Andi tidak pergi ke polisi keesokan paginya.
Ia mandi, bercukur, memakai setelan jas terbaiknya, dan mengetuk pintu ruang kerja ayahnya pukul delapan tepat. Di tangannya ada sebuah map tipis. Rahman duduk di balik meja dengan wajah kelabu. Ia belum tidur sama sekali. Ia menghabiskan sisa malam di samping ranjang cucunya di rumah belakang, memegangi tangan Laila sampai pagi.
"Duduk," kata Rahman.
Andi duduk. Ia meletakkan map itu di meja dan mendorongnya ke arah ayahnya.
"Aku sudah berpikir," katanya. "Kalau aku ke polisi, semua orang hancur. Ayah, aku, perusahaan, Putri, Putra. Aku tidak mau itu. Aku cuma mau keluargaku aman."
Rahman membuka map itu. Di dalamnya ada dua lembar kertas. Lembar pertama adalah brosur sebuah vila di pegunungan, jauh dari kota, dikelilingi kebun teh dan pagar tinggi. Lembar kedua adalah rancangan surat keputusan rapat pemegang saham, lengkap dengan kolom tanda tangan. Nama Andi Har tercantum sebagai direktur utama.
"Laila dikirim ke vila itu," kata Andi. "Dengan penjaga, dengan Mia, dengan Lani kalau Ayah mau. Dia aman, kita aman. Dan Ayah mundur dari perusahaan. Aku yang pegang."
"Kenapa perusahaan?"
"Karena selama Ayah yang pegang, Ayah akan terus memakai perusahaan untuk melindungi dia. Membayar orang, menutup mulut orang, menaruh anjing di jalan." Andi menatap ayahnya. "Aku tahu semuanya, Ayah. Pengawal itu bercerita kepadaku dengan rinci. Siapa yang menelepon, siapa yang membawa bangkainya, jam berapa. Kalau Ayah menandatangani itu, aku diam. Kalau tidak, aku ke polisi siang ini."
Rahman memandangi putranya lama. Ia mengenali nada suara itu. Ia mengenali cara Andi meletakkan map di meja, cara ia menunggu jawaban dengan tangan terlipat di pangkuan. Itu caranya sendiri. Ia yang mengajari anak-anaknya bernegosiasi seperti ini.
"Kau mengancamku dengan kematian satu keluarga," kata Rahman, "supaya kau dapat kursiku."
"Aku menawarkan jalan keluar."
"Itu bukan jalan keluar. Itu harga."
Pintu ruang kerja terbuka. Keduanya menoleh.
Putri berdiri di ambang pintu dengan piyama yang belum diganti dan mata yang sembap. Ia memegang secangkir teh yang sudah dingin. Dari wajahnya, jelas ia sudah berdiri di luar cukup lama.
"Jangan bawa namaku, Pa," katanya.
Andi berdiri. "Putri, ini urusan orang tua."
"Papa bilang Papa mau keluarga aman. Papa bilang demi aku dan Kak Putra." Suara Putri bergetar, tetapi ia tidak berhenti. "Semalam Laila berdiri di depan pintu kamarku. Iya, aku takut. Aku takut banget. Tapi dia yang menghentikan dirinya sendiri, Pa. Bukan vila. Bukan pagar. Bukan perusahaan."
"Kau tidak tahu apa yang terjadi semalam."
"Aku dengar dia ngomong sebelum jatuh. Pelan, tapi aku dekat. Dia bilang 'keluar dari tubuhku'. Papa nggak dengar karena Papa sibuk pegang vas." Putri meletakkan cangkirnya di meja dengan bunyi keras. "Jangan pakai aku buat jadi direktur. Aku nggak mau jadi alasan."
Ia berbalik dan pergi. Andi berdiri mematung, memandangi pintu yang terbuka.
Rahman menutup map itu dan mendorongnya kembali ke seberang meja. Ia tidak berkata apa-apa.
***
Siang itu Andi berjalan ke rumah belakang. Ia tidak tahu kenapa. Ia hanya tahu kakinya membawanya ke sana setelah ia duduk sendirian di mobilnya selama dua jam di garasi, tanpa menyalakan mesin, tanpa pergi ke mana pun.
Selama dua jam itu ia memikirkan kakaknya. Randi yang keras kepala, yang pulang dari desa dengan wajah berseri-seri dan bercerita tentang gadis yang ia temui di sana. Andi yang waktu itu masih muda ikut menertawakannya di meja makan. Andi yang mengusulkan kepada ayahnya supaya Randi dikirim ke luar negeri saja sampai pikirannya kembali waras. Andi yang tidak pernah sekali pun mengetuk pintu kamar kakaknya selama Randi dikurung di sana, karena ia takut ayahnya marah.
Ia tidak pernah menceritakan itu kepada siapa pun. Ayahnya menanggung kematian Randi sendirian di depan semua orang, dan Andi membiarkannya, karena itu lebih mudah.
Lani membukakan pintu dengan kaki yang dibalut perban. Ia memandang Andi dengan curiga, tetapi mempersilakannya masuk.
"Kakimu kenapa?" tanya Andi.
"Saya berlari di atas batu semalam, Tuan. Tidak sempat pakai sandal." Lani menutup pintu di belakangnya. "Tuan berdiri di lorong memegang vas. Saya melihatnya waktu sampai di atas."
Andi tidak menjawab. Lani tidak menunggunya menjawab.
Laila duduk di ranjang dengan bantal di punggungnya. Wajahnya lebih pucat daripada biasanya, dan ada selang infus di punggung tangannya. Mia baru saja pergi. Ia memakai kacamata hitam walaupun di dalam kamar.
"Paman," katanya.
Andi berdiri di dekat pintu, persis di tempat ia berdiri waktu itu, ketika ia berteriak bahwa keluarga ini akan kena sial. Ia tidak tahu harus berkata apa.
"Paman tidak usah bilang," kata Laila. "Aku sudah tahu. Putri mengirimiku pesan."
Ia mengangkat HP-nya sedikit. Andi melihat layar yang menyala, dan barisan pesan panjang dari putrinya.
"Paman mau aku dikirim ke gunung, dan paman mau perusahaan kakek."
"Bukan begitu..."
"Itu yang Putri tulis." Laila meletakkan HP-nya. Ia tidak membuka kacamatanya. "Aku tidak membaca pikiran paman. Aku cuma mau bertanya, dan paman boleh jawab atau tidak."
Andi menunggu.
"Paman mau perusahaan kakek," kata Laila, "atau paman mau Putri selamat?"
Pertanyaan itu jatuh di kamar yang sunyi seperti batu ke dalam sumur. Andi membuka mulut. Jawabannya seharusnya mudah. Tentu saja Putri. Semuanya untuk Putri. Sejak dulu, sejak hari ayahnya menjanjikan kebaikan bagi Putri bila ia menemani sepupunya, segala yang ia lakukan selalu ia sebut untuk Putri.
Tetapi kata-kata itu tidak keluar. Karena ia baru saja mendengar Putri sendiri berkata bahwa ia tidak mau menjadi alasan. Dan karena di dalam map yang ia bawa pagi tadi tidak ada satu baris pun yang membuat putrinya lebih aman. Yang ada hanya kursi, dan namanya sendiri di kolom tanda tangan.
"Kalau paman mau Putri selamat," lanjut Laila pelan, "paman tidak butuh perusahaan. Paman butuh aku tidak ada lagi di dekatnya. Aku tahu. Aku juga memikirkan itu semalaman."
Andi mengangkat wajahnya. "Apa maksudmu?"
Laila tidak menjawab. Ia hanya menyandarkan kepalanya ke bantal dan menatap langit-langit dari balik kacamata gelapnya.
Andi berdiri di pintu itu lama sekali. Kemudian ia berbalik dan pergi tanpa berkata apa-apa, dan ia tidak pergi ke polisi siang itu.