Makam kampung itu terletak di lereng kecil di belakang sebuah musala, dikelilingi pohon kamboja yang sedang berbunga. Pengawal memarkir mobil di bawah pohon besar di pinggir jalan setapak. Dari sana Laila bisa melihat tiga gundukan tanah yang masih merah dan basah, berjajar, ditaburi kelopak bunga yang belum kering. Satu di antaranya jauh lebih kecil daripada dua yang lain.
Seorang perempuan tua duduk bersimpuh di depan gundukan kecil itu. Ia memakai kerudung hitam dan kain batik yang sudah pudar. Tangannya mengusap-usap tanah merah itu perlahan, seperti mengusap kepala anak yang hendak tidur.
"Itu neneknya," bisik Lani.
Laila memandanginya dari balik kaca mobil. Ia tidak bisa membaca pikiran dari sejauh itu. Ia hanya bisa melihat punggung yang membungkuk dan tangan yang tidak berhenti bergerak.
"Aku mau turun," katanya.
"Nona janji tidak akan turun."
"Aku tahu. Aku mau turun."
Lani menggigit bibirnya. Lalu ia melepas kacamata hitam yang tergantung di kerah bajunya dan memberikannya kepada Laila, beserta selendang tipis yang biasa ia bawa. "Pakai ini, Nona. Tolong."
Laila memakai kacamata itu. Dunia menjadi lebih gelap. Ia melilitkan selendang di kepala, lalu membuka pintu.
***
Ia berjalan pelan di antara nisan-nisan tua, sandal merah muda itu di tangannya. Lani mengikutinya dua langkah di belakang. Tanah lembap menempel di sepatu mereka. Kali ini kaki Laila menyentuh tanah. Ia memastikannya dengan menatap ke bawah setiap beberapa langkah.
Perempuan tua itu mendengar langkah mereka dan menoleh. Wajahnya bulat dan keriput, matanya sembap. Ia memandangi dua orang asing yang berpakaian terlalu bagus untuk makam kampung, dan kebingungannya terlihat jelas.
"Cari siapa, Nak?"
Laila berhenti beberapa langkah dari gundukan kecil itu. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Ia tidak pernah belajar kalimat untuk saat seperti ini. Guru-gurunya mengajarinya tiga bahasa, hitungan, sejarah dunia, tetapi tidak ada yang mengajarinya apa yang harus dikatakan kepada nenek dari anak yang ia bunuh.
Ia mengulurkan sandal itu.
Perempuan tua itu menatap sandal di tangan Laila. Lalu ia berdiri dengan susah payah, berpegangan pada lututnya sendiri, dan mengambil sandal itu dengan kedua tangan. Ia mendekapnya ke dada. Bahunya berguncang tanpa suara.
"Ini punya cucu saya," katanya. "Sebelah. Yang sebelahnya ikut dikubur. Saya cari-cari ke mana yang satu ini." Ia mengangkat wajahnya. "Nak menemukannya di mana?"
"Di jalan itu."
"Nak lewat sana?"
Laila tidak menjawab. Angin bertiup, dan selendang di kepalanya bergeser. Ia mengangkat tangan untuk membetulkannya, dan kacamata hitam di wajahnya ikut terdorong, merosot ke ujung hidungnya.
Perempuan tua itu sedang menatapnya. Tatapan mereka bertemu.
Laila tidak sempat memalingkan wajah. Ia jatuh ke dalam ingatan nenek itu seperti jatuh ke dalam air.
Sebuah rumah kecil di kota, dapur yang sempit. Seorang anak perempuan berumur lima tahun dengan poni miring, berlari membawa boneka beruang yang matanya tinggal satu. "Nek, Nek, besok ulang tahunku, aku mau kue yang ada stroberinya!" Telepon di sore hari, suara anak perempuannya sendiri, cemas: "Bu, demamnya tidak turun-turun, kami bawa ke rumah sakit malam ini." Telepon lagi menjelang subuh, suara orang yang tidak dikenal. Perjalanan bus semalaman. Tiga tubuh di bawah kain. Wajah cucunya yang tenang. Kue stroberi di kotak karton yang ia bawa dari kota dan tidak pernah dibuka.
Dan di bawah semua itu ada perasaan yang begitu besar, begitu berat, sampai Laila tidak bisa bernapas. Perasaan itu tidak punya bentuk. Rasanya seperti seluruh tubuh dicabut dari tanah dan dibiarkan melayang tanpa pegangan. Laila tidak pernah merasakan apa pun sebesar itu. Ia bahkan tidak tahu manusia bisa merasakan sesuatu sebesar itu dan tetap hidup.
Lalu, di tengah semua itu, ia melihat kakeknya. Bukan di ingatan nenek itu, melainkan di ingatannya sendiri: Rahman yang menangis di rumah Badrun, memeluk anak kecil berambut cepak yang kurus. Betapa malangnya nasibmu, cucuku.
Nenek ini adalah kakeknya. Kakeknya adalah nenek ini.
Sesuatu yang hangat mengalir dari mata Laila. Ia menyentuh pipinya dan jarinya basah. Merah. Mata kirinya meneteskan darah, seperti dulu, ketika ia masih kecil dan tubuhnya menolak ilmu ibunya.
Lonceng di kakinya berdenting keras.
"Nona," suara Moro berbisik di telinganya, begitu dekat sampai Laila bisa mencium bau busuknya. "Nona bisa membuatnya lupa. Satu tatapan lagi saja. Suruh dia lupa cucunya. Suruh dia pulang dan tidur. Kasihan dia, bukan? Nona bisa menolongnya."
Laila mendorong kacamata itu kembali ke matanya dengan keras sampai pangkal hidungnya sakit. Ia menunduk dan menatap tanah merah di bawah sepatunya.
"Tidak," katanya. Kepada Moro. Kepada dirinya sendiri.
Nenek itu masih berdiri di depannya, mendekap sandal, menatap darah di pipi Laila dengan heran. "Nak, matamu berdarah."
"Saya tidak apa-apa." Suara Laila keluar lebih kecil daripada biasanya. Ia mencari-cari kalimat yang pernah ia dengar di suatu tempat, di buku, di televisi, di mulut pelayan. "Saya ikut berduka, Nek."
Perempuan tua itu mengangguk pelan. Ia tidak bertanya lagi. Barangkali ia mengira Laila adalah salah satu orang yang lewat dan tersentuh berita di koran. Barangkali ia terlalu lelah untuk bertanya. Ia kembali bersimpuh di depan gundukan kecil itu dan meletakkan sandal merah muda di atas tanah, di dekat nisan kayu yang bertuliskan nama cucunya dengan cat putih.
Laila membaca nama itu. Ayu.
***
Di dalam mobil, Lani membersihkan pipi Laila dengan tisu basah. Tangannya gemetar seperti malam ketika ia pertama kali melihat nonanya makan daging mentah.
"Nenek itu seperti kakek," kata Laila.
Lani berhenti mengusap.
"Dia sayang cucunya seperti kakek sayang aku," lanjut Laila. "Aku melihatnya di dalam kepalanya. Rasanya besar sekali, Lani. Besar sekali. Aku tidak tahu ada yang sebesar itu."
Lani tidak menjawab. Ia hanya terus mengusap darah yang sudah berhenti mengalir.
Rahman menunggu di depan rumah belakang ketika mobil mereka sampai menjelang magrib. Wajahnya merah karena marah, tetapi ketika ia melihat bercak darah di kerah baju cucunya, kemarahannya berubah menjadi takut.
"Kamu ke makam itu? Kamu menemui keluarganya?"
"Neneknya," kata Laila. "Namanya Ayu, kek. Anak itu. Dia minta kue stroberi untuk ulang tahunnya. Neneknya sudah membelinya."
"Laila, itu berbahaya. Kalau dia tahu siapa kamu..."
"Aku harus tahu, kek." Laila menatap kakeknya. Kali ini ia tidak membaca pikirannya. Ia hanya ingin kakeknya melihat matanya. "Aku harus tahu siapa yang aku makan."
Rahman tidak bisa berkata apa-apa lagi.