Laila terbangun tepat ketika jam di dinding menunjukkan pukul satu. Perutnya terasa kosong sampai ke tulang. Lidahnya menyentuh taring yang sudah memanjang, dan bola matanya terasa panas seperti selalu terjadi setiap tengah malam sejak ulang tahunnya yang ketujuh belas.
Ia berjalan ke dapur. Lani sudah menunggu di sana, seperti setiap malam. Kepala pelayan itu menyalakan lampu kecil di atas meja makan, menarik kursi, lalu meletakkan piring berisi daging sapi mentah yang sudah dipotong-potong. Di samping piring ada segelas darah kental yang masih dingin dari lemari pendingin.
"Silakan, Nona."
Laila mengambil garpu dan menusuk potongan pertama. Bau manis itu datang seperti biasa, menyerbu hidungnya dan membuat liurnya mengalir. Ia mengunyah. Rasanya enak, seperti setiap malam.
Pada potongan ketiga, kepalanya memunculkan huruf itu lagi. A. Lima tahun. Demam sejak sore.
Lalu muncul sesuatu yang lain, sesuatu yang tidak ia ingat pernah lihat tetapi tiba-tiba ada di sana: bau manis yang sama persis, datang dari arah sebuah mobil di jalan yang gelap. Bau yang membuat tubuhnya berlari.
Laila memuntahkan daging di mulutnya ke piring. Ia terbatuk-batuk sampai matanya berair. Lani bergegas mengambil serbet dan air, tetapi berhenti satu langkah dari nonanya, menunggu.
"Tidak apa-apa," kata Laila. "Bawa pergi piringnya."
"Nona belum makan apa-apa."
"Bawa pergi."
Lani membawa piring itu ke pantri. Laila duduk diam di meja makan, kedua tangannya di pangkuan. Perutnya masih lapar, tetapi setiap kali ia membayangkan daging itu, dadanya terasa berat. Ia tidak tahu nama perasaan ini. Ia hanya tahu perasaan ini baru.
"Lani," katanya. "Tunggu di pintu. Jangan masuk, apa pun yang kamu dengar."
***
Laila kembali ke kamar dan duduk di tepi ranjang menghadap sudut dekat pintu kamar mandi. Lampu ia biarkan menyala.
"Moro," panggilnya. "Baro."
Udara di kamar menjadi dingin. Lonceng di kakinya berdenting pelan, lalu semakin cepat. Moro muncul lebih dulu, taringnya yang panjang berkilat di bawah lampu. Baro menyusul di sampingnya, membungkuk sopan seperti biasa. Tubuhnya lebih kurus dan lebih tinggi daripada Moro, dan matanya hanya berupa dua lubang gelap.
"Nona memanggil," kata Baro.
"Waktu perjanjian dulu, kalian bilang akan menjaga aku, melindungi aku, melayani aku, dan mematuhi perintahku," kata Laila. "Aku tidak pernah memerintahkan kalian membunuh keluarga itu."
Moro tertawa. Suara tawanya membuat telinga Laila berdengung, seperti dulu, ketika ia masih belum kuat. "Tumbal bukan perintah Nona. Tumbal adalah upah kami. Nona yang setuju membayarnya. Nona menggigit tangan Nona sendiri dan memberi kami darah, ingat?"
"Aku ingat."
"Kalau begitu Nona ingat syaratnya. Setiap gerhana matahari, ada tumbal."
"Kenapa tubuhku bergerak sendiri?"
"Karena Nona tidak bergerak," jawab Moro. "Kami menunggu Nona memilih. Nona tidur saja. Jadi kami pakai tubuh Nona sebentar. Bukankah enak? Nona tidak perlu repot."
Laila menatap Moro lekat-lekat. Iblis tidak punya pikiran yang bisa dibaca seperti manusia. Yang ia lihat di mata Moro hanya kelaparan, bulat dan gelap seperti sumur. "Kalau aku menolak membayar?"
"Nona sudah merasakannya semalam," kata Baro. Ia jarang bicara panjang, dan setiap katanya terdengar seperti diukur. "Itu baru sedikit. Kalau Nona menolak, kami ambil tubuh Nona seluruhnya. Untuk seterusnya."
"Seperti keluargaku yang menjadi gila."
"Atau lebih ringan," Moro menyeringai. "Mayat hidup yang kami gerakkan. Nona tetap bisa duduk di pangkuan kakek Nona. Hanya saja yang tersenyum kepadanya bukan Nona lagi."
Lonceng di kaki Laila berdenting keras. Ia merasakan sesuatu naik dari perutnya ke tenggorokan, panas dan pahit. Mungkin ini yang namanya marah. Ia menekan kedua tangannya ke kasur.
"Dan jiwaku," katanya. "Waktu itu kalian bilang jiwaku milik kalian. Kapan kalian mengambilnya?"
Kedua iblis itu diam sejenak. Itu pertama kalinya Laila melihat mereka diam bersamaan.
"Ketika Nona mati," jawab Baro akhirnya. "Atau ketika Nona menyerahkannya."
"Kalau aku menyerahkannya sekarang, apa kalian berhenti meminta tumbal?"
Moro tertawa lagi, lebih keras daripada sebelumnya, sampai lampu di langit-langit berkedip. "Untuk apa kami berhenti? Nona masih muda. Nona bisa hidup enam puluh tahun lagi. Enam puluh tahun gerhana! Kami bisa makan lama sekali. Jiwa Nona akan tetap menjadi milik kami di akhir, jadi untuk apa terburu-buru?"
Baro tidak ikut tertawa. Ia hanya memandangi Laila dengan dua lubang gelap di wajahnya.
"Kalau begitu dengarkan perintahku," kata Laila. "Mulai sekarang kalian tidak boleh menyentuh siapa pun di rumah ini. Kakek, paman, Putri, Lani, semua pelayan, semua pengawal."
"Itu perintah yang bisa kami patuhi," jawab Moro sambil membungkuk berlebihan, mengejek. "Selama upah dibayar, Nona."
"Ingatlah, Nona," tambah Baro. "Kami melindungi. Kami juga lapar."
Keduanya menghilang. Udara di kamar kembali hangat. Lonceng di kaki Laila berhenti berbunyi dengan sendirinya.
***
Lani berdiri di ambang pintu. Ia tidak masuk, persis seperti yang diperintahkan, tetapi pintu itu tidak tertutup rapat, dan wajahnya putih seperti kertas.
Selama bertahun-tahun ia sudah terbiasa melihat nonanya berbicara kepada sudut kamar. Ia terbiasa dengan hawa dingin dan bau busuk yang kadang lewat. Tetapi malam ini ia mendengar kata-kata nonanya dengan jelas, dan dari kata-kata itu ia bisa menebak apa jawaban yang tidak ia dengar.
"Nona," katanya pelan. "Siapa yang Nona ajak bicara tadi?"
Laila menoleh. Matanya masih menyala hijau dan taringnya masih panjang. "Yang memakan keluarga itu," jawabnya.
Lani menggenggam kusen pintu. Lututnya lemas. Tetapi ia tidak lari, seperti pelayan-pelayan lain dulu. Ia hanya berdiri di sana sampai napasnya kembali teratur.
"Nona masih lapar," katanya kemudian. "Saya bisa memasak sesuatu yang lain. Roti, mungkin. Atau bubur."
"Aku tidak bisa makan makanan biasa di jam begini."
"Kita coba saja, Nona."
Laila memandangi kepala pelayannya lama. Ia tidak membaca pikirannya. Ia hanya memandangnya. Lalu ia mengangguk.
Lani memasak bubur nasi dengan sedikit garam, mengaduknya pelan di panci kecil sementara nonanya duduk menunggu di meja dapur dengan taring yang masih panjang. Uap bubur itu mengepul. Laila memperhatikan tangan Lani yang mengaduk. Tangan itu masih gemetar sedikit, tetapi tidak berhenti mengaduk.
Bubur itu ia muntahkan juga pada suapan kedua. Tetapi Lani duduk di seberangnya di meja dapur sampai pagi, dan untuk pertama kalinya Laila tidak meminta pelayannya pergi.