Lani sudah menunggu di samping mobil ketika Putra membawa Laila keluar dari gedung. Ia tidak bertanya apa pun. Ia hanya melihat bercak merah di bawah kacamata nonanya dan langsung membuka pintu belakang.
Di dalam mobil, Laila duduk tegak dengan kedua tangan di pangkuan. Putra ikut masuk dan duduk di sebelahnya.
"Dia tidak apa-apa," kata Putra. "Kakak tingkat itu. Dia cuma bingung. Dia nggak ingat apa-apa."
"Aku ingat," kata Laila.
Putra menoleh.
"Aku tidak menyuruhnya," lanjut Laila. Ia menatap lurus ke depan, ke kursi pengemudi. "Aku tahu aku tidak menyuruhnya. Tapi aku marah karena dia mengambil kacamataku. Marah sedikit saja. Dan dia sudah berjalan ke tangga."
"Tapi kamu menghentikannya."
"Kamu yang menariknya."
"Dia berhenti sebelum aku sampai." Putra mengusap tengkuknya. "Aku lihat sendiri. Kakinya sudah di atas pagar, lalu dia diam. Kayak kehabisan baterai. Baru aku tarik."
Laila memikirkan itu sepanjang perjalanan. Ia memejamkan mata, dan laki-laki itu berhenti. Jadi memejamkan mata berhasil. Tetapi ia memejamkannya setelah marah, bukan sebelum. Dan kemarahan ternyata lebih cepat daripada keputusannya.
***
Rahman pulang dari kantor begitu Lani menelepon. Ia menemukan cucunya duduk di sofa ruang utama dengan kacamata masih terpasang, sementara Mia membersihkan sisa darah di pipinya.
"Aku berhenti dulu, kek," kata Laila sebelum kakeknya sempat bertanya. "Kuliahnya."
"Kita bisa mengatur supaya kamu belajar dari rumah," kata Rahman cepat. "Kakek kenal rektornya. Kakek bisa bicara dengan dekan, minta dosen datang ke sini, minta ujian di rumah. Kakek bisa membayar..."
"Jangan."
Rahman berhenti.
"Kakek selalu membayar," kata Laila. "Kalau kakek membayar supaya aku tetap terdaftar, nanti ada orang lain lagi yang harus diam. Dosen itu. Kakak tingkat itu. Teman-temannya yang melihat." Ia diam sebentar. "Aku mau minta cuti saja. Seperti mahasiswa biasa yang sakit. Ada formulirnya, kata Putri."
Rahman memandangi cucunya. Kemudian ia mengangguk perlahan.
"Kakek akan menyuruh Nila mengambil formulirnya."
"Aku yang isi."
"Kamu yang isi," Rahman mengulang, dan sesuatu di wajahnya melunak.
Nila membawa formulir itu sore harinya. Laila mengisinya sendiri di meja makan, dengan pulpen yang dikembalikan gadis berkerudung abu-abu tadi pagi. Ia menulis namanya, nomor mahasiswanya, nama fakultas. Pada kolom alasan, ia berhenti lama.
"Tulis apa?" tanyanya kepada Mia, yang sedang membereskan peralatannya.
"Tulis yang benar," jawab Mia. "Gangguan kesehatan. Saya akan membuat surat keterangan dokter."
"Mia," kata Laila. "Ada obat supaya orang tidak marah?"
Mia berhenti membereskan tasnya. Ia memandangi gadis itu lama. "Marah bukan penyakit, Laila. Semua orang marah. Yang bisa dilatih adalah apa yang kita lakukan sesudah marah."
"Tadi aku marah dulu, baru memejamkan mata. Harusnya terbalik."
"Kalau begitu itu yang dilatih," kata Mia pelan. "Pelan-pelan."
Laila menulis gangguan kesehatan di kolom itu, lalu menandatanganinya dengan tanda tangan yang baru pertama kali ia buat.
***
Putri datang menjelang malam, masih membawa tas kuliahnya. Ia langsung masuk ke kamar Laila setelah Lani membukakan pintu, lalu berhenti di tengah ruangan. Kursi di dekat jendela masih ada di tempatnya. Ia tidak duduk di sana. Ia duduk di tepi ranjang, tidak terlalu dekat, tetapi juga tidak sejauh hari itu.
"Putra cerita," katanya.
"Aku hampir membunuh orang karena dia mengambil kacamataku," kata Laila.
Putri diam. Ia memandangi tangannya sendiri. Laila menunggu sepupunya berdiri dan pergi, seperti hari itu.
"Tapi kamu menutup mata," kata Putri akhirnya.
"Sesudah dia di pagar."
"Tetap saja kamu menutup mata. Dia masih hidup." Putri mengangkat wajah dan menatap kacamata di wajah Laila, bukan mata di baliknya. "Dulu kamu tanya ke kakek, boleh nggak bunuh Papa. Aku dengar ceritanya dari Papa berkali-kali. Kamu tanya kayak orang tanya boleh nggak makan permen. Hari ini kamu nggak tanya siapa-siapa. Kamu langsung menutup mata sampai berdarah."
Laila memikirkan itu. Ia tidak tahu apakah itu berarti sesuatu. Tetapi Putri mengatakannya seperti hal itu penting.
"Kamu masih takut padaku," kata Laila.
"Masih." Putri tersenyum kecil, gemetar. "Tapi aku juga mau di sini."
Mereka duduk tanpa bicara sampai Lani mengetuk pintu dan membawa teh. Sebelum pulang, Putri melihat laci meja yang setengah terbuka dan kartu karton yang mengintip dari bawah buku-buku.
"Kamu simpan kartu ospekmu?"
"Iya."
"Kenapa? Kamu kan nggak ikut ospek."
Laila menutup laci itu pelan-pelan. "Itu satu-satunya tempat namaku ditulis oleh orang yang tidak kenal aku," katanya. "Mereka menulisnya karena aku mahasiswa. Bukan karena aku anak penyihir."
Putri tidak menjawab. Ia hanya mengangguk, dan pulang tanpa berlari.
***
Moro datang ketika lampu kamar sudah dimatikan. Ia tidak muncul di sudut seperti biasanya. Ia duduk di kaki ranjang, begitu dekat sampai Laila bisa merasakan berat tubuhnya menekan kasur.
"Nona menolak hidangan kecil," katanya. Suaranya tidak lagi mengejek. Suaranya berat dan lapar. "Hari ini ada satu yang sudah siap di pagar. Nona merebutnya dari mulut kami."
"Dia bukan hidangan."
"Semua manusia hidangan, Nona. Kecuali yang kami jaga untuk Nona." Moro memiringkan kepala, dan taringnya menggores seprai. "Nona melarang kami menyentuh orang di rumah ini. Nona melarang kami mengambil orang di luar rumah. Nona tidak memberi kami apa-apa. Lalu dengan apa kami harus kenyang sampai gerhana berikutnya?"
"Kalian bisa menunggu."
"Kami sudah menunggu ribuan tahun. Kami tidak suka menunggu lagi." Moro mendekatkan wajahnya. Bau busuk memenuhi hidung Laila. "Nona lupa satu hal. Tubuh Nona juga punya pintu. Malam gerhana itu Nona tidur, dan kami masuk lewat pintu itu. Malam ini Nona tidur lagi."
Ia menghilang.
Laila duduk tegak di ranjang. Ia menyalakan lampu. Ia memutuskan tidak akan tidur. Ia mengambil buku pelajaran bahasa dari laci dan membacanya, satu halaman, dua halaman, tiga.
Jam di dinding menunjukkan pukul dua belas lewat empat puluh menit ketika matanya mulai berat. Pukul satu kurang sepuluh, buku itu terlepas dari tangannya.
Pukul satu tepat, tubuh Laila bangun dari ranjang.
Matanya terbuka, hijau dan menyala. Taringnya sudah panjang. Ia menyibakkan selimut, menginjak lantai tanpa suara, dan berjalan keluar kamar. Kakinya tidak menyentuh lantai.