Pagi hari kuliah pertama, Lani menyisir rambut Laila lebih lama daripada biasanya. Ia mengepangnya rapi, lalu memasangkan kacamata hitam yang baru dibelikan Nila: bingkainya tipis, kacanya cukup gelap untuk menyembunyikan warna hijau di baliknya. Laila memandangi dirinya di cermin. Dengan kacamata itu ia tampak seperti gadis-gadis lain di majalah yang pernah dibawa Putri.
"Nona cantik," kata pelayan muda yang memegangi tas. Ia adalah pelayan yang berlutut gemetar di dapur pada malam sebelum gerhana, dan sejak malam itu ia tidak pernah lagi menatap mata nonanya.
Laila tidak bertanya apa arti cantik kali ini. Ia hanya mengangguk.
Putri menjemputnya di depan rumah belakang dengan mobil yang sama. Sepanjang perjalanan sepupunya bercerita tentang kampus: kantin yang paling enak, dosen yang suka terlambat, tangga utama gedung manajemen yang licin kalau hujan. Laila mendengarkan. Ia tidak mengerti separuh dari yang diceritakan, tetapi ia menyukai suara Putri yang terus mengalir, karena suara itu membuatnya tidak perlu memikirkan hal lain.
Kampus itu besar dan ramai. Ratusan orang berjalan ke segala arah, tertawa, berteriak memanggil teman, menabrak satu sama lain. Laila berdiri di tepi lapangan parkir dan merasa seperti berdiri di tepi sungai yang deras. Di balik kacamata, semua wajah itu tampak lebih gelap, dan ia bersyukur untuk itu.
Putra sudah menunggu di depan gedung manajemen. Ia mengantar Laila sampai pintu kelas di lantai tiga.
"Aku di ruang sebelah," katanya. "Kalau ada apa-apa, kirim pesan. Satu huruf saja juga boleh."
***
Kelas pertama adalah pengantar bisnis. Dosennya seorang laki-laki setengah baya dengan kemeja batik dan suara keras. Ia mengabsen nama satu per satu, dan ketika sampai pada nama Laila, ia mengangkat kepala.
"Laila Har. Yang pakai kacamata hitam di belakang?"
"Saya, Pak."
"Di kelas saya tidak ada kacamata hitam. Ini ruang kuliah, bukan pantai."
Beberapa mahasiswa tertawa. Laila merasakan ujung jarinya dingin. "Mata saya sensitif terhadap cahaya, Pak."
"Kalau begitu duduk di pojok yang tidak kena lampu. Lepas."
Laila melepas kacamatanya pelan-pelan. Ia langsung menunduk dan menatap meja. Ia mendengar bisik-bisik dari bangku di sekitarnya. Matanya hijau. Lensa kontak, ya? Ia mendengarkan dosen berbicara selama dua jam tanpa sekali pun mengangkat wajah, menyalin semua yang ia dengar ke buku catatan dengan tulisan yang rapi.
Ketika kelas selesai, ia memasang kacamatanya lagi sebelum berdiri.
Gadis yang duduk di sebelahnya, berkerudung abu-abu dengan tas ransel penuh gantungan kunci, menyodorkan sebatang pulpen. "Tadi pulpenmu jatuh," katanya. "Aku pungut pas Bapak lagi ngomong."
Laila mengambil pulpen itu tanpa menatap wajahnya. "Terima kasih."
"Matamu beneran sensitif? Atau lensa kontak?"
"Sensitif."
"Oh. Sepupuku juga gitu, nggak bisa kena lampu neon." Gadis itu tersenyum, memasukkan bukunya ke tas, lalu melambai. "Sampai ketemu Kamis."
Laila memandangi punggung gadis itu sampai menghilang di pintu. Itu percakapan pertamanya dengan orang yang tidak tahu apa pun tentang dirinya. Rasanya ringan, seperti air hangat yang membasuh tangan. Ia menyimpan pulpen itu di saku kemejanya.
Jeda kuliah berikutnya tiga puluh menit. Laila berjalan ke ujung koridor, ke dekat tangga utama, tempat yang dijanjikan Putra untuk bertemu. Koridor itu ramai. Sekelompok mahasiswa yang lebih tua, kakak tingkat yang masih memakai jaket panitia ospek, duduk di pagar tangga sambil merokok sembunyi-sembunyi.
Salah satunya, laki-laki berambut panjang yang diikat, melihat Laila dan bersiul.
"Eh, ini dia yang nggak pernah datang ospek. Si sakit." Ia turun dari pagar dan berjalan mendekat. Teman-temannya tertawa. "Nama kamu ada di daftar hukuman, tau. Tiga hari nggak hadir."
Laila tidak menjawab. Ia berdiri diam dan menunduk.
"Diajak ngomong kakak tingkat, nunduk terus. Nggak sopan." Laki-laki itu mengulurkan tangan dan menarik kacamata dari wajah Laila. "Pakai kacamata hitam di dalam gedung juga nggak sopan. Coba lihat mukanya."
Laila mengangkat kepala karena terkejut.
Mata mereka bertemu.
Ia melihat semuanya dalam satu tarikan napas. Rumah kos yang kotor. Ayah yang berteriak lewat telepon soal nilai yang jelek. Rasa senang yang murah karena bisa membuat mahasiswa baru takut. Dan di bawah semua itu, lemah dan kacau, pikiran seorang laki-laki yang lelah dan tidak tahu harus berbuat apa dengan hidupnya.
Pikiran yang lemah dan kacau adalah pikiran yang paling mudah diperintah.
Lonceng di kaki Laila berdenting. Orang-orang di koridor menoleh mencari asal bunyi itu.
"Nona," suara Moro terdengar begitu senang sampai hampir bernyanyi. "Lihat itu. Lihat tangga di belakangnya. Tinggi sekali. Suruh dia melompat. Dia mengambil milik Nona. Dia menertawakan Nona. Suruh dia melompat."
Laila tidak menyuruh. Ia yakin tidak menyuruh. Tetapi kemarahan kecil yang tadi naik ketika kacamatanya direbut ternyata sudah cukup. Laki-laki di depannya berhenti tertawa. Wajahnya berubah kosong. Ia berbalik dengan gerakan kaku, berjalan ke pagar tangga, dan mengangkat satu kaki ke atasnya.
Teman-temannya berhenti tertawa juga. "Bro? Ngapain?"
Laila memejamkan mata sekeras-kerasnya. Ia memejamkannya sampai seluruh wajahnya sakit, sampai ia merasakan sesuatu yang panas dan basah mengalir dari sudut mata kirinya. Ia memegang dinding supaya tidak jatuh. Di dalam gelap kelopak matanya ia mendengar Moro menggeram kecewa.
"Lepas," bisik Laila. "Aku tidak menyuruh. Lepas."
Ia mendengar seseorang berlari. Ia mendengar suara Putra berteriak. Ia mendengar tubuh yang ditarik dan jatuh ke lantai koridor, dan suara laki-laki itu terbatuk-batuk seperti orang yang baru keluar dari air.
***
Ketika Laila berani membuka mata lagi, ia hanya menatap lantai. Putra berdiri di dekat pagar, terengah-engah, memegangi kerah jaket kakak tingkat itu. Laki-laki berambut panjang itu duduk bersandar ke dinding dengan wajah bingung.
"Gue... ngapain tadi?" tanyanya kepada siapa pun.
Teman-temannya tidak menjawab. Mereka memandangi Laila. Salah satu dari mereka menunjuk wajahnya. "Mata dia berdarah."
Putra memungut kacamata hitam yang tergeletak di lantai, berjalan ke arah Laila, dan memasangkannya di wajah sepupunya tanpa berkata apa-apa. Tangannya dingin.
"Pulang," kata Laila. Suaranya datar, seperti biasa, tetapi kakinya gemetar. "Gelangku berbunyi. Aku janji pulang."
Putra menggandengnya turun lewat tangga yang lain, dan Laila tidak menoleh ke belakang.