Malam itu Rahman tidak pulang ke kamarnya. Ia duduk di ruang kerja dengan lampu meja yang menyala, memandangi map yang ditinggalkan Andi di sofa. Map itu masih berisi brosur vila dan surat keputusan dengan kolom tanda tangan yang kosong.
Nila mengetuk pintu pukul sepuluh. Ia membawa teh, seperti setiap malam ketika tuannya bekerja sampai larut. Tetapi kali ini ia tidak meletakkan cangkir itu lalu pergi. Ia berdiri di depan meja dengan kedua tangan terkatup.
"Tuan," katanya. "Saya ingin mengatakan sesuatu sebelum Tuan memutuskan apa pun."
Rahman mengangkat wajah.
"Malam itu, waktu kita masih di luar negeri, Tuan bilang bereskan. Tuan tidak bilang caranya." Nila menelan ludah. "Saya yang memikirkan anjing itu, Tuan. Saya yang menelepon orang-orang kita. Saya yang menyuruh mereka mencari bangkai anjing di tempat penampungan hewan dan meletakkannya di dekat mobil. Saya juga yang menelepon seorang kenalan di kantor berita supaya keterangan pertama yang keluar menyebut anjing."
Rahman memandangi sekretarisnya. Bertahun-tahun Nila berdiri di sampingnya. Ia selalu tahu apa yang diinginkan Rahman sebelum Rahman mengucapkannya. Ia yang menyuruh pelayan memasak untuk Laila pada hari pertama tanpa menunggu perintah. Ia yang bersumpah akan menjaga nona kecil dengan nyawanya.
"Kenapa kau mengatakannya sekarang?"
"Karena Tuan Andi tahu. Dan kalau ini sampai ke polisi, saya tidak mau Tuan menanggungnya sendirian sambil berpura-pura tidak tahu siapa yang melakukannya." Nila menunduk. "Dan karena sejak hari itu saya tidak bisa tidur, Tuan. Setiap kali menutup mata, saya membayangkan nenek anak itu membaca berita yang saya atur."
Rahman diam lama. Di luar, angin menggerakkan dahan-dahan pohon di taman belakang, dan bayangannya bergoyang di dinding ruang kerja.
"Kau melakukannya karena aku menyuruhmu," katanya akhirnya. "Aku menyuruhmu dengan satu kata yang tidak menyebut apa-apa, supaya aku bisa tidur nyenyak. Itu tetap aku, Nila."
"Tuan..."
"Aku sudah melakukannya seumur hidupku. Aku menyuruh orang menjemput Randi dan tidak bertanya caranya. Aku menyuruh orang mengusir Laili dan tidak bertanya ke mana ia pergi. Aku membayar Badrun untuk mengawasi cucuku dan tidak pernah bertanya bagaimana ibunya bertahan hidup di desa itu, sampai malam ia dibakar." Rahman menekan pangkal hidungnya. "Dan sekarang anakku sendiri datang dengan map berisi ancaman, persis seperti yang akan kulakukan kalau aku di tempatnya."
Ia berdiri dan berjalan ke jendela. Atap rumah belakang tampak gelap di bawah sana. Hanya satu jendela yang menyala: kamar Laila.
"Siapkan mobil besok pagi," katanya. "Kita ke kantor polisi."
Nila mengangkat wajahnya cepat. "Tuan, kalau Tuan mengaku menaruh barang bukti palsu, itu menghalangi penyidikan. Tuan bisa dipenjara. Saya juga."
"Aku tahu."
"Perusahaan..."
"Perusahaan dibangun di atas cucuku," kata Rahman tanpa menoleh. "Andi benar soal itu. Aku tidak tahu caranya, dan barangkali tidak akan pernah tahu. Tapi sejak Laila datang, kita tidak pernah kalah. Dan malam itu satu keluarga membayarnya, dan aku membayar orang supaya mereka dikubur dengan cerita tentang anjing." Ia berbalik. "Sudah waktunya ada yang dihukum, Nila. Yang memang bersalah. Bukan anak itu di rumah belakang."
Nila memandanginya lama. Kemudian ia mengangguk, sekali, seperti dulu, ketika ia bersumpah dengan nyawanya.
"Saya ikut, Tuan."
Setelah Nila keluar, Rahman menelepon putranya. Andi mengangkat pada dering pertama, seolah ia juga sedang duduk di depan telepon.
"Besok pagi aku ke kantor polisi," kata Rahman tanpa salam. "Aku sendiri. Aku akan menceritakan soal anjing itu dan semua yang kusuruh."
Di ujung sana Andi diam lama. "Ayah serius?"
"Kau tidak perlu mengancamku lagi. Dan kau tidak perlu kursiku untuk itu." Rahman berhenti sebentar. "Map itu ada di sofa ruang kerjaku. Ambil kalau kau mau. Aku tidak akan menandatanganinya."
"Ayah, kalau Ayah melakukan itu, perusahaan..."
"Aku tahu."
Andi tidak berkata apa-apa lagi. Rahman mendengar napas putranya di telepon, berat dan tidak teratur, sebelum sambungan itu ditutup.
***
Laila belum tidur. Ia duduk di ranjang dengan infus yang sudah dilepas Mia sore tadi, membaca buku di bawah lampu. Kacamata hitamnya tergeletak di meja. Ketika Rahman masuk, ia menutup bukunya.
"Kakek belum tidur."
"Kamu juga."
"Aku tidak mau tidur," jawab Laila. "Kalau aku tidur, mereka masuk."
Rahman duduk di tepi ranjang. Ia menceritakan semuanya: pengakuan Nila, map Andi, keputusannya. Ia menceritakannya pelan-pelan, dan Laila mendengarkan tanpa memotong.
"Kakek akan bilang ke polisi bahwa anjing itu kakek yang suruh taruh," katanya. "Bahwa orang-orang kakek mengubah tempat kejadian. Bahwa malam itu ada seorang gadis di jalan, dan keluarga itu membanting setir untuk menghindarinya."
"Gadis itu aku."
"Iya."
"Kakek akan bilang namaku?"
Rahman ragu. "Kakek bisa mengatakannya tanpa..."
"Bilang namaku." Laila menegakkan punggungnya. "Atau lebih baik, aku yang bilang. Aku ikut besok."
"Laila, kamu tidak ingat apa-apa. Apa yang mau kamu katakan kepada mereka?"
"Bahwa aku tidak ingat." Laila mengambil kacamata dari meja dan memegangnya di pangkuan. "Kakek akan bilang kakek yang menutupnya. Itu benar. Tapi aku yang di jalan, kek. Aku tidak mau kakek dipenjara karena aku, sementara aku duduk di rumah dan namaku tidak ada di mana-mana."
"Mereka tidak akan percaya soal iblis."
"Aku tidak akan bilang soal iblis. Aku akan bilang aku keluar rumah waktu tidur dan bangun di jalan. Itu juga benar."
Rahman memandangi cucunya. Tiga belas tahun lalu ia menggendong anak kecil berambut cepak dari desa yang terbakar dan bersumpah bahwa anak itu tidak akan pernah lagi menderita. Ia membangun rumah untuknya, menggaji pelayan dan guru, membelikannya apa pun yang tidak pernah ia minta. Satu-satunya yang tidak pernah ia berikan adalah kesempatan untuk berdiri di depan orang lain sebagai dirinya sendiri.
"Baik," katanya. "Kita pergi bertiga. Kamu, kakek, Nila. Dan Lani, kalau dia mau."
"Dia mau," kata Laila. "Dia bilang sendiri tadi sore. Dia juga tidak bisa tidur."
Rahman tersenyum kecil, dan untuk pertama kalinya sejak malam gerhana, senyum itu terasa tidak berbohong.
"Kakek temani kamu sampai pagi," katanya. "Kalau kamu mengantuk, kakek bangunkan."
Laila mengangguk. Ia menyandarkan kepalanya ke bahu kakeknya, dan Rahman duduk di sana tanpa bergerak, menghitung detik-detik di jam dinding, menjaga cucunya dari pintu yang tidak bisa ia lihat.