Lani tertidur di kursi dapur dengan kepala bersandar ke dinding. Piring daging untuk tengah malam sudah ia siapkan di meja, ditutup tudung saji. Ia terbangun karena lonceng.
Bunyi itu tidak seperti biasanya. Bukan denting satu-dua kali yang ia kenal setiap kali nonanya berbicara ke sudut kamar. Tujuh lonceng berbunyi bersamaan, cepat dan tidak berhenti, seperti yang ia dengar dari cerita para pelayan lama tentang malam ketiga Laila tinggal di mansion, tiga belas tahun yang lalu.
Lani melompat dari kursinya. Pintu depan rumah belakang terbuka lebar. Angin malam masuk dan menggoyangkan tirai.
Di jalan batu yang menghubungkan rumah belakang dengan mansion, ia melihat sosok berbaju tidur putih melayang menjauh. Rambutnya yang tergerai berkibar ke belakang. Kakinya tidak menyentuh batu.
"Nona!"
Sosok itu tidak menoleh. Lani berlari mengejarnya dengan kaki telanjang, sambil menekan tombol nomor satu di HP-nya. Telepon itu tersambung pada dering kedua, tetapi Lani hanya bisa berteriak, "Tuan, Nona ke rumah utama!" sebelum ia harus menyimpan napasnya untuk berlari.
***
Di dalam kepalanya sendiri, Laila berdiri di tengah hutan.
Pohon-pohon besar menjulang di sekelilingnya, sama seperti malam ketika ia membuat perjanjian. Udaranya lembap dan berbau tanah busuk. Jauh di depan, di antara batang-batang hitam, ia melihat pohon yang paling besar, dan cahaya merah redup berdenyut dari dalamnya.
"Tidurlah, Nona," suara Moro bergema dari segala arah. "Nona lelah. Biar kami yang berjalan. Kami hanya ingin mencicipi sedikit. Tidak akan ada yang tahu."
Laila mencoba berlari ke arah sebaliknya, tetapi kakinya tidak bergerak. Ia melihat ke bawah. Akar-akar hitam melilit pergelangan kakinya sampai ke betis, seperti tangan.
"Ke mana kalian membawa tubuhku?"
"Ke tempat yang paling manis," jawab Moro. "Nona sudah tahu baunya sejak kecil. Dia sering datang ke rumah Nona membawa mainan, ingat? Dulu Nona tidak tertarik. Sekarang tubuh Nona tertarik sekali."
Laila mengerti. Dadanya terasa dingin seperti dibasuh air es.
***
Andi belum tidur. Ia memang hampir tidak pernah tidur sejak malam gerhana. Ia duduk di ruang kerjanya di lantai dua mansion, di depan layar komputer yang menampilkan laporan keuangan yang tidak ia baca. Lalu ia mendengar lonceng.
Ia mengenali bunyi itu. Ia pernah mendengarnya berbunyi sekeras itu sekali, tiga belas tahun lalu, dan bunyi itu masih muncul di mimpinya.
Andi membuka pintu ruang kerjanya dan melihat ke lorong. Lampu lorong temaram. Di ujung tangga, Laila berdiri membelakanginya, menghadap pintu kamar Putri. Baju tidurnya putih, rambutnya tergerai, dan tubuhnya melayang sejengkal di atas karpet. Dari tempatnya berdiri Andi bisa mendengar napas keponakannya: berat, dalam, seperti napas binatang yang mengendus.
Kaki Andi bergetar seperti dulu. Ia mencari sesuatu di dekatnya. Tangannya menemukan vas bunga di meja lorong. Ia mengangkatnya. Ia tidak tahu apa yang akan ia lakukan dengan vas itu.
Laila menoleh. Taringnya panjang sampai melewati dagu. Kedua matanya menyala hijau, dan darah mengalir dari keduanya, membentuk dua garis merah di pipi yang pucat. Ia tidak melihat Andi. Ia seperti tidak melihat apa pun. Ia kembali menghadap pintu kamar Putri dan mengangkat tangan ke gagang pintu.
Pintu itu terbuka dari dalam sebelum tangan itu menyentuhnya.
Putri berdiri di ambang pintu dengan piyama dan mata setengah terpejam, terbangun oleh lonceng. Ia melihat sepupunya, dan matanya terbuka lebar. Ia tidak berteriak. Ia membeku.
"Putri, jangan lihat matanya!" teriak Andi.
***
Di hutan, Laila mendengar teriakan itu dari kejauhan, teredam seperti suara dari balik dinding. Akar di kakinya sudah sampai ke pinggang. Moro tertawa.
Lalu ia mendengar suara lain.
"Lil?"
Suara itu kecil dan gemetar, dan sama sekali tidak cocok dengan hutan yang busuk ini. Suara yang mengalir di dalam mobil sepanjang jalan ke kampus, bercerita tentang kantin dan dosen dan tangga yang licin.
"Lil, ini aku. Ini Putri."
Laila memegang akar yang melilit pinggangnya dengan kedua tangan dan menariknya. Akar itu tidak bergerak. Ia menarik lagi, lebih keras, dan kulit tangannya robek. Ia tidak merasakan sakit di hutan ini. Ia hanya merasakan suara Putri, dan di belakang suara itu, samar, suara lain yang berlari menaiki tangga dan memanggil namanya dengan napas tersengal.
"Laila! Laila, ini kakek!"
"Nona, diamlah," geram Moro. Suaranya tidak lagi tertawa.
"Aku memerintahkanmu," kata Laila. Ia tidak berteriak. Ia mengucapkannya pelan, seperti dulu ketika ia menyuruh makhluk bertelinga gajah itu diam saat ia sedang membaca. "Kalian bilang akan mematuhi perintahku. Keluar dari tubuhku. Sekarang."
Hutan itu bergetar. Akar-akar itu mengendur sesaat.
Hanya sesaat. Tetapi itu cukup.
***
Andi melihat bibir keponakannya bergerak, tetapi ia terlalu jauh dan lonceng terlalu keras untuk mendengar apa yang diucapkannya. Lalu ia melihat keponakannya jatuh. Tubuh yang melayang itu tiba-tiba punya berat lagi dan ambruk ke karpet di depan kaki Putri seperti boneka yang talinya diputus. Lonceng di kaki kirinya berbunyi sekali lagi, keras, lalu diam.
Putri berlutut. Tangannya terulur, lalu berhenti di udara.
Rahman sampai di puncak tangga dengan napas yang hampir habis, Lani di belakangnya, kakinya berdarah karena berlari di atas batu. Rahman menjatuhkan diri di samping cucunya dan mengangkat kepala Laila ke pangkuannya. Taring itu masih ada. Darah di pipinya masih mengalir. Tetapi matanya tertutup, dan dadanya naik turun.
"Dia hidup," kata Rahman. "Dia hidup."
Andi meletakkan vas bunga itu kembali ke meja. Tangannya gemetar begitu keras sampai vas itu berdenting di atas kaca. Ia memandangi ayahnya yang memeluk keponakannya di depan pintu kamar anak perempuannya.
"Cukup," katanya. Suaranya parau. "Cukup, Ayah. Besok aku ke polisi. Soal kecelakaan itu. Soal anjingnya. Semuanya. Biar mereka yang mengurung dia, karena Ayah tidak akan pernah melakukannya."
Rahman tidak mengangkat wajah dari cucunya. Ia hanya membelai rambut Laila yang basah oleh keringat, pelan, berulang-ulang.
"Pa," kata Putri. Suaranya serak.
Andi menoleh kepada anak perempuannya. Putri masih berlutut di ambang pintu kamarnya. Tangannya yang tadi berhenti di udara kini turun perlahan dan menyentuh tangan Laila yang terkulai di karpet. Ia gemetar ketika menyentuhnya, tetapi ia tidak menarik tangannya kembali.
"Dingin," bisik Putri. "Tangannya dingin banget, Pa."
Andi tidak menjawab. Ia memandangi putrinya yang menggenggam tangan anak penyihir itu di lantai lorong, dan untuk sesaat ia tidak tahu lagi siapa yang sedang ia lindungi dari siapa.