul dengan mobil kedua. Ia sendiri yang meminta ikut setelah mendengar dari Lani.
Seorang petugas di meja depan memandangi rombongan berpakaian bagus itu dengan heran. Ketika Rahman menyebut kecelakaan di ruas jalan dekat kompleks perumahan mereka, petugas itu mengerutkan dahi, membuka buku besar, dan menelepon ke dalam.
Mereka menunggu setengah jam di bangku kayu yang keras. Laila duduk di antara Lani dan kakeknya. Ia memperhatikan orang-orang lain di ruang tunggu itu: seorang ibu yang menangis karena motornya dicuri, dua remaja laki-laki dengan wajah lebam, seorang bapak yang terus-menerus melihat jam. Ia tidak membaca pikiran mereka. Ia hanya melihat mereka dari balik kacamata, dan berpikir bahwa semua orang di ruangan ini juga punya keluarga.
***
Penyidik yang menangani perkara itu masih muda, mungkin belum tiga puluh tahun, dengan kemeja yang lengannya digulung. Ia membawa mereka ke ruangan kecil dengan meja besi dan kipas angin yang berderit. Ia mendengarkan Rahman bicara lebih dulu.
Rahman menceritakan semuanya tanpa berhenti. Ia berada di luar negeri malam itu. Kepala pelayannya menelepon dan mengatakan cucunya ditemukan di jalan, tepat di depan mobil yang terguling. Ia memerintahkan orang-orangnya membereskan tempat itu sebelum polisi datang. Sekretarisnya mengatur bangkai anjing dan keterangan pertama untuk wartawan. Semuanya ia lakukan supaya nama cucunya tidak muncul.
Penyidik itu berhenti mengetik di tengah cerita. Ia memandangi Rahman seperti memandangi orang yang baru saja menyerahkan diri untuk perkara yang tidak pernah dicurigai siapa pun.
"Bapak sadar apa yang Bapak katakan?"
"Sadar."
"Bapak menaruh barang bukti palsu di lokasi kecelakaan yang menewaskan tiga orang."
"Saya menyuruh orang melakukannya," kata Rahman. "Itu sama saja."
Penyidik itu menoleh kepada Nila. Nila mengangguk dan mengulang bagiannya sendiri dengan suara tenang, lengkap dengan nama tempat penampungan hewan dan jam teleponnya. Penyidik itu mencatat semuanya, lalu memandang Laila.
"Dan Mbak cucunya. Yang di jalan."
"Iya, Pak."
"Bisa lepas kacamatanya? Saya perlu melihat wajah orang yang saya mintai keterangan."
Laila menggenggam ujung meja. Lonceng di kakinya diam. Ia tidak marah, tidak takut. Ia hanya tahu apa yang akan terjadi kalau ia melepas kacamatanya.
"Saya tidak bisa, Pak," katanya. "Kalau saya menatap Bapak lama-lama, Bapak akan percaya apa saja yang saya inginkan. Saya tidak mau Bapak percaya kepada saya karena mata saya. Saya mau Bapak percaya kepada apa yang saya katakan, atau tidak percaya sama sekali."
Penyidik itu memandanginya lama. Ia jelas mengira gadis di depannya sedang mengigau, atau sedang berpura-pura. Tetapi ada sesuatu dalam suara Laila yang datar dan tidak bergetar itu yang membuatnya tidak memaksa.
"Baik," katanya. "Ceritakan apa yang Mbak ingat."
"Saya tidur di kamar saya. Lalu saya mencium bau manis. Lalu saya bangun di jalan, dan mobil itu sudah terbalik di semak-semak." Laila berhenti. "Saya tidak ingat berjalan ke sana. Saya tidak ingat melihat mobilnya datang. Saya tidak ingat apakah saya sengaja berdiri di depannya."
"Apakah Mbak sengaja?"
"Saya tidak tahu, Pak. Saya tidak mau menjawab tidak, karena saya tidak ingat. Saya juga tidak bisa menjawab iya."
Penyidik itu mengetik pelan. "Berjalan dalam tidur," gumamnya. "Pernah sebelumnya?"
"Pernah," kata Laila. "Dua malam yang lalu. Saya berjalan ke rumah kakek dan berhenti di depan pintu kamar sepupu saya."
Rahman menutup mata. Nila menatap meja. Penyidik itu mengetik kalimat itu juga, kata demi kata.
***
Lani mendapat giliran terakhir. Ia menceritakan malam itu dari awal: nonanya keluar rumah dengan tatapan kosong, ia mengikuti bersama dua pengawal, mobil keluarga itu membanting setir, terguling. Ia menceritakan bahwa pengawal memeriksa ketiganya dan tidak ada yang bisa ditolong.
Lalu ia berhenti. Tangannya meremas tali tasnya.
"Ada satu lagi, Pak," katanya. "Pagi harinya saya membaca berita di HP. Berita bilang mereka meninggal karena menghindari anjing. Saya lega, Pak. Saya lega sekali. Karena nama Nona tidak ada di sana." Suara Lani pecah. "Saya baru sadar beberapa hari kemudian. Saya lega karena tiga orang yang mati itu dikubur dengan cerita bohong. Saya tidak memikirkan mereka sama sekali pagi itu. Saya cuma memikirkan Nona."
Penyidik itu tidak mengetik bagian itu. Ia hanya mendengarkan, dan setelah Lani selesai, ia diam beberapa saat sebelum mengucapkan terima kasih.
Pengawal tua itu memberikan keterangannya di ruangan lain. Ketika ia keluar, matanya merah, dan ia tidak berbicara kepada siapa pun.
***
Hari sudah sore ketika mereka keluar. Penyidik itu mengantar mereka sampai pintu dan menjelaskan dengan singkat: perkara kecelakaan akan dibuka kembali, Rahman dan Nila akan dipanggil lagi untuk pemeriksaan lanjutan, dan sementara itu Rahman wajib datang melapor setiap pekan. Ia menyebut beberapa pasal dengan nada datar. Rahman mendengarkan tanpa membantah, tanpa menyebut nama pengacaranya, tanpa menawarkan apa pun.
Di halaman parkir, Nila berjalan ke mobil dengan langkah yang lebih ringan daripada ketika datang. Lani menggandeng tangan nonanya.
Laila berhenti di samping mobil. Lonceng di kakinya berdenting.
Di atas atap kantor polisi itu, di antara antena dan tangki air, Moro berjongkok seperti burung besar yang buruk rupa. Baro berdiri di sampingnya, tegak dan tipis. Keduanya memandang ke bawah.
"Nona sibuk sekali dengan manusia," seru Moro. Suaranya hanya sampai ke telinga Laila. "Mengaku ini, mengaku itu. Tapi Nona lupa satu hal. Polisi tidak bisa memberi kami makan."
"Kami lapar, Nona," kata Baro. "Kami tidak akan menunggu gerhana."
"Setiap malam," tambah Moro sambil tersenyum lebar sampai taringnya berkilat di bawah matahari sore. "Setiap malam Nona tidur, kami datang mengetuk."
Mereka menghilang. Laila berdiri di samping mobil sampai Lani menarik tangannya pelan.
"Nona?"
"Masuk saja," kata Laila. "Aku tidak apa-apa."
Itu kebohongan pertamanya kepada Lani. Ia menyadarinya setelah pintu mobil tertutup, dan ia tidak tahu kenapa ia melakukannya.