Ruang kerja Rahman di lantai dua mansion menghadap ke taman belakang. Dari jendelanya ia bisa melihat atap rumah yang dulu ia bangun dalam dua minggu untuk cucunya. Pagi ini atap itu basah oleh embun, dan Rahman memandanginya lebih lama daripada biasanya sebelum duduk.
Nila meletakkan sebuah map di meja. Ia sudah berpakaian rapi seperti setiap hari, tetapi matanya merah.
"Polisi menutup perkaranya sebagai kecelakaan tunggal, Tuan," katanya. "Kendaraan menghindari anjing, lalu terguling. Tidak ada saksi di lokasi. Orang-orang kita sudah meninggalkan tempat itu sebelum petugas pertama datang."
Rahman mengangguk. Itulah yang ia minta dua malam lalu dari kursi kantornya di luar negeri. Bereskan. Ia selalu suka kata itu, karena kata itu tidak menyebut apa yang sebenarnya dikerjakan.
"Keluarga korban?"
"Mereka dimakamkan kemarin sore di kampung asal suaminya, di pinggir kota. Kerabat dekat yang tersisa hanya seorang nenek, ibu dari sang istri. Ia datang dari luar daerah." Nila membuka halaman berikutnya. "Saya sudah menyiapkan santunan lewat perantara, Tuan. Tanpa nama keluarga kita. Cukup besar untuk biaya pemakaman dan lebih."
"Kirim."
Nila tidak langsung menutup map. Ia berdiri dengan tangan di atas kertas, ragu.
"Ada apa?"
"Maaf, Tuan." Nila menarik napas. "Saya hanya ingin bertanya. Santunan ini untuk nenek itu, atau untuk Tuan?"
Rahman menatap sekretarisnya. Bertahun-tahun Nila bekerja untuknya, dan tidak sekali pun ia mengajukan pertanyaan seperti itu. Nila yang dulu ikut menjemput Laila dari desa. Nila yang menyerahkan koper uang kepada Badrun tanpa bertanya apa pun.
"Untuk keduanya," jawab Rahman akhirnya. "Kirim saja."
Nila mengangguk dan keluar. Pintu belum sempat tertutup ketika Andi masuk tanpa mengetuk.
***
Andi sudah tidak berteriak seperti kemarin. Ia duduk di sofa di depan meja ayahnya, menyilangkan tangan, dan berbicara dengan suara rendah yang justru lebih tajam.
"Aku sudah memikirkannya semalaman, Ayah. Aku minta maaf soal yang kemarin. Aku tidak akan menyentuh anak itu." Ia berhenti. "Tapi Ayah pernah memikirkan ini? Sejak anak itu datang ke rumah ini, tidak ada satu pun proyek kita yang gagal. Tiga belas tahun. Ayah ingat tender pelabuhan yang mustahil itu? Pabrik di luar negeri yang semua orang bilang akan bangkrut? Semuanya jadi. Semuanya berlipat."
"Kita bekerja keras."
"Kita selalu bekerja keras. Dulu juga. Tapi dulu kita kadang kalah." Andi mencondongkan tubuh. "Ayah tidak pernah bertanya kenapa kita berhenti kalah?"
Rahman tidak menjawab. Ia memang pernah bertanya, diam-diam, pada malam-malam ketika laporan keuangan terlalu indah untuk dipercaya. Ia selalu menjawab pertanyaan itu dengan kata berkah. Penghapusan dosa, kata Nila dulu.
"Kalau anak itu punya iblis yang memberi kita semua ini," lanjut Andi, "berarti uang yang kita makan juga dibayar dengan sesuatu. Dengan keluarga di mobil itu, misalnya."
"Jangan bicara seperti itu."
"Lalu bagaimana aku harus bicara?" Andi tertawa pendek tanpa senang. "Dan satu lagi. Pengawal yang bercerita kepada sopirku juga bercerita soal anjing. Kalau satu orang saja di rumah ini bicara ke polisi bahwa anjing itu ditaruh orang kita, kita habis, Ayah. Semua. Perusahaan, nama keluarga, Putri, Putra."
Rahman bersandar di kursinya. Ia sudah menghadapi banyak ancaman dalam hidupnya: pesaing, pejabat, wartawan. Ia tahu jawaban untuk semuanya.
"Tidak akan ada yang tahu," katanya. "Pengawal itu akan kuurus. Semua orang di rumah ini digaji lebih dari cukup untuk diam."
Andi memandang ayahnya lama. "Ayah selalu begitu," katanya pelan. "Mengurus. Membayar. Mengancam. Sampai sekarang."
Ia berdiri dan keluar. Kali ini ia menutup pintu dengan hati-hati, dan bunyi pelan itu terdengar lebih buruk daripada bantingan.
***
Malamnya Rahman pergi ke rumah belakang. Laila sedang duduk di sofa ruang utama dengan sebuah buku terbuka di pangkuan, tetapi matanya tidak bergerak membaca. Lani berdiri di dekat dapur.
Rahman duduk di sebelah cucunya, seperti dulu ketika Laila masih kecil. Ia ingin bertanya apakah Laila sudah makan, apakah kepalanya masih sakit, tetapi Laila mendahuluinya.
"Kek, ceritakan tentang ayahku."
Rahman terdiam. Bertahun-tahun Laila tidak pernah meminta itu. Ia hanya tahu apa yang diceritakan ibunya ketika umurnya lima tahun.
"Ayahmu anak sulung kakek," kata Rahman perlahan. "Randi. Pintar, keras kepala. Dia bertemu ibumu di desa. Kakek tidak setuju karena latar belakang ibumu. Kakek mengusir ibumu, dan ayahmu kabur ke desa untuk tinggal bersamanya."
"Lalu kakek menjemputnya."
"Kakek menyuruh orang menjemputnya. Ibumu sudah mengandungmu waktu itu, tapi kakek tidak tahu." Rahman menatap tangannya sendiri. "Kakek mengurung ayahmu di kamarnya. Kakek pikir kalau dia dijauhkan dari ibumu cukup lama, dia akan lupa. Kakek pikir itu untuk kebaikannya. Supaya dia aman."
"Lalu dia gantung diri."
Rahman memejamkan mata. "Iya."
Laila menutup bukunya. Ia tidak tampak sedih. Ia tampak seperti sedang menghitung sesuatu.
"Kakek mengurung ayah supaya aman, lalu ayah mati," katanya. "Kakek mengusir ibu supaya keluarga aman, lalu ibu dibakar warga. Kakek mengurungku di rumah belakang supaya aman. Kakek menaruh anjing di jalan supaya aku aman."
Rahman membuka mata. Kalimat-kalimat itu tidak diucapkan dengan marah. Laila hanya menjajarkannya, satu demi satu, seperti membaca daftar. Justru karena itu Rahman tidak bisa membantahnya.
"Aku tidak menyalahkan kakek," lanjut Laila. "Aku cuma melihat polanya."
"Kakek tidak tahu cara lain untuk menjagamu."
"Aku tahu." Laila menyandarkan kepalanya ke bahu kakeknya, kebiasaan lama yang ia lakukan karena kakeknya pernah bilang paling suka dipeluk. Rahman merangkulnya. Di bawah lengannya, tubuh cucunya terasa dingin.
"Waktu ibu datang membawaku ke rumah kakek, waktu aku masih bayi," kata Laila, "kakek menangis dan memeluk ibu. Ibu yang cerita. Ibu bilang dia bingung kenapa kakek menangis."
"Kakek menangis karena ayahmu sudah meninggal," jawab Rahman. "Dan karena kakek melihatmu, dan kakek tahu kakek yang membuatmu lahir tanpa ayah."
Laila diam memikirkan itu. "Ibu menolak tinggal di sini."
"Iya. Dan kakek membiarkannya pergi. Itu juga cara kakek menjaga diri."
Lama mereka duduk seperti itu. Dari jendela, Rahman bisa melihat lampu-lampu mansion yang menyala, tempat anak dan cucu-cucunya yang lain tidur dengan nyaman di atas uang yang tidak pernah ia tanyakan asalnya.
"Laila," katanya akhirnya. "Kalau kakek salah, kamu akan bilang?"
"Aku selalu bilang apa yang aku lihat, kek."
Rahman tersenyum, tetapi senyumnya tidak sampai ke mata. Cucunya benar. Laila tidak pernah berbohong kepadanya. Yang berbohong selama ini adalah dirinya sendiri.