"Aku mau melihat jalan itu," kata Laila pada pagi hari ketiga.
Lani yang sedang menyisir rambutnya berhenti. Sisir itu tertahan di udara. "Nona yakin?"
"Iya. Siang hari. Waktu aku sadar."
Lani menelepon Rahman. Laila mendengar suara kakeknya dari telepon itu, kecil dan tergesa, menolak lalu bertanya lalu menolak lagi. Lani hanya menjawab pendek-pendek. Akhirnya ia menurunkan telepon.
"Tuan besar mengizinkan, asal saya ikut dan Nona pulang sebelum gelap. Pengawal yang menyetir."
Pengawal yang ditugaskan adalah laki-laki yang lebih tua di antara dua pengawal malam itu. Rambutnya sudah tipis dan ia memiliki bekas luka kecil di dagu. Ketika Laila masuk ke mobil, ia menunduk dan tidak membalas tatapan nonanya, tetapi tangannya yang memegang setir gemetar.
Mereka keluar dari kompleks perumahan, melewati jalan besar, lalu berbelok ke ruas yang lebih kecil dengan semak-semak tinggi di kedua sisinya. Laila memandangi jendela. Tidak ada yang ia kenali. Semuanya tampak biasa di bawah matahari: pohon, tiang listrik, sepeda motor yang lewat sesekali.
"Di sini, Nona," kata pengawal itu, lalu menepikan mobil.
***
Aspal di tempat itu masih menyimpan bekas ban yang hitam dan panjang, melengkung ke arah semak. Seutas pita kuning polisi sudah putus dan tersangkut di ranting, berkibar pelan. Di tepi jalan seseorang meletakkan dua ikat bunga yang mulai layu dan sebuah botol air mineral berisi bunga kertas.
Laila turun dari mobil dan berdiri di tengah jalan, di tempat yang menurut Lani menjadi tempatnya berdiri malam itu. Ia mencium udara. Hanya bau aspal panas, debu, dan rumput kering. Tidak ada bau manis.
Ia berjalan ke tepi jalan, ke semak-semak tempat mobil itu terbalik. Rerumputan masih rebah dan beberapa ranting patah. Di antara rumput yang rebah itu ada sesuatu berwarna merah muda. Laila berjongkok dan mengambilnya.
Sebuah sandal anak-anak. Ukurannya tidak lebih panjang dari telapak tangannya. Di talinya ada hiasan kupu-kupu plastik yang sudah retak.
Lonceng di kaki Laila berdenting pelan.
Baro berdiri di seberang jalan, di bawah tiang listrik. Di siang hari tubuhnya tampak lebih pucat dan lebih tipis, seperti bayangan yang salah tempat. Ia membungkuk.
"Nona kembali ke tempat makan," katanya.
Laila tidak menjawab. Ia menggenggam sandal kecil itu. Baro memandanginya sebentar, kemudian menghilang. Lonceng berhenti.
"Nona?" panggil Lani dari dekat mobil. Ia tidak bisa melihat Baro, tetapi ia bisa mendengar lonceng itu, dan ia memeluk dirinya sendiri walaupun hari sangat panas.
Laila berjalan kembali ke mobil. Pengawal tua itu berdiri di samping pintu, menunduk.
"Bapak yang memeriksa mereka malam itu," kata Laila.
"Iya, Nona."
"Lihat aku."
Pengawal itu mengangkat wajahnya pelan-pelan. Ia tahu apa yang bisa dilakukan mata nonanya. Semua orang di rumah belakang tahu. Tetapi perintah adalah perintah, dan ia sudah bekerja untuk keluarga Har hampir dua puluh tahun.
Laila menatapnya dan masuk ke dalam ingatan laki-laki itu.
Malam yang gelap. Lampu mobil yang masih menyala miring ke arah langit. Tangannya sendiri, gemetar, menyentuh leher pengemudi yang tergantung terbalik di sabuk pengaman. Dingin. Lalu ibu di kursi depan. Lalu ia membuka pintu belakang yang penyok, dan di sana ada anak kecil terbungkus selimut bergambar beruang, masih memeluk sebuah boneka. Wajahnya tenang seperti tidur. Tetapi ia tidak tidur. Dan di sekeliling mobil itu, di tepi pandangannya, ada bentuk-bentuk gelap yang bergerak, yang tidak pernah berani ia lihat langsung, yang sampai sekarang membuatnya terbangun berkeringat setiap malam.
Laila menarik tatapannya. Pengawal itu terhuyung dan berpegangan pada pintu mobil. Napasnya pendek.
"Maaf," kata Laila. Ia tidak tahu kenapa ia mengatakannya. Kata itu keluar begitu saja, seperti batuk. "Aku tidak tahu Bapak bermimpi buruk setiap malam."
Pengawal itu menatapnya dengan bingung. Ia sudah menyiapkan diri untuk banyak hal, tetapi bukan untuk permintaan maaf.
"Kalau Bapak takut padaku," lanjut Laila, "Bapak boleh berhenti bekerja. Aku akan bilang ke kakek supaya Bapak tetap diberi gaji sampai mendapat pekerjaan lain."
Laki-laki itu menggeleng perlahan. "Saya punya tiga anak, Nona," katanya. "Saya tidak bisa berhenti." Ia diam, lalu menambahkan dengan suara lebih pelan, "Dan saya sudah melihat Nona waktu Nona baru datang ke rumah ini. Waktu Nona masih kecil sekali. Saya yang berjaga di depan kamar Nona malam itu, waktu Nona muntah darah."
Laila tidak ingat itu. Ia hanya ingat tangan kakeknya.
***
Di dalam mobil, Laila meletakkan sandal kecil itu di pangkuannya. Lani melirik benda itu dan cepat-cepat memalingkan wajah ke jendela.
"Lani," kata Laila setelah beberapa lama. "Pagi itu kamu yang pertama membaca berita soal anjing. Sebelum aku bangun. Apa yang kamu rasakan waktu membacanya?"
Lani tidak segera menjawab. Mobil melewati sebuah pasar kecil, dan suara orang menawar sayur masuk lewat celah jendela.
"Karena saya lega, Nona," katanya akhirnya. "Nama Nona tidak ada di berita itu. Tidak ada yang mencari Nona."
"Kamu lega karena mereka dikubur dengan cerita anjing."
Lani memejamkan mata. "Iya, Nona. Waktu itu saya tidak memikirkan mereka sama sekali. Saya cuma memikirkan Nona." Ia membuka matanya lagi dan memandangi sandal di pangkuan nonanya. "Sekarang saya memikirkan mereka. Setiap malam."
Laila mengangguk. Ia tidak marah kepada Lani. Ia hanya menyimpan jawaban itu bersama huruf A, bersama gambar anjing kaku yang diangkat dari karung, bersama kalimat kakeknya tentang orang yang juga cucu seseorang.
"Lani, mereka dimakamkan di mana?"
Lani diam lama sebelum menjawab. "Kata Nila, di kampung asal suaminya. Tidak jauh dari sini, di pinggir kota. Mereka dimakamkan dua hari lalu." Ia ragu. "Hari ini hari ketiga, Nona. Biasanya keluarga datang lagi ke makam."
"Bawa aku ke sana."
"Nona, tuan besar..."
"Aku tidak akan turun dari mobil kalau kamu tidak mau. Aku cuma mau melihat."
Lani menatap nonanya. Selama tiga belas tahun ia merawat Laila, menyisir rambutnya, memandikannya, memotong kukunya, menyiapkan daging mentah tengah malam. Selama tiga belas tahun nonanya tidak pernah meminta apa pun selain makanan dan ketenangan. Hari ini ia meminta melihat makam orang yang tidak pernah ia kenal.
Lani menyentuh bahu pengawal itu. "Kita ke kampung itu, Pak."
Mobil berputar. Laila memandangi sandal di pangkuannya. Hiasan kupu-kupu yang retak itu bergoyang setiap kali roda melewati lubang di jalan.