Mia datang menjelang siang dengan tas dokter yang sama seperti bertahun-tahun lalu, ketika ia pertama kali dipanggil tengah malam untuk menolong seorang anak kecil yang muntah darah dan belatung. Rambutnya kini mulai beruban di pelipis, tetapi tangannya tetap cekatan.
Ia memeriksa tekanan darah Laila, matanya, denyut nadinya. Semuanya normal, kecuali tubuh Laila yang terasa lebih dingin daripada biasanya. Lalu Mia meminta Laila menunjukkan kakinya.
"Lani bilang kamu berlari cukup jauh semalam," kata Mia. "Sampai ke jalan raya di luar kompleks."
"Aku tidak ingat."
Mia memegang pergelangan kaki Laila dan membalik telapaknya. Kulitnya bersih. Tidak ada lecet, tidak ada debu aspal, tidak ada goresan semak. Gelang dengan tujuh lonceng itu melingkar di pergelangan kaki kiri, diam.
Mia lama menatap telapak kaki itu. Lani yang berdiri di belakangnya berbisik, "Kakinya tidak menyentuh tanah, Dok. Saya melihatnya sendiri."
Mia meletakkan kaki Laila kembali ke kasur dengan hati-hati. "Saya dokter," katanya kepada Laila. "Saya bisa menjaga tubuhmu tetap sehat. Saya bisa mengukur darahmu dan memastikan kamu makan cukup. Tapi yang ini," ia menunjuk telapak kaki itu, "saya tidak bisa menjelaskannya."
"Aku juga tidak bisa," jawab Laila.
"Kalau begitu kita sama-sama jujur." Mia tersenyum tipis, senyum yang lelah. Ia menulis sesuatu di buku catatannya, lalu meninggalkan beberapa vitamin untuk diminum pagi hari.
***
Suara Andi terdengar lebih dulu sebelum orangnya muncul. Ia berbicara keras dengan pengawal di depan rumah belakang, menuntut dibukakan pintu. Lani bergegas keluar. Laila tetap duduk di ranjang dan mendengarkan langkah pamannya yang berat di lorong.
Andi berhenti di ambang pintu kamar. Ia masih memakai kemeja kantor, dasinya miring, dan wajahnya merah. Sudah lama ia tidak menginjak rumah ini. Sejak hari ketika Laila bertanya kepada kakeknya apakah ia boleh membunuh pamannya sendiri, Andi selalu mencari alasan untuk tidak datang.
"Salah satu pengawal bercerita," katanya tanpa salam. Matanya tidak menatap Laila. Ia menatap Rahman yang baru saja masuk dari ruang depan. "Ayah tahu? Pengawal bercerita kepada sopirku. Mobil terbalik, satu keluarga mati, dan anak ini berdiri di tengah jalan."
"Pelankan suaramu," kata Rahman.
"Untuk apa? Supaya tetangga tidak dengar? Satu kota sudah membacanya di berita!" Andi menunjuk ke arah Laila, masih tanpa menatapnya. "Dari awal sudah kubilang, Ayah. Anak penyihir. Keluarga kita bisa kena sial. Sekarang bukan sial lagi, ini sudah pembunuhan."
Laila memandangi pamannya. Andi menolak menoleh, tetapi ketika ia mengayunkan tangan untuk menunjuk, matanya sempat terseret ke arah ranjang. Satu tarikan napas saja. Cukup bagi Laila.
Ia melihat rumah utama pada malam hari. Kamar Putri. Bayangan dirinya sendiri dengan taring berdiri di depan pintu kamar itu. Ketakutan Andi bukan tentang keluarga yang mati di jalan. Ketakutannya tentang anak perempuannya. Dan di bawah ketakutan itu ada sebuah pikiran yang sudah lama tersimpan, yang sekarang naik ke permukaan karena marah: kalau Ayah tidak mau menyingkirkan anak itu, aku sendiri yang akan melakukannya.
"Paman ingin aku mati," kata Laila.
Kamar itu hening. Andi akhirnya menoleh dan menatap keponakannya. Ia melihat dua bola mata hijau gelap yang tidak berkedip, dan ia mundur sampai punggungnya membentur kusen pintu.
"Aku tidak..."
"Paman memikirkannya barusan. Kalau kakek tidak mau menyingkirkanku, Paman sendiri yang akan melakukannya." Laila mengucapkannya seperti membaca kalimat dari buku. "Paman takut aku datang ke kamar Putri."
Lonceng di kakinya berdenting satu kali. Andi gemetar. Rahman maju dan berdiri di antara mereka, seperti bertahun-tahun lalu ketika ia membelai kepala Laila supaya lonceng itu berhenti berbunyi.
"Keluar, Andi," kata Rahman.
"Ayah dengar sendiri dia..."
"Aku dengar kau ingin membunuh cucuku. Keluar sekarang. Kita bicara di rumah utama."
Andi menatap ayahnya, lalu Laila, lalu ayahnya lagi. Ia pergi dengan langkah cepat. Pintu depan rumah belakang terbanting.
Rahman membelai kepala Laila. Lonceng berhenti. "Pamanmu sedang takut," katanya.
"Aku tahu. Aku melihatnya." Laila diam sebentar. "Takutnya masuk akal, kek. Aku memang bisa datang ke kamar Putri."
Rahman tidak menemukan jawaban untuk itu.
***
Sore hari Putri datang. Ia masih memakai kemeja putih dan rok hitam, rambutnya dikuncir dua dengan pita warna-warni seperti yang diwajibkan panitia ospek. Di lehernya tergantung kartu nama besar dari karton. Di tangannya ada satu kartu lagi.
Ia berhenti di pintu kamar dan tidak masuk sampai Lani menyiapkan kursi. Kursi itu ia geser sendiri ke dekat jendela, jauh dari ranjang. Ia duduk dengan lutut rapat dan menunduk.
"Hari ini hari pertama ospek," katanya. "Panitia memanggil namamu waktu absen. Aku bilang kamu sakit."
"Terima kasih."
Putri mengulurkan kartu karton di tangannya tanpa berdiri. Lani mengambilnya dan menyerahkannya kepada Laila. Di kartu itu tertulis besar-besar dengan spidol hitam: LAILA HAR. Di bawahnya nama fakultas dan sebuah gambar bunga yang lucu.
"Panitia yang buat," kata Putri. "Semua mahasiswa baru dapat. Harusnya dipakai di leher."
Laila memandangi namanya sendiri di karton itu. Ia jarang melihat namanya ditulis orang lain. Di rumah belakang, tidak ada yang perlu menulis namanya.
"Lil," kata Putri. Suaranya bergetar. Ia masih menunduk, menatap ujung sepatunya. "Aku dengar dari Papa. Soal semalam. Kamu sadar waktu itu?"
"Tidak."
"Kamu ingat wajah mereka?"
"Tidak. Aku ingat bau manis. Lalu aku bangun di jalan dan mobil itu sudah terbalik." Laila berhenti, lalu menambahkan, karena ia merasa Putri perlu tahu semuanya. "Ada anak kecil di dalamnya. Umurnya lima tahun. Dia sedang sakit."
Putri menutup mulut dengan kedua tangan. Bahunya naik turun. Laila memperhatikan sepupunya menangis dan bertanya-tanya bagaimana rasanya. Air mata Putri jatuh ke rok hitamnya dan meninggalkan bercak yang lebih gelap.
"Maaf," kata Putri di sela tangisnya. "Aku nggak bisa lama-lama. Aku takut, Lil. Aku takut banget."
"Kamu boleh pulang."
Putri berdiri. Ia melangkah ke pintu, berhenti, dan untuk sekejap seperti hendak menoleh. Lalu ia pergi tanpa menoleh, persis seperti pesan yang dulu diberikan ibu kepada Laila di rumah yang terbakar. Lari, jangan melihat ke belakang.
Kartu karton itu tinggal di pangkuan Laila. Ia membalik-baliknya. Kemudian ia meminta Lani membuka laci meja di samping ranjang, dan ia menyimpan kartu itu di sana, di bawah buku-buku pelajaran bahasanya.