Anggia menatap pria di depannya dengan rasa takut yang bercampur penasaran. Wajahnya tirus, dengan tatapan tajam yang tampak menyimpan sesuatu. Di dalam ruangan tua dengan dinding penuh coretan, pria itu berdiri di bawah cahaya lampu redup, memberikan kesan misterius yang membuat Anggia merinding.
"Siapa kamu sebenarnya?" tanya Anggia dengan suara gemetar.
Pria itu tersenyum tipis. "Namaku Anton," ucapnya pelan. "Aku seseorang yang dulu pernah dekat dengan Raka… seseorang yang mungkin seharusnya kamu tahu."
Anggia terdiam sejenak, mencerna kata-kata Anton. Banyak pertanyaan berputar di kepalanya. Apa hubungan Anton dengan Raka? Dan kenapa Raka tak pernah menyebut tentang pria ini?
"Apa maksudmu dengan 'dekat'? Apa kamu salah satu temannya?" tanya Anggia, mencoba mengendalikan rasa takutnya.
Anton menggeleng pelan. "Lebih dari sekadar teman, Anggia. Aku adalah kakak dari wanita yang pernah menjadi tunangannya. Namanya, Citra."
Nama itu seketika membuat d**a Anggia terasa sesak. Citra… wanita yang disebut Raka sebagai kekasih lamanya yang meninggal. Anggia mencoba untuk tetap tenang, namun pikiran dan emosinya berkecamuk.
“Raka pernah bercerita tentang Citra. Dia bilang kalian dekat,” kata Anggia, meski sebenarnya itu adalah sebuah kebohongan kecil. Raka tidak pernah menceritakan detail, hanya menyebut nama Citra dalam satu percakapan singkat.
Anton mengangguk. “Benar. Citra adalah adik kesayanganku, dan saat itu Raka adalah segalanya baginya. Mereka merencanakan hidup bersama, membangun masa depan. Tapi, semua berubah dalam satu malam.”
Tatapan Anton tampak jauh, seolah kenangan masa lalu membanjiri pikirannya. Anggia bisa merasakan betapa dalam luka yang disimpan pria ini. Ia menunggu dengan sabar, berharap Anton akan melanjutkan ceritanya.
“Citra meninggal dalam kecelakaan, tapi tidak ada yang tahu bagaimana kejadian itu benar-benar terjadi,” lanjut Anton. “Yang aku tahu hanyalah Raka yang terakhir bersamanya malam itu, dan keesokan harinya… Citra ditemukan tak bernyawa. Sampai sekarang, aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Polisi menyimpulkan itu kecelakaan, tapi aku selalu merasa ada sesuatu yang disembunyikan.”
Anggia terkejut mendengar penjelasan Anton. Cerita ini jauh berbeda dari yang pernah didengar dari Raka, seolah ada lubang besar dalam cerita yang selama ini dipercaya Anggia.
“Apakah… apakah kamu pernah membicarakan hal ini dengan Raka?” tanya Anggia, merasa bimbang antara ketakutan dan rasa ingin tahu.
Anton tertawa pendek, getir. “Aku mencoba beberapa kali, tapi dia selalu menghindar, seolah ingin menghapus semua yang pernah terjadi antara mereka. Dia bahkan menjauh dari keluarga kami, berhenti mengunjungi yayasan yang dulu mereka bangun bersama. Tapi aku tetap menyelidiki, mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku tidak pernah berhenti merasa bahwa ada sesuatu yang disembunyikannya.”
Anggia merasakan dadanya semakin sesak, dan pikirannya kacau balau. Jika benar ada sesuatu yang Raka sembunyikan tentang masa lalunya dengan Citra, maka hubungan mereka berdua pun mungkin hanya sekadar pelarian dari luka yang ia simpan.
“Kenapa kamu memberitahu aku semua ini?” tanya Anggia, suaranya bergetar. “Apa yang ingin kamu capai?”
Anton menatap Anggia dengan tatapan yang dingin. “Aku hanya ingin kamu tahu kebenarannya, Anggia. Aku tidak ingin ada orang lain yang tersakiti karena rahasia Raka. Jika dia benar-benar mencintaimu, seharusnya dia sudah lama mengakui semuanya, bukannya menyimpan kebohongan.”
Anggia menggigit bibirnya, mencoba meredam emosi yang berkecamuk. Di satu sisi, ia ingin marah pada Raka karena mungkin telah menyembunyikan masa lalunya yang kelam. Namun di sisi lain, ia masih mencintainya dan berharap ini hanyalah kesalahpahaman.
“Jadi, menurutmu… aku harus apa?” tanya Anggia, hampir tanpa suara. Ia merasa tersesat, tidak tahu harus percaya pada siapa.
Anton menatapnya dalam-dalam. “Kamu harus hadapi dia, Anggia. Tanyakan langsung pada Raka tentang apa yang sebenarnya terjadi. Jangan biarkan dirimu terjebak dalam kebohongan, seperti yang dialami Citra.”
Sepulang dari pertemuan itu, Anggia merasa seolah berada di dunia yang asing. Kepalanya penuh dengan segala macam pikiran dan perasaan yang sulit dijelaskan. Rasanya seperti berjalan di atas pasir hisap; semakin ia mencoba mencari kepastian, semakin ia tenggelam dalam ketidakpastian.
Malam itu, Anggia menghubungi Raka dan meminta bertemu. Raka terdengar sedikit bingung dengan nada serius Anggia, tetapi ia setuju untuk bertemu di taman tempat biasa mereka.
Saat bertemu, Anggia menatap wajah Raka yang begitu ia kenal dan cintai, namun kini terasa asing. Ia mencoba menguatkan hatinya, mengingat setiap kata yang diucapkan Anton sebelumnya.
“Mas… ada sesuatu yang harus kita bicarakan,” ucap Anggia akhirnya, menatap Raka dengan sorot mata penuh tuntutan.
Raka mengernyit, seolah tidak mengerti. “Ada apa, Gi? Kamu terlihat tegang. Ada yang mengganggu pikiranmu?”
Anggia menarik napas panjang. “Aku bertemu dengan Anton… kakak Citra.”
Ekspresi Raka seketika berubah. Wajahnya yang tadi tampak tenang mendadak tegang. Ia menundukkan pandangannya, seolah sedang menyusun kata-kata yang tepat untuk merespons.
“Kamu… bertemu Anton?” tanyanya pelan, dengan nada yang hampir tak terdengar.
“Ya,” jawab Anggia tegas. “Dan dia bilang banyak hal yang kamu sembunyikan dariku. Aku ingin tahu, Mas. Apa yang sebenarnya terjadi pada Citra?”
Raka terdiam lama. Matanya yang biasanya penuh kehangatan tampak kosong, seperti ada luka lama yang kembali menganga. Setelah beberapa saat, ia mulai bicara, suaranya berat dan penuh rasa penyesalan.
“Citra… dia adalah bagian dari masa laluku yang selama ini tidak bisa aku lupakan, Gi. Malam sebelum kecelakaan itu, kami bertengkar hebat. Aku… aku mengatakan hal-hal yang tidak seharusnya aku katakan, dan dia pergi dengan marah. Paginya, aku mendengar kabar bahwa dia kecelakaan, dan aku tidak pernah sempat meminta maaf.”
Anggia merasa hatinya teriris mendengar pengakuan Raka. Ia bisa melihat betapa luka itu masih membekas dalam diri Raka, menghantui setiap kenangan yang mereka lalui.
“Aku merasa bersalah seumur hidupku, Gi,” lanjut Raka. “Aku tidak ingin kamu tahu tentang ini karena aku takut kamu akan berpikir aku penyebab kematiannya.”
“Mas, kamu tidak bisa terus menyimpan ini sendirian,” kata Anggia, berusaha menahan air matanya. “Aku mencintaimu, dan aku ingin memahami siapa dirimu, sepenuhnya.”
Raka menatap Anggia dengan mata yang berkaca-kaca. “Aku juga mencintaimu, Gi. Tapi ada bagian dari diriku yang sulit aku lepaskan, dan kenangan itu selalu membuatku merasa… seolah aku tidak pantas bahagia.”
Anggia mengusap tangannya lembut. “Semua orang berhak bahagia, Mas. Termasuk kamu. Tapi hubungan kita harus dilandasi kejujuran. Aku akan selalu ada untukmu, tapi kamu harus berjanji tidak akan menyembunyikan apa pun lagi.”
Raka mengangguk pelan, lalu menarik Anggia ke dalam pelukannya. “Maafkan aku, Gi. Aku berjanji untuk membuka diriku sepenuhnya, demi kita.”
Malam itu, di bawah langit yang dipenuhi bintang, Anggia merasakan beban di hatinya perlahan mulai terangkat. Meski rahasia kelam masa lalu Raka kini telah terbuka, ia merasa telah membuat keputusan yang tepat untuk tetap bersamanya. Mereka akan melewati semua ini bersama, menghadapi setiap rintangan yang ada.
Namun, meski semuanya terlihat damai, Anggia tidak bisa menghilangkan perasaan bahwa ini mungkin belum sepenuhnya berakhir. Ada bayangan samar yang masih mengintai di balik kenangan Raka – sebuah misteri yang belum sepenuhnya terungkap.
Bersambung…